Senin , 20 November 2017
Home » Artikel » Butuh Kasih Sayang Untuk Merawat Lansia Alzheimer

Butuh Kasih Sayang Untuk Merawat Lansia Alzheimer

Butuh Kasih Sayang Untuk Merawat Lansia Alzheimer

Foto: dok. doktersehat.com

Butuh Kasih Sayang Untuk Merawat Lansia Alzheimer

Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia, DY Suharya sempat menganggap ibunya orang paling menyebalkan. Saat usia tua, sang ibu sering marah-marah, bahkan menuduh orang lain mencuri barang miliknya.

“Pembantu, sopir semua dipecat-pecatin karena dituduh mencuri. Jadi gejalanya ada drama di kehidupan masing-masing,” kata DY di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Ia pun memilih pergi ke luar negeri karena tak tahan berdekatan dengan ibunya. Saat itu, wanita yang akrab disapa DY ini tak tahu jika ibunya menderita alzheimer. Namun, setelah mengetahui penyakit yang diderita ibunda tercinta, DY kembali ke Indonesia untuk mengurus ibunya.

DY bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini. Banyak yang belum tahu gejala penyakit alzheimer yang menyebabkan kepikunan dan penurunan kemampuan mental ini. Akibat ketidaktahuan itu, sering terjadi kesalahpahaman ketika bertemu dengan penderita alzheimer.

“Jangan paksakan mereka dengan dunia kita. Terus diajak ngobrol. Kita harus berikan kasih sayang. Jangan merasa mereka adalah beban bagi kita,” terang DY.

Menurut DY memang tak semua orang atau keluarga sendiri mampu mengurus orang dengan demensia ini. Butuh kesabaran tinggi untuk mengatasinya. DY bersama keluarganya pun berbagi peran untuk mengurus ibunya sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Berikut beberapa cara mengatasi gejala perilaku alzheimer:

  1. Sulit tidur
    Jika penderita demensia sulit tidur, berilah aktivitas yang positif. Selain itu, batasi tidur siangnya dan lakukan higiene tidur. Higiene tidur merupakan cara mengatur sikap dan lingkungan agar mendapatkan tidur malam yang normal dan berkualitas. Misalnya, mengatur kebiasaan makan, minum, olahraga, dan nonton tv. Dari sisi faktor lingkungan, misalnya mengatur cahaya, suara, suasana, hingga suhu kamar.
  2. Perilaku berulang
    Penderita alzheimer suka melakukan perilaku berulang seperti mempertanyakan atau menceritakan sesuatu berulang kali. Untuk mengatasi hal ini, alihkan perhatiannya dengan aktivitas lain.
  3. Suka berkelana
    Penderita alzheimer sering “menghilang” dengan berjalan-jalan atau berkelana sendiri ke luar rumah. Atasi dengan membatasi akses ke luar rumah, berikan tanda pengenal, ciptakan pula lingkungan yang aman untuk bergerak di dalam maupun luar rumah.
  4. Buang air kecil dan besar sembarangan
    Jika penderita alzheimer melakukan hal ini, terus lah melatih mereka ke kamar mandi setiap hari.
  5. Halusinasi dan delusi
    Jika mereka mulai berhalusinasi, coba lah untuk menenangkan dan alihkan perhatian. Jangan menghadapinya dengan berdebat.
  6. Disinhibisi seksual
    Jika melakukan hal ini, sediakan lah ruang privasi. Berikan ia pakaian yang nyaman, tetapi sulit untuk dilepaskan sendiri.
  7. Agitasi atau agresi
    Agitasi merupakan suatu gangguan yang ditunjukkan dengan aktivitas motorik. Lindungi keamanan pasien, diri sendiri dan orang di sekitar. Lakukan pula persuasi dan komunikasi nonverbal.
  8. Perlu perawat khusus
    Mantan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pernah mengatakan, perlu tenaga perawat khusus untuk menangani penderita alzheimer. Menurut Nafsiah, banyak perawat yang belum paham mengenai penyakit alzheimer. Nafsiah mengatakan, sejumlah pelaku rawat telah dibekali pelatihan untuk menangani penderita alzheimer.
    “Membutuhkan perawat dengan talenta khusus untuk lansia dengan demensia. Jadi bukan sembarang perawat, tetapi yang punya hati dan sabar. Jadi mereka merawat dengan hati,” tambah Nafsiah. (RN)
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates