Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Menjadi Penyintas di Usia Emas

Menjadi Penyintas di Usia Emas

Hidup tidak selamanya berjalan mulus. Ada riak dan gelombang yang kerap dihadapi tiap insan. Tidak heran, banyak keterpurukan yang dialami, baik secara pribadi ataupun orang-orang di sekitar kita. Di usia emas, sudah saatnya Anda menjadi sosok penyintas (survivor).

Seorang penyintas selalu mampu melewati masa-masa sulit. Bahkan, ia bisa menjadi advisor, tapi juga solution maker bagi orang lain. Beberapa hal yang dimiliki seorang penyintas di antaranya:

1. Meyakini adanya sesuatu yang lebih besar dari dirinya
Seseorang yang memiliki pandangan demikian umumnya kalau depresi tidak akan separah dengan orang yang tidak memiliki pemahaman seperti ini. Orang ini mampu melihat diri sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar yang dapat memberikan dukungan saat kita berada dalam posisi terpuruk. Keyakinan semacam ini mungkin bersifat spiritual, agamais, atau filosofis. Istilah kekuatan yang lebih tinggi dapat diinterpretasikan secara individual, tetapi kebanyakan orang beragama mengartikannya sebagai Tuhan.

2. Kemampuan untuk melihat kompleksitas peristiwa
Dengan kemampuan melihat kompleksitas peristiwa dalam mengubah perspektif kita. Misalnya, rasa bersalah dapat berubah menjadi menyesal, atau kecemasan menjadi kekhawatiran. Dalam tulisan terkenal The Serenity Prayer dikatakan, bahwa kita memohon bantuan untuk mengubah apa yang bisa diubah, untuk menerima apa yang tidak dapat diubah, dan memiliki kearifan untuk mengetahui perbedaannya.

3. Kemampuan untuk menahan rasa tidak nyaman
Beberapa musibah atau krisis hidup acap kali memunculkan ketakutan yang berakar dari rasa penolakan dan ditinggalkan. Penyintas lebih baik mencoba untuk menempatkan peristiwa bermasalah ke dalam perspektif dirinya daripada terlarut terus dengan kecemasan, kesedihan, atau kemarahan. Ini berarti kita memikirkan masalah dengan cara mencoba untuk kurang reaktif secara emosional meskipun perasaan tersebut masih ada.

4. Kemampuan untuk melihat peristiwa dalam suatu kerangka waktu
Jika kita meyakini bahwa penderitaan hari ini akan terus bersama kita sepanjang waktu, kita telah menentukan diri sendiri untuk merasa tak berdaya dan putus asa. Pengetahuan bahwa waktu akan menyembuhkan dan memulihkan adalah salah satu keyakinan yang dapat membuat kita akan melalui suatu periode buruk. Perjalanan waktu memungkinkan kita untuk bekerja melalui emosi, menerima krisis, dan membuat akomodasi yang diperlukan dalam hidup kita.

5. Kemampuan mengenali kekuatan pikiran untuk pemulihan
Viktor Frankl menyatakan: “Jika seseorang tidak dapat mengubah situasi yang menyebabkan penderitaan baginya, ia masih bisa memilih sikapnya”. Ini merupakan pernyataan kuat yang menunjukkan bahwa cara kita memandang suatu peristiwa bisa menjadi keterampilan mengatasi yang sangat luar biasa. Kemungkinan untuk bertahan hidup lebih mungkin terjadi apabila kita menggunakan pikiran optimis akan terjadinya pemulihan daripada memperpanjang rasa sakit.

6. Kemampuan menyusun rencana
Ketika kita mulai memikirkan rencana, kita tengah mengambil langkah besar menuju pemulihan. Pada awalnya, rencana kita harus fokus pada sesuatu yang spesifik dan dapat dicapai. Menurut Maslow, kebutuhan dasar harus dipenuhi sebelum kebutuhan berikutnya dapat diatasi. Hal ini relevan dalam membantu seseorang mendapatkan hal-hal secara terorganisir dalam suatu krisis. Perencanaan merupakan tanda pemulihan yang sehat karena menunjukkan bahwa perasaan ketidakberdayaan berkurang. Kita tidak lagi merasa putus asa seperti yang pernah dialami. Intensitas emosi kita dan kita tengah bergerak maju.

7. Keyakinan pada kepanjangan akal
Kepanjangan akal adalah menggunakan kemampuan diri untuk menemukan solusi dari masalah kita. Ketika dilanda stres, kita sering merasa tak berdaya dan meyakini kita tidak mampu mengatasinya. Kunci untuk mengatasi adalah dengan cara memilih untuk berpikir tentang diri—sebagai seorang penyintas, bukan korban. Penyintas melihat pada berbagai kekuatan dan keterampilan yang telah membantu mereka di masa lalu dan mencoba untuk menerapkannya pada situasi mereka saat ini. Itu sebabnya tidak salah pandangan yang mengatakan bahwa beberapa pengalaman pahit di masa lalu justru merupakan modal yang menguatkan diri untuk menghadapi masalah lain di hari kemudian. Kekuatan batin mengacu pada sikap dan sistem keyakinan kita. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates