Tuesday , 12 December 2017
Home » Artikel » Terapi Paliatif Butuh Pendampingan

Terapi Paliatif Butuh Pendampingan

Menurut data World Health Organization (WHO), saat ini di dunia terdapat lebih dari 14,4 juta orang yang menderita kanker. Terbagi dari 53% wanita, 47% pria, dan 250.000 anak-anak.

Angka ini diperkirakan akan terus meningkat 2,88% pada 2020 menjadi 20 juta penderita. Jumlah penderita kanker terbagi dalam beberapa jenis, di antaranya 1,9 juta orang terkena kanker paru-paru, 1,7 orang terkena juta kanker payudara, 1,4 juta orang terkena kanker usus besar, 850.000 orang terkena kanker hati, dan 576.000 orang terkena kanker serviks. Penyakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia.

Dukungan penuh baik psikis, sosial, ataupun spiritual bagi pasien kanker merupakan bagian dari terapi paliatif yang bertujuan meningkatkan kualitas hidupnya. Bahkan terapi paliatif berpeluang meningkatkan harapan hidup pasien kanker 60-70%.

Divonis kanker tentunya menjadi mimpi buruk bagi semua orang. Betapa tidak, penyakit ini merupakan salah satu penyebab kematian terbesar di seluruh dunia, baik pada wanita maupun pria. Tak heran, harapan hidup seketika surut begitu penyakit ini menghinggapi tubuh. Namun justru pada saat seperti ini, dukungan penuh sangat dibutuhkan pasien kanker, baik dalam menjalani pengobatan maupun memompa semangat hidupnya.

Dukungan yang diberikan tentunya di samping bertujuan merangkul pasien, juga berupaya membuat hidupnya nyaman kendati tengah menderita penyakit serius. Sedianya perawatan paliatif bertujuan mengurangi rasa sakit dan keluhan lain yang mengganggu, menghargai kehidupan, dan menyambut kematian sebagai proses yang normal, tidak berusaha menunda atau mempercepat kematian.

Juga mengintegrasikan aspek psikologis dan spiritual dalam perawatan pasien, dan bersama dengan terapi lainnya yang ditujukan untuk memperpanjang usia seperti kemoterapi, termasuk membantu keluarga pasien menghadapi situasi selama masa sakit, dan setelah kematian pasien.

“Terapi ini diberikan sejak awal mulai si penderita kanker berhubungan dengan obat,” ujar dr Maria A Witjaksono MpallC, dokter paliatif dari Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dalam acara peringatan Hari Kanker Sedunia, Minggu di Auditorium Museum Nasional Jakarta yang diselenggarakan oleh Kalbe Ethical Customer Care (KECC) dan Indonesia Cancer Care Community (ICCC) bertemakan There is a “Can” in Cancer, beberapa waktu lalu.

Sengaja dipilih tema tersebut guna mengajak pasien kanker agar dapat menghargai kehidupan dan merasakan kualitas hidup yang lebih baik, walaupun sedang dalam kondisi kesehatan yang tidak baik. Terapi paliatif merupakan terapi yang diberikan kepada pasien kanker sejak awal, mulai dari pengobatan dengan obat, pendampingan keluarga, hingga penanganan oleh tim dokter spesialis.

Dengan menjalani terapi paliatif, biasanya dapat meningkatkan harapan hidup pasien kanker. Berdasarkan penelitian, angka harapan hidup pasien dapat meningkat hingga 60-70%. “Ini seperti pendekatan, apa saja yang dilakukan berupa psikis, sosial, dan spiritual sehingga pasien merasa punya kualitas hidup yang lebih. Dukungan dari keluarga, kekasih, sahabat, dan orang-orang terdekat benarbenar sangat berpengaruh terhadap pasien,” ungkap dr Maria.

Terapi paliatif berupaya memberikan dorongan positif bagi pasien. Dengan mendukung mereka agar tidak merasa putus asa dan terus berjuang untuk bertahan hidup. “Terapi ini sudah ada sejak 1965 di London. Indonesia mulai menggunakan terapi ini sejak 1993 karena saat itu sedang gencarnya penyakit kanker. Awal terapi ini di Surabaya, sekarang seluruh rumah sakit sudah ada terapi paliatif,” tutur dr Maria.

Para pasien harus beradaptasi dengan lingkungan dan tidak boleh menyembunyikan perasaan atau kesedihan. Mereka memang terlihat seperti tidak sakit, tapi kasih sayang dan dukungan menjadi obat ampuh daripada obat medis.

“Keluhan lain seperti komunikasi yang sulit dengan keluarga atau dokter, pengambilan keputusan, psikologis, dampak sosial, dan spiritual. Orang sakit kanker tidak boleh di tempat tidur, tapi harus bergerak,” ujarnya. Di antara jenis penyakit kanker yang ada, menurut dr Maria, pasien kanker payudara masih dapat bertahan hidup lebih lama.

Karena itu, dirasa penting bagi pasien kanker yang sedang menjalani pengobatan palitatif untuk diberi pendamping khusus, dalam hal ini berbentuk home care atau care giver. Hal ini dipandang dapat membantu pasien untuk lebih mengapresiasikan diri dalam menjalani keseharian. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates