Selasa , 17 Oktober 2017
Home » Artikel » Masalah Tulang dan Otot Karena Salah Kebiasaan

Masalah Tulang dan Otot Karena Salah Kebiasaan

Masalah Tulang dan Otot Karena Salah Kebiasaan – Setiap orang pada dasarnya bebas saja menentukan gaya hidup. Namun, kebiasaan yang tak tepat dari gaya hidup bisa meningkatkan risiko kesehatan, termasuk masalah tulang dan otot.

Merokok, misalnya. “Nikotin dan tar yang terkandung di rokok membuat tubuh tidak mampu menyerap dan menyimpan kalsium,” ujar Yagya Khadka, dokter ortopedi di Nepal Orthopedic Hospital.

Padahal, lanjut Khadka, kalsium diperlukan untuk menjaga kesehatan tulang agar terhindar dari osteoporosis—tulang keropos—yang masalahnya kerap baru terasa saat usia mulai merangkak senja. Tak hanya itu, kalsium juga berguna untuk meminimalkan risiko timbulnya nyeri tulang, nyeri otot, dan lemah otot.

Data Kementerian Kesehatan tahun 2015 menyebutkan, 1 dari 4 wanita berusia 50-80 tahun di Indonesia menderita osteoporosis. Risiko perempuan menderita masalah degeneratif ini juga disebut 4 kali lebih besar daripada laki-laki, merujuk hasil riset International Osteoporosis Foundation.

Kebiasaan lain yang dapat pula menimbulkan masalah kesehatan tulang dan otot adalah terlalu banyak beraktivitas di dalam ruangan. Menurut Khadka, orang yang jarang beraktivitas di luar ruangan bakal minim terpapar sinar matahari, sehingga berisiko kekurangan vitamin D. Buat tubuh, vitamin D punya fungsi membantu penyerapan kalsium. “Kita perlu berjemur setidaknya 10 hingga 15 menit setiap hari untuk memperoleh jumlah vitamin D yang cukup,” ujar Khadka.

Berikutnya adalah urusan makan dan polanya. Kebiasaan makan berlebih cenderung menyebabkan obesitas alis kelebihan berat badan. Kondisi tersebut akan memberikan beban berlebih pada tulang, urat, dan ligamen—jaringan yang mengikat tulang pada persendian. Akibatnya, urat serta ligamen bakal rawan melemah dan otot menjadi lebih rentan terkilir, terutama di bagian kaki dan pinggang.

“Kaki, tumit, lutut, dan pinggang akan lebih sering mendapat tekanan (dari kelebihan berat badan) dibandingkan anggota tubuh lainnya,” kata Sharon Perkins, perawat di South Shore Hospital.

Karena itu, menjaga berat badan sangat dianjurkan oleh para praktisi kesehatan. Saat dirasa bobot itu sudah berlebihan, menurunkannya merupakan langkah bijak. Berdasarkan informasi dari Johns Hopkins Arthritis Center, setiap penurunan 0,45 kilogram berat badan, tekanan beban ke otot lutut akan berkurang 1,81 kilogram.

 Meski demikian, menjaga berat badan ideal juga tetap harus memperhatikan kecukupan asupan gizi. Untuk kesehatan tulang, sendi, dan otot, pastikan tubuh mendapat nutrisi dari makanan dan minuman yang mengandung protein, kalsium, magnesium, zink, serta vitamin C, D, dan E.

National Institutes of Health (NIH) Osteoporosis and Related Bones Diseases National Resources Center menyarankan susu dan produk turunannya—seperti yoghurt dan keju—untuk kebutuhan tulang dan otot tersebut.

Satu lagi kebiasaan yang juga memperbesar risiko memunculkan masalah tulang dan otot adalah kurang berolahraga. Riset mendapati, olahraga rutin—terutama oleh para wanita—terbukti meningkatkan kepadatan dan kekuatan otot dan tulang.

“Wanita yang berolahraga secara rutin umumnya akan memiliki nilai kepadatan dan kekuatan tulang lebih besar dibandingkan dengan yang jarang melakukan aktivitas fisik,” ungkap tim dari NIH pada Mei 2015.

Lebih dari itu, latihan fisik dapat menjaga keseimbangan tubuh. Alhasil, kecenderungan untuk jatuh dan mengalami patah tulang pun menjadi lebih kecil. Tak perlu latihan terlalu berat, berolahraga ringan selama lebih kurang 30 menit setiap hari pun sudah cukup. Beberapa jenis latihan fisik seperti berjalan cepat, jogging, tai-chi, atau aerobik bisa menjadi pilihan.

Tidak salah memilih kebiasaan dan gaya hidup pada akhirnya akan menjaga kemampuan badan beraktivitas, termasuk meminimalkan risiko masalah tulang, otot, dan persendian. Bila kebiasaannya sudah benar, pertambahan usia pun tak lagi jadi masalah. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates