Senin , 20 November 2017
Home » Artikel » Teknik CPR Bisa Bantu Selamatkan Nyawa (bagian 3)

Teknik CPR Bisa Bantu Selamatkan Nyawa (bagian 3)

Teknik CPR Bisa Bantu Selamatkan Nyawa

Teknik CPR Bisa Bantu Selamatkan Nyawa (Foto: dok. keselamatankeluarga.com)

Teknik CPR Bisa Bantu Selamatkan Nyawa (bagian 3) – Semua orang sejatinya bisa menyelamatkan nyawa seseorang pada saat terjadinya situasi gawat dan darurat henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest/SCA). Pertolongan pertama yang cepat, khususnya penggunaan teknik Cardio Pulmonary Resuscitation (CPR), merupakan faktor penting dalam meningkatkan peluang untuk bertahan hidup dan pemulihan.

Kejadian Henti Jantung Mendadak yang terkait dengan banyak kematian di Indonesia, merupakan “silent killer” karena bisa datang kapan saja dan di mana saja. Karena itu, setiap orang diharapkan memiliki kemampuan teknik CPR untuk memberikan pertolongan pertama apabila menghadapi situasi gawat dan darurat Henti Jantung Mendadak.

Bertepatan dengan Hari Jantung Sedunia, Philips Indonesia sebagai bagian dari Royal Philips (NYSE: PHG, AEX: PHIA) menyelenggarakan sesi pelatihan Resusitasi Jantung Paru (CPR) dan AED. Sesi pertama telah diadakan untuk karyawan Philips pada Agustus lalu. Kamis (15/9/2017), sesi pelatihan di XXI Club, Djakarta Theater, diberikan kepada 40 peserta yang terdiri dari Kementerian Kesehatan, Yayasan Jantung Indonesia, wartawan atau perwakilan kantor media dan blogger dalam upaya menyebarkan kesadaran tentang CPR bagi masyarakat yang lebih luas.
Sebagai bagian dari sesi pelatihan, Philips Indonesia mengadakan forum diskusi yang menghadirkan dokter spesialis jantung, dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC yang juga menjabat sebagai Sekjen PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia), dr. Erizon Safari, MKK, Kepala Unit Ambulans Gawat Darurat (AGD) dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Presiden Direktur Philips Indonesia, Suryo Suwignjo, untuk membahas pentingnya meningkatkan kesadaran mengenai CPR di kalangan masyarakat umum.

Dokter spesialis jantung, dr. Jetty R. H. Sedyawan, Sp.JP (K), FIHA, FACC yang juga menjabat sebagai Sekjen PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) menyebutkan tentang masa emas -tiga menit pertama- setelah terjadinya henti jantung mendadak. Jika CPR dilakukan dalam kerangka waktu ini, ada kemungkinan besar korban akan bertahan hidup tanpa terjadi kerusakan pada otak. Namun, setelah masa tiga menit ini berlalu, semakin tinggi risiko korban menderita kerusakan otak akibat serangan tersebut.

“Jendela waktu kecil ini menentukan kesempatan hidup korban dan setiap detiknya sangat berharga. Memastikan ketersediaan AED di ruang publik dan melatih orang untuk menjadi first-responder (orang yang pertama kali menemukan korban dan menolongnya, berbekal pengetahuan untuk melakukan CPR) adalah kunci untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Ini adalah sesuatu yang perlu sadari oleh masyarakat, bahwa semua orang bisa menyelamatkan nyawa,” kata Jetty di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kementerian Kesehatan pada tahun 2014, memperkirakan bahwa ada 10.000 orang per tahun – atau 30 orang per hari – yang mengalami henti jantung mendadak. Data yang sama juga menunjukkan bahwa frekuensi SCA akan meningkat seiring dengan peningkatan penyakit jantung koroner (PJK) dan stroke, yang diperkirakan mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.

Sementara itu, dari data PERKI pada tahun 2016 menemukan bahwa angka kejadian henti jantung mendadak berkisar antara 300.000 – 350.000 insiden setiap tahunnya. Meskipun demikian, ada juga kecenderungan peningkatan peluang hidup ketika ada lebih banyak orang yang berada di lokasi kejadian (bystander) melakukan pertolongan pertama dengan CPR. (RN)

BACA JUGA: Kupas Tuntas Penyakit Jantung

  1. Bagian 1
  2. Bagian 2
  3. Bagian 3
  4. Bagian 4
  5. Bagian 5
Free WordPress Themes - Download High-quality Templates