Selasa , 17 Oktober 2017
Home » Artikel » Jadikan ‘Si Buyung’ Menjadi Pria Penuh Tanggungjawab Kelak

Jadikan ‘Si Buyung’ Menjadi Pria Penuh Tanggungjawab Kelak

Jadikan ‘Si Buyung’ Menjadi Pria Penuh Tanggungjawab Kelak –  Orangtua mana yang tidak ingin anak laki-lakinya tumbuh menjadi pria yang bertanggungjawab, penuh perhatian, dan percaya diri? Menjadi pertanyaan besar, bagaimana pola asuh agar si buyung tumbuh menjadi pria bertanggungjawab? Nah, simak apa saran para ahli berikut ini:

  1. Bantu anak mengelola emosinya
    “Stereotip yang beredar di luar tentang pria adalah sosok yang tegar dan terkendali, serta tidak pernah memperlihatkan perasaan,” kata Christine Nicholson, PhD, psikolog yang banyak menangani terapi untuk remaja di Kirkland, Washington. Riset menunjukkan, kebanyakan orangtua lebih sering bertanya pada anak perempuan tentang apa yang dirasakan dibandingkan kepada anak laki-lakinya. Hasilnya? Anak laki-laki akan cenderung malu memperlihatkan emosinya. Ia pun akan tumbuh menjadi pria yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, sehingga sulit menjalin relasi dengan orang lain.Karena itu, yang perlu dilakukan adalah ajari anak laki-laki untuk mengekspresikan perasaan, dan beri dukungan saat ia melakukannya. “Anak laki-laki cenderung berfokus pada masalah, bukannya emosi,” kata Dan Kindlon, PhD, salah satu pengajar di Harvard School of Public Health dan salah satu penulis Raising Cain: Protecting the Emotional Life of Boys. Setelah itu, ajak dia untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah sekaligus membuat perasaannya lebih baik.
  2. Ajarkan empati
    Memiliki empati yang besar membuat anak laki-laki dapat memahami orang lain dengan lebih baik, sehingga pada akhirnya mereka akan menjadi teman, suami, dan ayah yang baik di masa depan. Studi dari University of Michigan memperlihatkan, 40% mahasiswa sekarang memiliki kadar empati yang lebih kecil dibandingkan mahasiswa 20 tahun lalu. Dua penyebab utamanya menurut ahli adalah permainan video yang penuh adegan kekerasan sehingga anak tidak dapat memahami rasa sakit yang diderita orang lain, serta media sosial yang dipenuhi oleh “teman” virtual yang tidak pernah diajak berinteraksi di dunia nyata. Yang perlu dilakukan adalah mendorong anak untuk menempatkan dirinya dalam posisi orang lain. Ambil contoh dari kejadian yang ia alami sehari-hari. Saat ia bercerita betapa lucunya seorang teman sekolah yang terpaksa pulang tanpa sepatu karena sepatunya disembunyikan teman-teman lain, orangtua bisa bilang padanya, “Bayangkan kalau kamu yang dijahili oleh teman-teman seperti itu. Apakah kamu merasa lucu saat harus pulang tanpa sepatu?”“Butuh waktu untuk mengajari anak berpikir dari sudut pandang orang lain. Namun, jika orangtua tidak menyerah, anak akan tumbuh menjadi orang yang bisa mengatasi situasi emosinya dengan baik,” kata Dr. Kindlon.
  3. Kuatkan keyakinan dirinya
    Ketika seorang pria yakin akan kemampuan dan kualitas dirinya, bukan berarti dia sombong atau narsistis. Itu berarti dia merasa percaya diri, mampu, dan berharga di mata orang lain. Nah, bukannya ini yang diharapkan dari anak laki-laki Anda bukan? Karenanya, jangan biasakan memberi pujian palsu atau melebihi apa yang telah dicapainya. “Lebih baik pujilah usahanya ketimbang bakatnya,” kata Shari Young Kuchenbecker, PhD, Asisten Profesor di bidang Psikologi dari Chapman University di Orange, California. Studi dari Columbia University memaparkan, anak-anak akan merasa lebih puas dan lebih siap menghadapi tantangan bila mereka diberi pujian atas apa yang dilakukan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, biasakan bilang, “Kerja yang bagus!” ketimbang “Kami bangga padamu, Nak!”
  4. Tanamkan rasa hormat pada orang lain
    “Anak laki-laki yang tumbuh didampingi sosok yang tegas, mematuhi aturan, dan berinteraksi dengan cara yang baik, akan belajar bagaimana memperlakukan orang lain dengan hormat,” kata Michael Gurian, penulis buku The Purpose of Boys. Sifat menghormati orang lain ini akan terus dibawanya hingga dewasa, dan hal ini akan menunjukkan bagaimana anak laki-laki tumbuh menjadi pria yang bertanggungjawab. Cobalah tetapkan aturan di rumah soal cara bicara atau berperilaku yang baik, serta terapkan konsekuensi dengan tegas. “Bila orangtua terlalu memanjakan anak dan tidak tega menegurnya saat berperilaku kurang sopan, lama kelamaan anak cenderung meremehkan aturan yang telah ditetapkan. Mereka akan tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak peduli,” kata Gurian. Jangan lupa, orangtua di rumah pun harus memberi contoh yang baik, ya!
  5. Perlihatkan rasa sayang orangtua
    Sewaktu masih kecil, anak laki-laki masih senang jika dipeluk dan dicium. Tapi saat beranjak besar, ia mungkin tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi. Namun, jika orangtua ingin ia menjadi pria yang penuh kasih sayang, cobalah cari cara untuk mengungkapkan rasa sayang pada anak. Meski dia tampaknya gengsi untuk mengakui rasa senangnya. Bila ia mulai merasa malu bila orangtua mencium dan memeluknya di depan teman-teman, gantilah dengan membelai kepalanya sebelum ia tidur. Atau, beri pelukan sejenak saat ia tampak kecewa. (RN)
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates