Selasa , 14 November 2017
Home » Artikel » Ternyata, Pria dan Wanita Sama-sama Berisiko Terkena Alzheimer

Ternyata, Pria dan Wanita Sama-sama Berisiko Terkena Alzheimer

Ternyata, Pria dan Wanita Sama-sama Berisiko Terkena Alzheimer – Selama ini banyak diperkatakan bahwa penyakit Alzheimer lebih rentan menyerang wanita, sebab otak wanita cenderung lebih mudah mengalami penurunan kognitif. Sebuah riset terbaru dari Mayo Clinic mengungkap hal berbeda, di mana pria sama berisikonya terserang Alzheimer seperti halnya wanita.

Pengamatan dilakukan terhadap bank data otak milik negara bagian Florida. Dari 2.809 pasien yang mendonorkan otaknya untuk otopsi, 1.625 di antaranya dilaporkan mengidap Alzheimer. Menariknya, jumlah donor yang terkena Alzheimer hampir sama banyaknya: 54 kasus pada pria dan 46 kasus pada wanita.
Bedanya, pada pria, gejala Alzheimernya memang cenderung berbeda atau tidak tipikal dengan yang terlihat pada pasien wanita. Durasi sakitnya pun lebih pendek.

Salah satunya karena bagian otak yang terserang Alzheimer pada pria adalah yang krusial, yaitu memiliki keterlibatan dengan fungsi kognitif yang lebih tinggi semisal cortex yang berperan dalam kemampuan berbicara dan motorik.

Akibatnya, beberapa pasien lebih berisiko meninggal dunia karena Alzheimer sebelum berusia 70 tahun ketimbang pasien lainnya. Itulah sebabnya peneliti menduga mengapa lebih banyak wanita yang ketahuan mengidap Alzheimer, sebab perkembangan gejalanya lambat, sehingga terdiagnosis di usia yang lebih tua tetapi gejalanya cenderung ringan.

Ada juga dugaan bahwa pria tidak memiliki mekanisme perlindungan terhadap Alzheimer sehingga mereka terserang di usia yang lebih muda. Selain itu, pria yang terserang Alzheimer rata-rata berusia lebih muda saat didiagnosis. Padahal mendiagnosis Alzheimer pada pasien berumur di bawah 70 tahun juga bukan perkara gampang.

“Di sisi lain, jumlah penyandang Alzheimer pria yang berusia 60an juga tidak sesuai karena angka sebenarnya lebih besar lagi,” ungkap ketua tim peneliti, Melissa MurrayJames Hendrix, Direktur Global Sciences Initiative, Alzheimer’s Association, menegaskan tantangan yang dihadapi saat ini adalah pada metode diagnosis penyakit ini yang rumit dan mahal.

”Diagnosisnya menggunakan tes kognitif, dan ini tidak sama dengan satuan pengukuran yang obyektif seperti biomarker,” terangnya. Alzheimer sendiri baru bisa terdeteksi setelah terjadi kerusakan otak yang signifikan, sehingga semakin merugikan pasien.

Gejala paling umum yang ditemukan pada pasien Alzheimer adalah hilangnya ingatan yang sampai mengganggu kehidupan sehari-hari; kesulitan mengerjakan tugas harian; tak bisa mengingat waktu dan tempat, gangguan bicara dan bermasalah dengan kemampuan problem-solving atau memecahkan persoalan. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates