Selasa , 21 November 2017
Home » Artikel » Kelaparan Mikronutrisi Mengancam Senior

Kelaparan Mikronutrisi Mengancam Senior

Kelaparan mikronutrisi adalah kekurangan vitamin dan mineral. Walau tubuh tidak kurus, bukan berarti tidak kelaparan. Kondisi itu membuat orang kerap terkecoh dan mengabaikan kelaparan mikronutrisi.

Kelaparan makronutrisi mudah terlihat, seperti terlihat lemas, kulit membungkus tulang, mata cekung dan perut membuncit. Yang termasuk makronutrisi adalah karbohidrat, protein dan lemak. Kelaparan mikronutrisi sama bahayanya dengan makronutrisi.

Kelaparan mikronutrisi lebih terlihat pada jangka pendek. Sedang makronutrisi sebaliknya. Misal, kekurangan zat besi (Fe) akan mengakibatkan anemia. Selain lesu dan lemah, anemia memengaruhi kecerdasan.

Kekurangan yodium menyebabkan sakit gondok dan juga mengurangi kecerdasan. Banyak penyakit yang bermula dari mineral dan vitamin. Ada osteoarthtritis (OA), penuaan dini, mudah terinfeksi dan sebagainya.
Sebelum benar-benar terjadi kelaparan mikronutrisi, Anda perlu waspada jika Anda sering sakit kepala, pusing, migran, daya ingat berkurang, kurang konsentrasi, gemetar, gugup, kejang otot, mual, muntah dan kesemutan. Jangan-jangan Anda telah mengalami kelaparan mikronutrisi. Sebab, gejala-gejala itu adalah tanda-tanda kekurangan mikronutrisi.

Untuk mencegah kekurangan berkelanjutan segera perbaiki konsumsi mikronutrisinya agar terhindar kejadian yang fatal.
Sumber mikronutrisi
Sumber utama mikronutrisi kebanyakan dari sayuran dan buah-buahan yang mengandung vitamin dan mineral. Vitamin yang diperlukan di antaranya vitamin A, D, E, K, B dan C. Kekurangan vitamin C, misalnya akan meningkatkan risiko infeksi dan memanjangkan masa penyembuhan luka.

Sementara mineral berfungsi sebagai bahan baku kinerja enzim dalam tubuh, dan sebagai zat pengatur. Enzim adalah senyawa sejenis protein dalam tubuh yang berperan untuk meningkatkan laju metabolisme dan kesehatan tubuh.

Fungsi mineral sebagai bahan pendukung kinerja enzim dapat dilihat saat proses pembentukan tulang. Enzim creatine kinase yang berfungsi pembentukan tulang rawan membutuhkan mineral magnesium (Mg).

Sementara enzim alkaline phosphatase yang berfungsi membantu penyerapan kalsium di dalam tulang selama pertumbuhan tulang akan membutuhkan mineral zink (Zn).

Dari penelitian yang dikeluarkan HortScience, akibat tanah dan air terkena polusi, maka tanah dan air kini, dibanding 50-70 tahun lalu, mengakibatkan menurunkan kandungan mineral sebesar 5-40% di makanan, terutama sayuran.

Penelitian lain menyebutkan, sayur kol kini mengalami penurunan kandungan magnesium sebesar 60% dan sodium 85%. Kentang juga mengalami penurunan kadar kalsium sampai 30%, magnesium 25% dan potasium 36%.

Selain lingkungan yang memburuk, penyebab menurunnya mineral juga dikarenakan ulah manusia. Sistem penyimpanan dan pematangan paksa, perubahan varietas tanaman, persilangan spesifik yang berfokus pada kuantitas bukan kualitas.

Negara “Hijau”
Saat ini tengah dikembangkan pengindeksan negara terhadap lingkungan. Adalah Center for Environmental Law and Policy Yale University dan Center for International Earth Science Information Network (CIESIN) Columbia Economic Forum dan Joint Research Center of the European Commision yang coba melakukan pengindeksan keramahan suatu negara terhadap lingkungan, dengan EPI (Environmental Protection Index).

Negara “hijau” memiliki kondisi lingkungan yang baik dan terjaga sehingga kualitas mineral yang dihasilkan lebih baik. Ternyata, dari 163 negara berdasarkan skala 0-100, dengan 100 sebagai nilai tertinggi, Indonesia berada di urutan ke-134.

Menurut data itu, 12 dari 20 negara terhijau ada di Benua Eropa, dan 3 dari 5 negara Skandinavia (Islandia, Swedia dan Norwegia). Jepang sendiri berada di urutan ke-20.

Kriteria yang dinilai ada 25 yang mencakup di antaranya emisi karbon, output sulfur, usaha konservasi dan kemurnian air. Indeks ini dinilai tiap dua tahun sekali sejak 2006 lalu.

Di Indonesia sudah mudah ditemui pertanian organik. Pertanian itu tanpa zat kimia dan pestisida. Sayangnya, sayuran dan buah-buahan organik harganya masih mahal ketimbang pertanian biasa.

Perhatikan 3J
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harus memperhatikan 3J, jumlah jenis dan jadwal. Contoh, jika makan apel harus menghabiskan 8 butir apel tanpa dikupas kulitnya. Jika dikupas kulitnya, harus mengonsumsi 15 butir. Apel itu bukan dijus, tapi dikunyah biasa.

Sumber vitamin dan mineral bisa didapat dari susu. Kebutuhan 300 mg kalsium bisa tercukupi dengan minum segelas susu. Kalau mau mengonsumsi suplemen harus diatur, tidak boleh sembarangan. Sebab, kalau kebanyakan bisa mengganggu kerja liver. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates