Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Surat Wasiat, Entaskan Petaka Dalam Keluarga

Surat Wasiat, Entaskan Petaka Dalam Keluarga

Bagi sebagian orang membuat surat wasiat menjadi bagian penting guna menghindari sengketa dalam keluarga. Tapi bagi sebagian lagi, hal itu adalah sesuatu yang tabu. Rasanya mendahului dan mengharapkan kematian.

Lepas dari pemahaman perlu tidaknya seseorang menyiapkan surat wasiat. Namun adalah penting dikupas kenapa surat wasiat itu sebaiknya dibuat.

Dari hasil perbincangan dengan banyak orang, disimpulkan bahwa surat wasiat dibuat tertulis dalam bentuk akta. Surat tersebut harus dibuat dengan sepengetahuan minimal dua orang saksi yang bukan penerima warisan. Selama pewaris belum meninggal dunia, surat wasiat tersebut bisa direvisi ataupun dicabut.

Prosedur pembuatan surat wasiat tergolong mudah. Surat wasiat bisa dibuat di hadapan notaris sehingga memiliki kekuatan hukum. Selain itu, surat wasiat bisa dibuat sendiri sebelum kemudian dititipkan kepada notaris. Prosesnya cepat. Seminggu biasanya sudah jadi.

Dengan kehadiran surat wasiat, aset seperti tanah, saham, surat obligasi, hingga utang yang dimiliki pun bisa terdata dengan rinci. Surat wasiat ini bersifat sepihak dan tidak membutuhkan persetujuan dari orang lain.

Pembuat surat wasiat berhak mengatur bagaimana hartanya dikelola dan dibagikan. Jika pembuat wasiat memiliki anak angkat, surat wasiat tersebut bisa menjadi acuan penting sehingga anak angkat tersebut bisa mendapat hak warisan.

Ahli waris
Tanpa surat wasiat, pembagian warisan biasanya dilakukan berdasarkan hukum waris yang berlaku di Indonesia, yaitu hukum waris perdata (Kitab Undang-Undang Hukum Perdata), Kompilasi Hukum Islam bagi penganut agama Muslim, atau hukum waris adat.

KUH Perdata membagi ahli waris dalam empat kelompok, yaitu suami/istri, anak-anak atau keturunannya, orangtua, dan saudara-saudara sekandung, keluarga bapak dan keluarga ibu (paman dan bibi), hingga saudara sepupu.

Dalam banyak kasus, ketiadaan surat wasiat bisa mendatangkan sengketa dalam keluarga. Potensi konfliknya begitu besar. Ketidaksepakatan tentang hukum waris yang akan digunakan, misalnya, juga bisa menumbuhkan pertengkaran. Belum lagi bila melibatkan kehadiran anak angkat.

Apabila sengketa warisan diajukan ke pengadilan, pemrosesan hingga banding, kasasi dan peninjauan kembali bisa memakan waktu lebih dari tiga tahun. Pengumpulan data pun berbelit-belit dan melibatkan seluruh keluarga besar yang biasanya sudah tinggal berpencar.

Karena begitu penting peranannya, lebih baik membuat surat wasiat ketika tubuh masih bugar agar di belakang hari tidak menimbulkan petaka dalam keluarga. (RN/dbs)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates