Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Membangun Komunikasi yang Efektif Dengan Anak

Membangun Komunikasi yang Efektif Dengan Anak

Membangun Komunikasi yang Efektif Dengan Anak – Bagaimana komunikasi Anda dan anak-anak? Apakah komunikasi hanya berjalan satu arah dari Anda sebagai orangtua kepada anak, atau terjadi dua arah?

Psikolog keluarga Anna Surti Ariani, Psi, mengungkapkan bahwa idealnya komunikasi dalam keluarga ini berjalan dua arah, dari orangtua ke anak dan dari anak ke orangtua. Namun, banyak keluarga yang hanya menerapkan komunikasi satu arah, yaitu dari orangtua ke anak.

“Karena komunikasi tak lancar dan hanya berjalan satu arah, banyak anak yang malas ngobrol dengan orangtua tentang masalah mereka,” jelas Anna. Untuk menciptakan komunikasi dua arah yang menyenangkan, ada trik yang bisa dilakukan.

1. Bersedia Mendengarkan
Anna mengungkapkan bahwa sampai saat ini Indonesia masih menerapkan budaya yang menjadikan posisi orangtua lebih tinggi daripada anak, sehingga anak harus menuruti semua perintah orangtua. Aturan ini tidak salah jika dimanfaatkan dengan tepat. Namun, seringkali budaya ini “dimanfaatkan” orangtua untuk memaksakan kehendaknya pada anak, sekalipun si anak tak suka.

“Dalam berkomunikasi, seharusnya orangtua juga harus mau dan bisa mendengarkan keinginan dan apa yang dirasakan anak-anak mereka. Dengan demikian, kedekatan anak dan orangtua akan terjalin dan saling memahami satu sama lain,” tambahnya.
Orangtua yang tak pernah mau mendengar keinginan dan permintaan anak akan membuat anak merasa tertekan lalu mencari pelarian yang sifatnya negatif.

2. Beri Pertanyaan Yang Tepat
Sering berkumpul bersama bukan jaminan komunikasi orangtua dan anak terjalin baik. Seringkali saat berkumpul, suasana masih terasa kaku karena tidak ada obrolan yang panjang dan bermakna, yang terjalin di antara semua pihak. Sesekali mungkin hanya terdengar obrolan pendek dan terputus-putus. Misalnya, “Bagaimana hari ini?”, lalu anak hanya menjawab singkat, “Baik”.

Obrolan seperti ini tidak bisa dikategorikan sebagai komunikasi yang bermakna. Jika salah satu anggota keluarga Anda ada yang bersikap seperti ini (menjawab dan bertanya seadanya), maka Anda harus bisa memancing mereka untuk bercerita lebih banyak. Dengan demikian Anda bisa melihat perkembangan diri, cara anak bersosialisasi, dan lain-lain. Misalnya, “Tadi kata bu guru kamu menang lomba di sekolah, memangnya kamu bikin apa sih? Ceritain mama, dong.”

3. Lihat Kondisi
Ketika mengajak anak atau keluarga ngobrol, ada baiknya untuk melihat kondisi mereka terlebih dulu. Ketika suasana tidak kondusif, otomatis komunikasi yang terjalin juga tidak akan maksimal. Alih-alih menjawab pertanyaan Anda, anak justru kesal karena diberondong berbagai pertanyaan.

“Jangan ajak anak ngobrol saat mereka sedang lelah atau habis bepergian. Beri mereka waktu untuk beristirahat dan menenangkan pikiran,” jelasnya.

4. Selingi Dengan Camilan
Agar suasana ngobrol jadi lebih santai dan tenang, tak ada salahnya untuk menghadirkan camilan dan minuman segar untuk disantap saat ngobrol. Anna mengungkapkan bahwa makanan dan minuman bisa menjadi senjata ampuh untuk memecahkan kebekuan saat ngobrol.

5. Perhatikan Posisi Tubuh
Saat pertanyaan sudah tepat, camilan sudah disiapkan, dan anak dalam kondisi yang santai, mengapa komunikasi masih tidak lancar? Hmm… mungkin saja posisi tubuh Anda yang jadi penyebabnya.

“Jangan salah, posisi tubuh Anda saat sedang bicara ke anak juga akan memengaruhi psikologis anak. Ketika ingin ngobrol penting, jangan sesekali Anda berbicara sambil berdiri, terutama saat ia duduk. Posisi tubuh seperti ini diasumsikan sebagai posisi tubuh yang mengancam lawan bicara,” katanya. Sebaiknya, Anda dalam posisi duduk dan merangkulnya. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates