Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Reward – Punishment Kuno, Kini Reward – Reward

Reward – Punishment Kuno, Kini Reward – Reward

Reward – Punishment Kuno, Kini Reward – Reward

Foto: cantik.tempo.co

Reward – Punishment Kuno, Kini Reward – Reward – Untuk mengontrol perilaku anak, dikenal istilah rewardpunishmentReward adalah ganjaran yang baik guna mempertahankan perilaku yang diharapkan. Punishment adalah hukuman yang berfungsi menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan.

Reward bisa bermacam-macam, bisa dengan memberi ucapan selamat, perhatian, hadiah berupa barang, belaian, kecupan, dan lain-lain dari orangtua kepada anak. Punishment bisa berupa teguran hingga tindakan apa pun yang dianggap bisa menghilangkan perilaku tidak diinginkan itu. “Ternyata, saat ini teori tersebut tidak lagi relevan,” ujar Anggia Chrisanti, konselor dan terapis dari Biro Konsultasi Psikologi Westaria.

“Orangtua dengan permasalahannya sendiri cenderung lupa memberi reward jika ada perilaku baik dan hanya memberi punishment jika ada perilaku buruk. Atau kadar reward dan punishment tidak obyektif. Reward bisa sangat berlebihan, seperti memberikan ponsel untuk anak kecil atau mobil, sepeda motor, dan apa pun yang kadang-kadang akhirnya tidak sesuai dengan apa yang dilakukannya,” kata Anggia seraya menambahkan, Punishment pun begitu, seperti anak dibentak habis-habisan, dipukuli, dicubit, dan lain-lain. Atau, malah tidak ada reward dan punishment sama sekali.
Kini yang dikenal adalah reward-reward. “Baik atau buruk perilaku anak, tetap diberikan reward,” tutur Anggia.

Seperti apa perbedaannya? Ketika anak berperilaku baik, tentunya reward yang umum. Ketika nakal, tetap diberikan reward melalui belaian, sentuhan, pelukan, dan ciuman. Kemudian tanyakan mengapa berbuat (nakal) ini dan itu.

Dua tahapan tersebut menunjukkan perhatian dan kasih sayang. Sebab, banyak terjadi, anak berulah ini dan itu (pada zaman sekarang) hanya untuk cari perhatian orangtua. Hanya ingin ditanya, hanya ingin ada kesempatan bicara dengan orangtua.

“Pada tahap ini, orangtua bisa sekaligus menemukan pemicu kenakalan anak. Dari yang kecil sampai besar. Dari kebiasaan berbohong, suka marah-marah dan bentak-bentak, gemar membuat perkara dengan temannya, dan lain-lain. Jika pemicu telah diketahui, permasalahan pasti bisa diselesaikan,” ucap Anggia.

Ada satu tahap lagi pemberian reward yang lebih terasa “nyata”. “Orangtua bisa mengatakan, ‘kalau kamu sudah bisa begini (berperilaku baik), ibu akan kasih hadiah ini’,” Anggia memberi contoh.

Intinya, kenakalan anak atau anak nakal tetap menjadi tanggung jawab orang tua karena anak hanya merefleksikan diri dari sesuatu yang dilihatnya sehari-hari. “Tidak ada perilaku anak yang murni kriminalitas (sekalipun terlihat demikian). Yang ada hanyalah anak kurang perhatian, kurang kasih sayang, kurang pengetahuan, kurang pendidikan, dan kurang tepat penanganannya,” ujar Anggia. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates