Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Kenali Delusi dan Halusinasi Pada Lansia

Kenali Delusi dan Halusinasi Pada Lansia

Gejala utama penyakit kejiwaan Alzheimer termasuk halusinasi dan delusi, yang biasanya terjadi pada tahap demensia pertengahan, menurut Alzheimer’s Foundation of America. Sekitar 40 persen pasien demensia mengalami delusi, sementara halusinasi terjadi pada sekitar 25 persen kasus.

Diantini Ida Viatrie, S.Psi, M.Si, dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang mengatakan, rasa kesepian bisa memicu gangguan mental lainnya, tidak hanya untuk lansia, tapi juga yang muda usia. Itulah sebabnya, lingkaran sosial yang dekat dan akrab itu dibutuhkan siapa saja. Pada lansia kemungkinannya yang lebih besar bukan delusi, tapi perasaan sedih atau murung.

Diantini juga mengatakan bahwa perasaan dan pikiran yang muncul pada lansia dengan gangguan mental ini memang subjektif. Jika Anda melihat lansia yang sering mengeluh kemudian jadi sakit-sakitan, maka kemungkinan rasa kesepian memberi kontribusi pada kondisinya itu.

Beda delusi dan halusinasi
Halusinasi, delusi dan paranoia bukan gejala pertambahan usia, namun merupakan gangguan mental. Belum ada cara untuk mencegahnya, tapi bagaimana Anda merespon dapat membantu mencegah reaksi, seperti agresi, agitasi dan ledakan kekerasan dari penderita.

Delusi adalah sebuah keyakinan yang salah, tidak didukung oleh realitas, dan sering disebabkan oleh memori yang rusak. Misalnya, sering menyalahkan orang lain untuk pencurian dan perselingkuhan yang tidak dilakukan orang tersebut.

Halusinasi adalah pengalaman sensorik – visual, pendengaran yang sering terjadi ketika penderitanya bangun. Persepsi yang mereka lihat, dengar atau rasa tidak dapat dikoreksi oleh seseorang dengan mengatakan bahwa itu tidak nyata. Sedangkan, paranoia adalah pikiran yang terpusat pada kecurigaan akan sekitarnya.

Solusi
Delusi pada pasien demensia biasanya bersifat ringan dan disebabkan oleh masalah memori. Individu mengisi lubang di memori yang rusak dengan delusi yang masuk akal bagi mereka. Misal, mereka mengatakan, bahwa kunci tergantung di pintu padahal tidak. Ini karena mereka tidak ingat di mana mereka terakhir melihat objek tersebut.

Pahami bahwa lansia penderita delusi sebenarnya hidup di dunia yang tidak masuk akal dan mereka ketakutan. Jangan menuduh mereka atau menyesali keberadaannya. Sebaliknya, yakinkan mereka, tanpa mengajukan pertanyaan yang membuat mereka bertambah ragu terhadap diri sendiri. Jika mereka mencari suatu barang, katakan Anda akan membantu mereka menemukannya. Anda juga bisa menyimpan duplikat barang-barang yang biasa mereka hilangkan.

Jika mereka mulai mengeluh atau marah-marah karena sesuatu yang hanya ada dalam pikiran mereka, Anda bisa mengalihkan pikiran mereka dengan berkata, “Sebelum kita mencari barang itu (membahas masalah itu), mengapa kita tidak jalan-jalan dulu membeli es krim?”. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates