Senin , 13 Agustus 2018
Home » Artikel » Berita Tragedi Berdampak Buruk Bagi Anak

Berita Tragedi Berdampak Buruk Bagi Anak

Berita Tragedi Berdampak Buruk Bagi Anak

Berita Tragedi Berdampak Buruk Bagi Anak (Foto: dok. voa-islam.com)

Berita Tragedi Berdampak Buruk Bagi Anak  – Berita-berita tragedi begitu bersileweran di dunia maya dan kapan saja bisa dibaca oleh anak-anak. Jangan remehkan paparan berita tragedi itu terhadap si buah hati.

Dokter anak dari Rumah Sakit Anak Seattle, Washington, Megan Moreno mengatakan, dampak paparan berita tragedi di media pada anak-anak biasanya akan mengalami susah tidur.

Anak-anak juga bisa mengalami rasa sakit seperti pusing dan sakit perut, perubahan perilaku seperti kurang dewasa, atau yang paling buruk sampai pada tahap depresi dan kesedihan yang berlebihan.

Jika sudah seperti ini, sebaiknya orangtua melakukan konsultasi dengan dokter anak profesional.

Tentu saja, pesan usang ini tetap layak didengarkan. Setiap orangtua perlu aktif mendampingi anak-anak saat menerima informasi berita buruk dari media. Orangtua bisa membantu anak memberi ketenangan, dan meyakinkan anak berada di tempat yang aman.

Untuk itu, menjaga kebiasaan untuk menghabiskan waktu bersama menjadi sangat penting. Tragedi juga bisa memberikan kesempatan untuk keluarga berdiskusi sehingga sesama anggota keluarga bisa saling menolong.

Peneliti dari University of Southern California David Schonfeld mengatakan berbicara dengan anak-anak ketika dia merasa sedih sangat penting.

Masalahnya, kebanyakan orang yang menerima kabar buruk dari media, tidak memikirkan cara menceritakannya kepada anak-anak. Dari hasil rekomendasi yang disusun dalam JAMA Pediatrics, hal pertama yang harus dilakukan adalah bertanya sejauh mana informasi yang diketahui anak.

Hal ini perlu dilakukan agar orangtua bisa melakukan pengarahan ketika anak-anak memiliki miskonsepsi terhadap informasi yang diterimanya.

“Dengarkan mereka secara seksama dan gali apakah mereka punya pertanyaan soal informasi tersebut. Jawablah dengan jujur dengan fokus pada pertanyaan mereka dan tidak mencoba berspekulasi pada apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya.

Jika mereka menunjukkan rasa cemas akibat berita tersebut, jelaskan kepada mereka bahwa mereka berada di tempat yang aman sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

“Kebanyakan anak-anak merasa takut pada hal-hal yang tidak terduga. Hal ini karena orang dewasa sudah terbiasa membaca berita harian, sementara anak-anak tidak,” katanya.

Ada pun untuk anak-anak yang masih di bawah umur, visualisasi pada berita televisi mungkin akan membuat anak-anak takut. Anak kecil biasanya butuh bantuan untuk memisahkan fantasi dan realitas.

Mereka mungkin juga bakal mengalami masa-masa kemunduran dalam berperilaku, seperti ngompol atau mengisap jempol. Bersabarlah dan dukung anak-anak saat mereka memproses informasi.

Sementara, anak-anak yang sudah menjelang remaja mungkin akan lebih sulit mnghindari diri dari sumber berita. Perbanyaklah melakukan diskusi dan cukup melihat berita secara sekilas saja.

Anak yang lebih tua mungkin akan mengajukan lebih banyak pertanyaan tentang tragedi itu sendiri, seperti upaya pemulihan dan penyebab kejadian tersebut. Jika mereka memiliki pendapat tentang mencegah tragedi di masa depan, dengarkan gagasan bagus mereka. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates