Selasa , 21 November 2017
Home » Tips dan Artikel » Rehabilitasi Pasien Stroke di Rumah

Rehabilitasi Pasien Stroke di Rumah

Stroke adalah penyebab kematian kedua di Indonesia dan penyebab utama kecacatan di dunia. Cukup banyak orang Indonesia dirawat di rumah sakit karena stroke dan komplikasinya. Biasanya stroke menyerang orang yang telah berusia di atas 50 tahun tetapi sekarang ini banyak menyerang orang usia muda bahkan di usia kurang dari 30 tahun. Mekanisme Terjadinya Stroke Stroke terjadi bila suplai darah ke otak mendadak terhenti. Darah dibawa ke otak melalui pembuluh darah arteri. Arteri ini dapat tersumbat sehingga suplai oksigen terhenti, atau arteri ini dapat pecah sehingga mengakibatkan pendarahan. Akibat suplai darah ke otak terganggu maka sel-sel otak tidak lagi menerima oksigen dan sari-sari makanan sehingga terjadilah kematian/kerusakan sel-sel otak. Sel-sel otak yang rusak masih tetap bertahan hidup dalam beberapa saat. Jika penanganan stroke dilakukan sedini dan setepat mungkin maka sel-sel otak yang rusak dapat diselamatkan. Faktor Resiko Stroke Ada beberapa faktor resiko yang menjadi pencetus terjadinya stroke, tetapi ada juga faktor resiko yang tidak kita deteksi atau hindari. Hal ini termasuk bertambahnya usia seseorang dan jenis kelamin pria yang cenderung lebih sering terkena stroke dibandingkan wanita. Walaupun begitu, banyak factor-faktor resiko yang dapat menjadi perhatian kita, diantaranya adalah: •  Tekanan darah tinggi •  Kencing manis •  Kadar kolesterol darah yang tinggi •  Detak jantung yang tidak teratur (fibrilasi atrium) •  Penyakit jantung •  Gaya hidup: kurang aktivitas, merokok, minum alcohol/konsumsi obat-obatan, stress. Gejala Stroke Gejala yang dialami seseorang sangat tergantung dari bagian mana dari otak yang mengalami kerusakan dan seberapa besar areanya. Bahkan pada stroke ringan (TIA= transient ischemic attack) gejala yang timbul dapat menghilang setelah 24 jam. Gejala umumnya adalah: •  Rasa lemah di sisi badan sebelah kanan atau kiri •  Rasa kesemutan/kebas di sisi badan sebelah kanan atau kiri •  Pada saat berbicara suara tidak jelas/pelo •  Penglihatan berkurang •  Penglihatan ganda •  Kurangnya koordinasi pikiran dan gerakan tubuh •  Pusing •  Sakit kepala berat •  Kesadaran menurun sampai koma Penatalaksanaan Stroke Dalam pengobatan stroke di rumah sakit, keadaan jaringan otak akan dimonitor secara ketat karena 20% pasien keadaannya dapat memburuk dalam beberapa jam setelah serangan stroke. Pengaturan obat dan pengaturan diet makanan yang tepat sangat diperlukan untuk mengontrol factor-faktor resiko yang ada seperti tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol darah yang tinggi. Selain itu asupan nutrisi yang cukup juga sangat diperlukan untuk membantu proses penyembuhan. Pemulihan setelah terkena stroke adalah proses yang alamiah. Pemulihan membutuhkan waktu, kebanyakan pemulihan terjadi selama 3 bulan sampai dengan 6 bulan pertama tetapi akan berlanjut terus sampai 2 tahun atau bahkan lebih. Secara umum, pada pasien stroke dapat terjadi hal-hal berikut: •  Pulih hampir sempurna •  Pulih dengan sedikit kecacatan •  Mempunyai kecacatan yang sedang sampai berat dan biasanya memerlukan perawatan khusus •  Membutuhkan perawat di rumah •  Meninggal tidak lama setelah serangan stroke Rehabilitasi Pasien Stroke Setelah keadaan medis pasien stabil maka program rehabilitasi akan segera dimulai dan terus berlanjut sampai keluar rumah sakit. Tujuan rehabilitasi pada pasien stroke adalah membantu pasien agar dapat mencapai tingkat kemandirian yang maksimal dengan cara mencegah komplikasi dan membantu pasien untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Agar dapat mencapai kemandirian yang optimal, perbaikan kecacatan seperti lumpuh akan lebih optimal dilakukan dalam golden period (periode emas), yaitu kurun waktu enam bulan pertama pasca serangan stroke. Dengan demikian diperlukan upaya sesegera mungkin melakukan rehabilitasi stroke terhadap kondisi kecacatan fisiknya adalah dengan latihan (exercise). Latihan yang diberikan terhadap pasien stroke dilakukan secara bertahap dengan melihat kemampuan pasien. Pada umumnya program latihan bagi pasien stroke dilakukan di tempat tidur, keluar dari tempat tidur dan di luar tempat tidur (duduk di kursi, belajar berdiri dan belajar berjalan). Pada saat pasien tidak dalam pengawasan rumah sakit lagi, macam-macam program latihan dalam menjaga kondisi pasien harus tetap dilakukan sehingga komplikasi seperti kontraktur sendi, sublukasi dan kaku pada bahu, luka tekan, pembengkakan pada tangan dan pengecilan otot dapat dihindari. Latihan gerak sendi dan pengaturan atau pergantian posisi pada saat ditempat tidur merupakan hal yang penting yang patut dilakukan oleh anggota keluarga pasien. Tindakan latihan gerak sendi dapat dilakukan secara aktif (oleh pasien) atau pasif (oleh keluarga) dengan tujuan untuk memelihara setiap persendian agar tidak timbul nyeri dan kaku sendi. Latihan ini juga dapat dikombinasikan dengan tambahan latihan beban. Latihan ini dapat bermanfaat untuk memelihara otot agat tidak terjadi pengecilan otot (diuse atrofi). Namun, latihan ini hanya bisa diberikan bilamana kondisi pasien sudah dapat menggerakan lengan dan tungkainya secara aktif. Tindakan pengaturan atau penggantian posisi bermanfaat untuk menghindari luka tekan (dekubitus) serta mencegah pemendekan otot dan ligament. Pada umumnya karena fase pemulihan stroke yang cukup lama dan pasien lama tidak bergerak, luka tekan pada tonjolan-tonjolan tulang tidak dapat terhindari. Daerah-daerah seperti tulang ekor, punggung, panggul dan tumit merupakan tempat paling sering untuk terjadinya luka tekan. Hal itu dapat dicegah dengan penggantian posisi pasien saat berbaring di tempat tidur dengan pengaturan posisi miring ke kanan atau miring ke kiri setiap 2 jam sekali. Cara lain adalah dengan menggunakan alat Bantu seperti sarung tangan plastik diisi air atau bantal yang berongga. Dalam pengaturan posisi miring terutama ke arah sisi yang sakit, hal yang perlu diperhatikan adalah posisi yang diberikan jangan sampai menekan sendi bahu karena akan mengakibatkan perlengketan atau kaku sendi yang akan menimbulkan nyeri. Untuk mencegah pemendekan otot dan ligmen pada pasien stroke pengeturan posisi saat berbaring diberikan posisi antirotasi. Posisi itu meliputi: •  Sendi bahu dalam posisi berputar ke luar dan sedikit melebar •  Sendi siku lurus dan dalam posisi ke luar •  Sendi pergelangan tangan dan jari-jari lurus •  Sendi panggul dalam posisi memutar ke dalam •  Sendi lutut sedikit menekuk •  Sendi pergelangan kaki menekuk 90 derajat Selain pengatur posisi berbaring, posisi pada saat duduk di kursi (bila pasien sudah dapat duduk) juga harus diperhatikan. Sikap duduk yang baik untuk pasien stroke adalah: •  Bokong dan panggul tidak miring •  Badan dalam keadaan bersandar •  Bahu lurus dengan panggul •  Telapak kaki menapak di lantai •  Lengan disangga Untuk mendapai kemandirian yang optimal, setiap pasien stroke harus mendapatkan dukungan terutama dari keluarga terdekat. Hal ini penting karena peranan keluarga dalam melakukan perawatan di rumah (home care) terhadap anggota keluarga yang terkena stroke merupakan kunci untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates