Selasa , 17 Oktober 2017
Home » Artikel » STROKE, The Silent Disease (bagian 3)

STROKE, The Silent Disease (bagian 3)

STROKE, The Silent Disease

STROKE, The Silent Disease (Foto: dok: intractive-biology.com)

STROKE, The Silent Disease (bagian 3) – Datangnya bisa tiba-tiba dan mengakibatkan nyawa melayang bila tidak segera ditangani dengan benar.

Stroke adalah serangan otak yang timbulnya mendadak akibat tersumbat atau pecahnya pembuluh darah otak. Dengan kata lain penyakit stroke ini merupakan penyakit pembuluh darah otak (serebrovaskuler) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral). Hal ini disebabkan karena adanya penyumbatan, penyempitan atau pecahnya pembuluh darah menuju otak sehingga pasokan darah dan oksigen ke otak berkurang dan menimbulkan serangkaian reaksi biokimia yang akan merusakkan atau mematikan sel-sel saraf otak.

Tidak itu saja, gangguan stroke dapat menimbulkan kelumpuhan wajah dan anggota badan, bicara tak lancar (pelo), dan gangguan penglihatan.

Di Indonesia, stroke telah menjadi “pembunuh” nomor wahid. Bahkan, dalam 20 tahun terakhir, stroke menjadi penyakit yang sangat mematikan. Padahal, di era 90-an, penyakit ini hanya menempati peringkat keempat.

Menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi stroke di Indonesia 12,1 per 1.000 penduduk. Angka itu naik dibandingkan Riskesdas 2007 yang sebesar 8,3 persen. Stroke telah jadi penyebab kematian utama di hampir semua rumah sakit di Indonesia, yakni 14,5 persen.

Dilihat dari karakteristiknya, stroke banyak dialami orang lanjut usia, berpendidikan rendah, dan tinggal di perkotaan. Perubahan gaya hidup; pola makan terlalu banyak gula, garam, dan lemak; serta kurang beraktivitas adalah faktor risiko stroke yang dominan.

Di banyak tempat, masyarakat masih kerap mengabaikan pengendalian tekanan darah tinggi atau hipertensi yang merupakan faktor risiko yang mendominasi terjadinya stroke. Sekitar 70 persen penderita hipertensi cenderung tak peduli dengan kondisi tekanan darahnya karena hipertensi tak menimbulkan gejala. Padahal, dengan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama pengecekan tekanan darah, hipertensi bisa terkontrol sehingga tak memicu stroke.

Menurut data dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON), hampir 50 persen pasien stroke yang datang berobat ke RS PON dalam kondisi keparahan tingkat akhir. Akibatnya, penanganan lebih sulit dan butuh pemeriksaan lebih komprehensif.

Penyebab Stroke

Dari sisi penyebab, ada dua faktor yang mempengaruhi seseorang terkena stroke yakni: Faktor risiko medis, misalnya, hipertensi (penyakit tekanan darah tinggi), kolesterol, arteriosklerosis (pengerasan pembuluh darah), gangguan jantung, diabetes, riwayat stroke dalam keluarga (faktor keturnan) dan migren (sakit kepelah sebelah). Menurut data statistik 80% pemicu stroke adalah hipertensi dan arteriosclerosis; dan Faktor risiko perilaku, yakni gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman bersoda dan beralkohol gemar mengonsumsi makanan cepat saji (fast food dan junk food), kurang aktifitas gerak/olahraga, obesitas. Faktor sederhana yang juga bisa menjadi pemicu adalah suasana hati yang tidak nyaman seperti sering marah tanpa alasan yang jelas.

Dilihat dari penyebabnya, ada dua jenis stroke yaitu stroke iskemik dan stroke hemoragik. Stroke iskemik terjadi jika pasokan darah berhenti akibat gumpalan darah dan stroke hemoragik terjadi jika pembuluh darah yang memasok darah ke otak pecah.

Ada juga dikenal istilah stroke ringan atau TIA (Transient Ischemic Attack). TIA terjadi ketika pasokan darah ke otak mengalami gangguan sesaat yang biasanya diawali dengan gejala pusing, penglihatan ganda, tubuh secara mendadak terasa lemas, dan sulit bicara. Meski hanya sesaat, tetap harus ditangani secara serius. Karena hal ini biasanya merupakan peringatan akan datangnya serangan stroke berat.

Gejala dan Penanganan Stroke

Memang stroke datang tiba-tiba. Namun, bila dicermati seksama ada beberapa tanda-tanda mucul serangan stroke yakni: rasa bebal atau mati mendadak atau kehilangan rasa dan lemas pada muka, tangan atau kaki, terutama pada satu bagian tubuh saja, rasa bingung yang mendadak, sulit bicara atau sulit mengerti, satu mata atau kedua mata mendadak kabur, mendadak sukar berjalan, terhuyung dan kehilangan keseimbangan, mendadak merasa pusing dan sakit kepala tanpa diketahui penyebabnya. Tanda lainnya, rasa mual, panas, dan sering muntah-muntah, serta rasa pingsan mendadak, atau merasa hilang kesadaran secara mendadak.

Bila terjadi stroke, yang perlu dilakukan awal adalah tetap bersikap tenang, tidak membuat suasana gaduh atau panik. Saat penderita terjatuh, jangan langsung dipindahkan atau terjadi pergerakan. Karena dengan bergerak akan memicu kerusakan pembuluh darah halus di dalam organ otak. Jika penderita terkena serangan dalam posisi duduk, perlahan posisikan tubuh penderita untuk duduk tegak agar tidak terjatuh.

Tusukkan pada ujung jari penderita dengan menggunakan jarum suntik, peniti, atau jarum jahit sedalam lebih kurang satu milimeter. Pastikan darah penderita keluar. Jika belum ada perubahan juga dalam waktu beberapa menit, coba tarik dua telinga penderita sampai tampak kemerahan. Kemudian tusukkan dengan jarum ujung telinga bagian bawah agar setidaknya keluar darah sebanyak dua tetes dari masing-masing telinga.

Jika sudah demikian dan kondisi mulai membaik, segera bawa penderita ke rumah sakit terdekat untuk penanganan medis yang lebih komprehensif. (RN/dbs)

[su_highlight]BACA JUGA: Kupas Tuntas Penyebab Stroke[/su_highlight]

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
  6. Bagian 6
  7. Bagian 7
  8. Bagian 8
  9. Bagian 9
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates