Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Karakter Baik Halau Galau

Karakter Baik Halau Galau

Setiap orang bisa merasa galau. Tak terkecuali para lanjut usia. Galau itu diibaratkan sebagai perasaan yang tidak mengenakkan. Ternyata, galau memiliki keterkaitan erat dengan karakter seseorang. Faktanya, seseorang yang berkarakter baik, tidak akan mudah galau.

Menurut Dr. Felix Lengkong, psikolog, perubahan karakter itu berhubungan dengan tipe karakter seseorang. Ada dua macam karakter. Yaitu, watak dan ciri. Ciri itu biasa disebut karakter. Tapi ada karakter yang disebut watak yang diakibatkan oleh faktor-faktor genetis atau bawaan yang biasa disebut nature. Sementara ciri atau karakter itu disebabkan oleh faktor-faktor seperti pola asuh, pendidikan, pembelajaran, dan peristiwa traumatis. Faktor-faktor ini sering disebut lingkungan. Dalam bahasa Inggris disebut nurture.

Watak itu sulit sekali untuk berubah, paling-paling perubahan itu hanya terjadi dalam bentuk berkurangnya intensitas atau kadarnya. Contoh watak pemarah yang bertingkat 100 bisa berubah menjadi 70. Namun, karakter sebagai ciri itu bisa berubah dalam arti hilang sama sekali dan berganti dengan ciri yang lain. Misalnya dari pemarah menjadi penyabar.

Menurut teori perkembangan Erik Erikson (1902-1994) arah perkembangan manusia atau perubahan karakter itu mengikuti dua pola, yaitu pola adaptif atau positif dan pola maladaptif atau negatif.
Lansia (65 tahun ke atas) — yang dikatakan berhasil dalam manjalani hidup – biasanya akan merasakan keterpenuhan diri alias sense of fulfillment. Keberhasilan tidak selalu dikaitkan dengan keberhasilan material. Keberhasilan itu lebih kualitatif di mana lansia merasa bahwa ia berhasil melaksanakan tanggung jawab pribadi dan sosialnya. Cita-cita pribadi dan sosial telah terpenuhi. Segala pencapaian itu membuat ia menjadi lebih bijaksana di dalam respons terhadap hidup di hari tua.

Itulah yang disebut pola adaptif atau positif. Biasanya, orang tua yang mencapai tahap perkembangan seperti itu, ia menjadi orang tua yang memiliki sensitivitas yang bersifat altruistik. Ia peka akan kebutuhan atau kejadian yang dialami orang lain. Ia justru terus melayani di hari tua, selagi tenaga masih mampu.
Lain lagi dengan lansia yang berproses dalam pola negatif alias maladaptif. Banyak dari cita-cita dan harapannya tidak terpenuhi. Ia merasa hidupnya kurang berhasil. Akibatnya, ia bisa saja kecewa terhadap dirinya, pahit hidupnya, dan putus asa. Akibatnya, kepekaannya atau sensitivitasnya menjadi egotistik. Ia menjadi mudah marah jika ia mempersepsi bahwa orang tidak memperhatikannya, tidak mengindahkannya, tidak menganggap dia.

Sering orang keliru mengidentifikasikan masa tua dengan perilaku menjengkelkan yang disebut sensitif. Itu bisa terjadi karena hidup masa lalu (dewasa) sangat banyak masalah dan tak terpecahkan. Akibatnya, ketika melangkah ke masa tua (lansia), orang merasa gagal dalam hidup. Akibat lanjutan, di masa lansia, ia mengalami sensitivitas negatif alias sensitif secara egotistik.

Jadi, ada dua macam sensitivitas. Yang positif disebut sensitivitas altruistik dan yang negatif disebut sensitivitas egotistik. Yang pertama tampak dalam karakter bijaksana dan baik hati, sementara yang kedua tampak dalam karakter yang menjengkelkan.
Dapatkah karakter seseorang, khususnya para senior berubah? DR Felix menjelaskan, Pertama, tergantung pada penyebab terjadinya karakter itu. Jika karakter itu diakibatkan oleh pengaruh lingkungan seperti pola pengasuhan, pendidikan di sekolah, pengaruh lingkungan pertemanan, dan peristiwa traumatis, maka karakter tersebut bisa berubah. Karakter yang diakibatkan lingkungan (nurture) bisa secara alamiah sesuai tahap perkembangan. Misalnya, saat masih remaja seorang anak itu badung, tapi di saat menjadi dewasa dan setelah berkeluarga ia menjadi seorang bapak/ibu yang baik karena harus memberikan teladan bagi anak-anaknya.

Perubahan itu bisa juga terjadi melalui pembelajaran kembali (re-learning). Pembelajaran kembali itu dapat dilakukan melalui konseling. Jika karakter itu sudah melangkah ke tingkat gangguan atau kelainan, maka harus diubah dengan psikoterapi, yang kadang-kadang dibantu dengan obat-obatan.
Perubahan-perubahan semacam ini berlaku juga pada lansia. Kadang-kadang karakter seorang lansia itu sudah menjadi sangat mengganggu sehingga dibutuhkan psikoterapi untuk mengubahnya. Itulah sebabnya ada diagnosis senior schizophrenia, lansia yang ‘sinting’. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates