Selasa , 21 November 2017
Home » Artikel » Waspadai Kematian Mendadak Karena Triple A

Waspadai Kematian Mendadak Karena Triple A

Selama ini, kematian mendadak pada seseorang sering dikaitkan dengan serangan jantung. Padahal, ada pula penyebab lain yang perlu diwaspadai, yakni aneurisme aorta abdominal (AAA).

AAA merupakan kelainan pada pembuluh darah aorta abdominal, yaitu pembuluh darah utama yang keluar dari jantung menuju rongga dada lalu ke perut. Aorta abdominal menyuplai darah kaya oksigen dari jantung menuju kedua kaki, saluran pencernaan, juga kedua ginjal.

AAA terjadi ketika ada ruas pembuluh aorta abdominal yang menggelembung akibat melemahnya dinding aorta. Makin lama diameternya makin besar. Gelembung itu bisa tiba-tiba pecah hingga menimbulkan perdarahan hebat dalam perut.

Sayangnya, di Indonesia AAA tidak dianggap segawat penyakit jantung. Padahal, sebenarnya sama bahayanya bila tidak tertangani. Banyak kematian mendadak yang dikira akibat serangan jantung, padahal penyebabnya AAA yang pecah.

Turbulensi

Selain itu, AAA menyebabkan aliran darah mengalami perputaran (turbulensi) dalam gelembung pembuluh darah tersebut. Turbulensi memudahkan terbentuknya gumpalan darah. Yang jadi masalah, gumpalan itu bisa terbawa oleh aliran darah dan menyumbat pembuluh di kaki.

Sumbatan itu menimbulkan nyeri. Bila terjadi dalam jangka waktu lama, sumbatan akan menyebabkan kematian jaringan di kaki hingga berisiko amputasi. Oleh karena itulah AAA perlu diwaspadai. Gejala yang mungkin timbul ketika AAA sudah membesar ialah adanya rasa denyutan pada perut.

Teknologi Evar

Ketika AAA terdeteksi, penanganan harus segera dilaukkan untuk mencegah pecahnya AAA. Ketiak diameternya masih kecil, AAA bisa diterapi dengan obat-obatan. Bila sudah besar, penanganan dilakukan dengan operasi.

Diameter aorta abdominal normalnya 1-2 cm. Di Eropa, operasi dilakukan ketika diameter aorta sudah 5 cm. Ada juga literatur yang menyebutkan bahwa operasi diperlukan saat diameter normal atau mengalami pembesaran 0,5 cm dalam enam bulan.

Dulu, penanganan AAA dilakukan dengan membedah perut. Tapi kini, dengan adanya teknologi endovascular aneurysm repair (Evar), operasi dilakukan dengan teknik katerisasi untuk memasang stent graft, semacam selongsong dari titanium nikel dan poliester, pada pembuluh yang terkena aneurisme baik di dalam rongga perut maupun rongga dada.

Teknisnya, melalui kateter, stent yang masih kempis dimasukkan ke pembuluh darah lewat lipat paha. Dengan dipandu alat rontgen, stent diarahkan menuju lokasi terjadinya AAA. Sesampainya di lokasi, stent lalu dikembangkan hingga membentuk saluran baru dalam pembuluh darah.

Dengan demikian, darah tidak lagi mengalir lewat pembuluh yang menggembung, tetapi melalui terowongan stent itu sehingga risiko pecahnya AAA bisa dihindari. Kebanyakan penderita AAA adalah mereka yang sudah berusia 60 tahun ke atas.

Karena itu, kaum senior dianjurkan melakukan pemeriksaan rutin yang mencakup USG perut untuk mendeteksi dini AAA. Terlebih orang-orang dengan faktor risiko tinggi seperti seseorang yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi. (RN)

Free WordPress Themes - Download High-quality Templates