Senin , 13 November 2017
Home » Artikel » Phaco Emulsifikasi, Benderangkan Penglihatan

Phaco Emulsifikasi, Benderangkan Penglihatan

Indonesia menempati peringkat kedua setelah Ethiopia, negara yang paling banyak penderita kataraknya. Bahkan di kawasan Asia Tenggara, Indonesia berada di urutan pertama.

Menurut General Affairs Manager PTT Exploration and Production Public Company Limited (PTTEP) Afiat Djajanegara, dari per 2 juta penduduk Indonesia, 1,5 persennya adalah penderita katarak. Bahkan setiap tahunnya, 240.000 orang terancam mengalami kebutaan dan lebih dari 50 persen disebabkan oleh katarak.

“Penyakit katarak merupakan gangguan penglihatan yang paling dominan dialami oleh para lanjut usia (lansia). Banyak penderita katarak yang enggan melakukan operasi karena biayanya yang cukup mahal,” ucap Afiat, beberapa waktu lalu.

Selain karena faktor usia, paparan sinar ultraviolet (UV) juga menjadi penyebab utama penyakit katarak pada mata.
Sejauh ini teknik operasi katarak dengan cara Phaco Emulsifikasi mejadi teknik operasi yang dinilai paling pas untuk menghilangkan katarak. Teknik ini terbilang cepat dan aman.

Teknik baru
Dalam dunia kedokteran, telah berkembang dua macam teknik pembedahan katarak. Pertama, teknik extracapsular cataract extraction (ECCE). Ini adalah teknik lama dalam operasi katarak. Teknik ECCE dilakukan dengan mengeluarkan lensa mata secara utuh.

Dalam teknik ECE ini, sang dokter membuat sayatan pada permukaan mata (dekat kornea) sebesar ukuran lensa yang akan diambil. Sebagai informasi, ukuran lensa mempunyai tebal sekitar 4 mm hingga 9 mm dengan diameter sebesar 7 mm. Setelah lensa dikeluarkan, lensa buatan dipasang untuk menggantikan lensa asli, tepat di posisi semula.

Namun, teknik ini mulai jarang dilakukan lantaran proses penyembuhan luka butuh waktu lama. Selain itu, tindakan operasi dengan ECCE hanya dapat dilakukan bila katarak sudah benar-benar matang, yakni katarak berada pada grade matur dan hipermatur.

Kedua, teknik phacoemulsifikasi. Boleh dibilang teknik ini tergolong baru. Bedanya dengan ECCE, teknik phacoemulsifikasi tak membuat luka sayatan selebar ukuran lensa. Dokter hanya butuh sayatan selebar 1,4 mm sampai 2 mm untuk mengeluarkan lensa.

Prosesnya dengan memasukkan alat yang sangat kecil, seperti jarum, untuk menghancurkan sekaligus menyedot lensa yang keruh. Selanjutnya, pada saat bersamaan lensa yang telah hancur itu disedot keluar dengan bantuan suatu cairan.

Teknik phacoemulsifikasi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan ECCE. Jelas, luka sayatan lebih kecil sehingga tak butuh waktu lama untuk recovery atau pemulihan. Jika luka dari teknik ECCE harus dijahit sehingga butuh waktu untuk penyembuhan luka dan pemulihan penglihatan sekitar satu minggu, teknik yang lebih baru ini hanya butuh waktu satu hari.

Selain itu, operasi memakai teknik phacoemulsifikasi bisa dilakukan setiap saat. Tindakan operasi tak harus menunggu hingga katarak matang. Operasi bisa langsung dilakukan bila penderita merasa terganggu dalam aktivitas sehari-hari.

Dokter biasanya akan mengharuskan tindakan operasi bila telah ada komplikasi katarak, seperti glaukoma (tekanan bola mata tinggi) atau terjadi peradangan dalam mata atau uveitis. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates