Selasa , 21 November 2017
Home » Artikel » Komunikasi Pada Lansia

Komunikasi Pada Lansia

Keterampilan Komunikasi Terapeutik Dalam Merawat Senior

Komunikasi menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Bagi penulis buku Potter & Perry, komunikasi adalah elemen dasar dari interaksi manusia yang memungkinkan seseorang untuk menetapkan, mempertahankan, dan meningkatkan kontak dengan orang lain.

Bagi para senior, komunikasi yang biasa dilakukan bukan hanya sebatas tukar-menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dan hubungan intim yang terapeutik. Berkomunikasi dengan senior tentu dibutuhkan kesabaran ekstra. Hal ini mengingat para senior kebanyakan adalah insan yang senang bercerita dan berbagi pengalaman.

Menurut Cutlip dan Center, komunikasi yang efektif harus dilaksanakan dengan melalui 4 tahap, yaitu:
(a) Fact Finding: Menyarikan dan mengumpulkan fakta dan data sebelum seseorang melakukan kegiatan komunikasi;
(b) Planning: Berdasarkan fakta dan data itu dibuatkan rencana tentang apa yang akan dikemukakan dan bagaimana mengemukakannya. Selanjutnya,
(c) Communication: Dalam melakukan komunikasi pada lansia sebaiknya menggunakan bahasa sehari-hari dan mudah dipahami serta dimengerti; dan
(d) Evaluation: Penilaian dan analisis kembali diperlukan untuk melihat bagaimana hasil komunikasi tersebut dan kemudian menjadi bahan perencanaan untuk melakukan komunikasi selanjutnya.

Sangatlah penting memiliki keterampilan komunikasi terapeutik, utamanya bagi para perawat bagi senior, yang meliputi:

  1. Memulai dan selama perbincangan harus menggunakan kata-kata yang sopan dan tidak terkesan menggurui senior.
  2. Berikan waktu yang cukup kepada senior untuk bercerita dan menerangkan berbagai hal. Misal tentang pemunduran kemampuan untuk merespon verbal.
  3. Biasakan gunakan kata-kata yang tidak asing bagi klien sesuai dengan latar belakang sosiokulturalnya. Sampaikan segala hal dengan tutur kata yang lembut.
  4. Bila bertanya, biasakan gunakan pertanyaan yang pendek dan jelas karena pasien lansia kesulitan dalam berfikir abstrak.
  5. Perawat dapat memperlihatkan dukungan dan perhatian dengan memberikan respon nonverbal seperti kontak mata secara langsung, duduk dan menyentuh pasien.
  6. Perawat harus cermat dalam mengidentifikasi tanda-tanda kepribadian pasien dan distres yang ada.
  7. Perawat tidak boleh berasumsi bahwa pasien memahami tujuan dari perbincangan itu.
  8. Perawat harus memperhatikan respon pasien dengan mendengarkan dengan cermat dan tetap mengobservasi.
  9. Lingkungan harus dibuat nyaman dan kursi harus dibuat senyaman mungkin.
  10. Lingkungan harus dimodifikasi sesuai dengan kondisi senior yang sensitif terhadap, suara berfrekuensi tinggi atau perubahan kemampuan penglihatan.
  11. Perawat harus sesering mungkin mengkonsultasikan komunikasi kepada keluarga pasien atau orang lain yang sangat mengenal pasien.
  12. Memperhatikan kondisi fisik pasien pada saat berkomunikasi. (RN)

 

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates