Selasa , 21 November 2017
Home » Artikel » BLUE ZONES

BLUE ZONES

BLUE ZONES, Resep Baru Panjang Umur
Angka harapan hidup manusia di dunia terus meningkat. Saat ini diperkirakan rata-rata mencapai 72 tahun, naik dari 66,2 tahun pada 2004.

Meski begitu, angka harapan hidup orang Indonesia masih lebih rendah bila dibanding negara lainnya. Misalnya, Australia, rata-rata hidup penduduknya mencapai 81,98 tahun, Jepang, 83,91 tahun, dan Singapura 84,07 tahun dengan angka kematian terendah di dunia.

Sejumlah pakar kesehatan mengadakan pertemuan di Singapura baru-baru ini untuk membahas bagaimana mencapai umur panjang (longevity) dengan pendekatan yang disebut “Blue Zones”.

Pendekatan ini dimulai dengan melakukan penelitian pada lima daerah di dunia yang memiliki banyak penduduk usia 100 tahun ke atas yakni di Nicoya (Costa Rica), Ikaria (Yunani), Okinawa (Jepang), dan Coma Linda (California).

Dari penelitian tersebut ditemukan empat resep panjang umur, yakni:

  1. Move naturally
    artinya kita harus selalu bergerak fisik. Gerakan ini biasanya dilakukan dalam keseharian, seperti berjalan, berkebun, naik tangga, menggerakkan tangan untuk ambil barang, dan lainnya. Jadi pengertiannya bukan selalu olahraga, tetapi jangan duduk.
  2. Right outlook
    artinya secara umum berpandangan positif, optimis, dan tahu untuk apa kita hidup.
  3. Eat wisely
    yaitu makan sehat selalu, banyak sayuran lebih baik, dan jangan makan terlalu kenyang. Salah satu sarat makanan sehat adalah semua yang bisa hidup di tanah yang semua yang punya ibu.
  4. Connect
    artinya selalu berhubungan baik dengan sesama manusia. Perlu ada teman baik untuk tempat curahan hati (curhat), dan menjalankan agama dengan baik.

Selain itu, ditemukan pula bahwa untuk masyarakat sehat, jangan terpaku pada upaya preventif dan promotif pada orang per orang anggota masyarakat.

Lima jenis kegiatan harus dilakukan di masyarakat keseluruhan. Pertama, kebijakan publik yang peduli sehat, seperti membuat jalan, tata kota, letak pasar, dan lainnya. Kedua, lingkungan fisik yang bersahabat, yaitu pepohonan, dan mungkin kolam atau sungai yang bersih.

Ketiga, terbinanya hubungan sosial antarmasyarakat, ada waktu untuk anggota masyarakat secara berkala, bertemu, dan berbicara. Keempat, desain bangunan, mulai dari rumah, kantor hingga sekolah yang prosehat. Kelima, kepatuhan pada kehidupan keagamaan. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates