Selasa , 17 Oktober 2017
Home » Artikel » Penyakit Alzheimer dan Ketahanan Keluarga (bagian 9)

Penyakit Alzheimer dan Ketahanan Keluarga (bagian 9)

Penyakit Alzheimer dan Ketahanan Keluarga

Penyakit Alzheimer dan Ketahanan Keluarga (Foto: dok. mynet.com)

Penyakit Alzheimer dan Ketahanan Keluarga (bagian 9) – Keluarga yang memiliki lansia penderita alzheimer dituntut memiliki kesabaran dan ketekunan yang ekstra dalam merawatnya. Rawatlah penderita alzheimer dengan penuh kasih sayang, karena penderita biasanya tidak bisa ditinggal sendiri dan harus didampingi.

Mendampingi lansia sehat saja kadang-kadang tidak gampang, apalagi lansia dengan kebutuhan khusus. Bagi keluarga mampu bisa jadi dapat membayar tenaga perawat semacam caregiver. Namun bagi keluarga lansia yang tidak mampu biasanya anggota keluarga secara bergantian merawat lansia tersebut.

Pada tahun 2003, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari 1 milyar orang tua yang berusia diatas 60 tahun atau 10 persen dari seluruh penduduk dunia menderita penyakir Alzhaimer ini. Dari yang hanya 2,5 juta pada tahun 1950-an. Dengan demikian jumlah penderita dari tahun ke tahun prosentasenya terus meningkat.

Ada 10 gejala umum Demensia Alzhaimer, sehingga dapat menjadi deteksi dini apabila kita menemukan anggota keluarga atau teman kita sehingga kita dapat segera mungkin mencegahnya, yaitu: 1. Gangguan daya ingat 2. Sulit fokus 3. Sulit melakukan kegiatan yang familiar, seperti mandi, menggosok gigi, memakai sepatu dan lainnya 4. Disorientasi, seperti bingung menentukan waktu/tanggal, bingung dimana mereka berada, tidak tahu jalan pulang, bingung bagaimana bisa berada di suatu tempat. 5. Kesulitan memahami visuaspasial, seperti sulit membaca, sulit mengukur jarak, sulit menentukan arah, sulit membedakan warna, tidak mengenali wajah sendiri di cermin, menabrak kaca saat berjalan, tidak dapat menuangkan air di gelas atau tumpah. 6. Gangguan komunikasi 7. Menaruh barang tidak pada tempatnya 8. Salah membuat keputusan 9. Menarik diri dari pergaulan 10. Perubahan perilaku dan kepribadian.

Meski demikian, penyebabnya belum dapat dipastikan. Dari hasil bedah otak yang dilakukan dr. Alois Alzheimer yang juga dianggap penemu penyakit tersebut pada tahun 1906, diketahui terdapat kerusakan jaringan dan sel sel syaraf di otak sehingga penderita mengalami penurunan fungsi otak yang mengatur ingatan, kemampuan menggunakan bahasa, dan presepsi terhadap ruang dan waktu termasuk memampuan mengenali lingkungan sekitar. Penderita pada akhirnya tidak mampu merawat diri sendiri.

Penelitian mutakhir menemukan bahwa selain keturunan, faktor diet daging, kurang buah-buahan dan sayuran pun juga berperan. Demikian juga gangguan seperti darah tinggi, penyumbatan pembuluh darah arteri, dan gangguan kardiovaskuler lainnya. Selain itu tingginya kadar alumunium di dalam otak, paparan seng, virus, dan keracunan makanan diduga juga merupakan faktor pencetus, walau belum ada penelitian yang konklusif. Begitupun asumsi adanya trauma otak akibat kecelakaan maupun perang disinyalir merupakan faktor penyebab kerusakan jaringan otak.

Di AS ada data yang menyebutkan 10% penduduk berusia 65 tahun keatas menderita Alzheimer, dan hampir 50% lansia di atas 85 tahun merupakan kelompok penyandang risiko. Tingkat kesehatan dan Angka harapan hidup di Indonesia sudah menunjukkan peningkatan yaitu sekitar 73,7 tahun (Data BPS). Dampaknya kemungkinan risiko penyakit pada lansia juga secara kuantitatif juga akan semakin meningkat, termasuk demensia dan penyakit Alzheimer. Oleh karenanya perlu adanya perhatian dari pemerintah maupun elemen atau organisasi masyarakat dalam mewadahi perlunya peningkatan kesehatan lansia. (RN)

[su_highlight]BACA JUGA: Kupas Tuntas Penyakit Alzheimer/Demensia[/su_highlight]

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
  10. Bagian 10
  11. Bagian 11
  12. Bagian 12
  13. Bagian 13
  14. Bagian 14
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates