Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Memahami Pola Asuh Balita

Memahami Pola Asuh Balita

Bagaimana anak tergantung orangtuanya. Ini bukan sekadar pameo semata, tapi fakta telah membuktikan. Harus dipahami bahwa pola asuh anak balita sangat berpengaruh terhadap karakter yang akan dimiliki anak.

Sebagai orang tua sudah pastinya menginginkan hal yang terbaik buat anaknya, namun diluar sana masih banyak orangtua yang masih merasa kebingungan bagaimana cara kita menghadapi anak balita yang dimana pada seusia ini keinginan anak sangat besar.
Disinilah peran orangtua untuk mengarahkan anak.

Berikut 11 tuntunan dalam pengasuhan anak balita:

  1. Harus disertai kasih sayang
    Di usia balita, seorang anak sudah dapat merasakan apakah ia disayangi, diperhatikan, dan dihargai atau tidak. Ayah dan bunda dapat menunjukkan kasih sayang secara wajar sesuai umur anak. Dengan mencium, membelai atau berkata lembut, hingga anak merasa ia memang disayang. Pencurahan kasih sayang ini harus dilakukan konstan, tulus, dan nyata sehingga balita benar-benar merasakannya.
  2. Tanamkan kedisiplinan yang membangun
    Perlu memberlakukan peraturan yang tidak berkesan serba membatasi kegiatan balita. Hal ini akan menjadi pedoman bagi balita, hingga ia mengerti perilaku apa yang diperbolehkan dan mana yang tidak. Juga mengenalkan anak pada disiplin. Dengan itu ia diharapkan bisa mengendalikan diri sekaligus melatih tanggung jawab pada dirinya.
  3. Luangkan waktu bagi kebersamaan
    Manfaatkan waktu bersama anak, kebersamaan dengan anak merupakan satu hal yang sangat penting dalam pengasuhan balita. Dari sini akan tercipta lingkungan serta suasana yang menunjang perkembangan balita. Orangtua bisa menggunakan waktu tersebut dengan bermain bersama, berbincang-bincang, melatih keterampilan sehari-hari, dan sebagainya dan hindari menonton TV bersama.
  4. Ajarkan salah-benar/baik-buruk
    Hal yang dapat diajarkan adalah nilai-nilai yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Misalnya, norma atau aturan di sekolah TK/PAUD yang berlaku. Hal ini sangat diperlukan supaya anak mudah menyesuaikan diri dengan orang lain. Mintalah anak berlaku ramah dan jujur serta melarangnya menyakiti orang lain dengan pejelasan sebab akibatnya sehingga balita dapat memahami kenapa perbuatan menyakiti tidak boleh dilakukan sedangkan sikap ramah diperlukan.
  5. Kembangkan sikap saling menghargai
    Sikap saling menghargai bisa dicontohkan. Bila orangtua berbuat salah, maka jangan segan untuk meminta maaf kepada anak. Kelak ketika anak berbuat salah, dia pun tak segan lagi meminta maaf. Orangtua yang menghormati anaknya akan merangsang anak untuk saling menghargai dan menghormati sama siapa saja.
  6. Perhatikan dan dengarkan pendapat anak
    Jika anak punya pendapat, maka dengarkanlah dan berikan anak perhatian tanpa berusaha untuk mempengaruhinya. Bila perlu sanggahan, maka kemukakanlah pendapat Anda dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh anak. Hal ini akan membuat hubungan ayah, ibu serta anak akan menjadi lebih akrab, sehingga anak bisa menyatakan perasaannya. Termasuk perasaan senang dan tidak senang, baik dan buruk perasaan anak bisa disampaikannya dengan baik, tanpa takut kehilangan kasih sayang dari orangtuanya.
  7. Membantu mengatasi masalah
    Anak butuh bimbingan ketika menghadapi masalah, namun orangtua jangan sekali memaksakan pendapat untuk diterima oleh anak. Pahami dulu masalahnya sesuai sudut pandang anak serta berikan beberapa pendapat dan dorongan untuk memilih yang sesuai dengan keadaannya.
  8. Melatih anak mengenalkan diri sendiri juga lingkungan
    Ajaklah anak mengenal dirinya sendiri. “Saya ini anak perempuan” atau “Saya adalah anak laki-laki”. Lalu mengenalkan orang-orang yang ada di sekitarnya seperti, ada ibu, bapak, kakek, nenek, paman dan lainnya. Dengan itu, semakin lama pengenalan anak akan semakin luas . Anak juga perlu dilatih mengenal emosi dan cara menyalurkan emosi yang baik supaya tidak menyakiti dirinya sendiri ataupun orang lain.
  9. Mengembangkan kemandirian anak
    Rangsanglah inisiatif dan berikan kebebasan anak untuk mengembangkan dirinya sendiri. Berikan anak kesempatan untuk mengerjakan sesuatu menurut apa yang mereka inginkan. Tentu kegiatan yang dilakukan anak tidak bertentangan dengan norma masyarakat yang ada. Untuk memupuk inisiatif pada anak, beri anak pujian atas apa yang telah berhasil dilakukannya dan bukan malah mencelanya.
  10. Memahami keterbatasan pada anak
    Setiap individu, termasuk anak, pasti mempunyai kelebihan dan kekurangan. Orangtua hendaknya jangan menuntut banyak melebihi kemampuan anak. Yang tak kalah pentingnya, jangan pernah membanding-bandingkan anak yang satu dengan anak yang lainnya.
  11. Menerapkan nilai agama di keseharian
    Nilai-nilai agama sangat perlu diajarkan sejak usia dini sekaligus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari anak. Cara yang paling baik, beri contoh dan minta anak berlaku sama. Misalnya membaca doa sebelum melakukan pekerjaan apa pun, memaafkan kesalahan dari orang lain, mensyukuri semua nikmat yang diberikan oleh Tuhan dan lain sebagainya. (RN)
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates