Ternyata Mencorat-Coret Baik Untuk Kesehatan Mental

Ternyata Mencorat-Coret Baik Untuk Kesehatan Mental

Artikel Anak
[caption id="attachment_7869" align="alignleft" width="300"] Foro: siedoo.com[/caption] Ternyata Mencorat-Coret Baik Untuk Kesehatan Mental Anak-anak hingga orang dewasa kerap memiliki kebiasaan mencorat-coret atau menggambar di kertas tanpa konsep. Ternyata hal ini bermanfaat bagi kesehatan mental. Meskipun beberapa ahli mendefinisikan corat-coret sebagai bentuk lamunan proaktif, karena dilakukan tanpa sengaja, baru-baru ini pakar kesehatan mental mengungkap tentang manfaat mencorat-coret bagi seseorang, seperti dilansir Boldsky: Membantu konsentrasi Meski kedengarannya kontradiktif, sebuah penelitian menemukan bahwa setelah ceramah atau pertemuan, mereka yang mencoret-coret dapat mengingat lebih banyak informasi daripada yang bukan pencoret. Para ahli menunjukkan bahwa corat-coret membantu Anda berkonsentrasi karena memerlukan upaya kognitif yang cukup untuk mencegah Anda melamun. Artinya, mencoret-coret membantu Anda lebih fokus dan tetap terlibat, menahan pikiran atau otak agar tidak melenceng. Membantu memproses emosi Beberapa penelitian setuju bahwa corat-coret atau ekspresi artistik…
Read More
Kenali Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Merawatnya

Kenali Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Merawatnya

Artikel Anak
[caption id="attachment_7845" align="alignleft" width="300"] Kenali Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Merawatnya[/caption] Kenali Alergi Kulit Pada Anak dan Cara Merawatnya Berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki kulit yang lebih tipis dengan imunitas yang belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap gangguan yang bisa berujung kepada alergi. Menurut dokter spesialis kulit dan kelamin dr. Armansjah Dara Sjahruddin, lapisan kulit anak lebih tipis ketimbang orang dewasa. Fungsi kulit sebagai pelindung tubuh juga belum maksimal seperti orang dewasa karena lebih tipis, juga karena sistem imunitas anak yang masih berkembang. Dia menjelaskan kelainan kulit yang kerap terjadi kepada bayi dan anak, seperti dermatitis atopik yang membuat kulit ruam kemerahan, bersisik, lecet dan gatal. Anak juga bisa mengalami dermatitis seboroik, di mana kulit terlihat bersisik dan muncul ketombe karena kulit terkelupas. Pada bayi yang baru…
Read More
Mengapa Anak-anak Hingga Lansia Beda Durasi Tidurnya?

Mengapa Anak-anak Hingga Lansia Beda Durasi Tidurnya?

Artikel Anak
[caption id="attachment_7839" align="alignleft" width="300"] Foto: cnnindonesia.com[/caption] Mengapa Anak-anak Hingga Lansia Beda Durasi Tidurnya? Durasi tidur menjadi salah satu hal penting untuk sistem imun Anda, di samping pola makan sehat dan berolahraga teratur. Dengan waktu tidur yang baik dan berkualitas maka imunitas dalam tubuh pun akan baik. Dari sisi durasi, ada perbedaan kebutuhan waktu tidur sesuai usia dan seiring bertambahnya usia kebutuhan tidur pun terus menurun. Menurut Kementerian Kesehatan, anak usia 0-1 bulan umumnya membutuhkan waktu tidur 14-18 jam per hari untuk perkembangan otak yang baik dan normal. Mereka yang berusia 1-18 bulan kebutuhan tidurnya menjadi 12-14 jam setiap hari termasuk tidur siang. Pada usia anak menjelang masuk sekolah, umumnya 3-6 tahun kebutuhan waktu tidurnya sekitar 11-13 jam. Studi menunjukkan, anak usia di bawah 6 tahun yang kurang tidur cenderung mengalami…
Read More
Ini 3 Pola Asuh Anak di Era Digital

Ini 3 Pola Asuh Anak di Era Digital

Artikel Anak
[caption id="attachment_7818" align="alignleft" width="300"] Ini 3 Pola Asuh Anak di Era Digital[/caption] Ini 3 Pola Asuh Anak di Era Digital Selain memberi perlindungan kepada anak, orangtua juga wajib melakukan pemenuhan hak, khususnya hak pengasuhan. Pola pengasuhan anak zaman sekarang harus disesuaikan dengan era digital saat ini, mengingat banyak bahaya yang mengancam anak di ranah online. Hal ini dikatakan Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI (Kementerian PPPA), Ciput Eka Purwianti. “Arahan presiden yang utama adalah meningkatkan pengasuhan keluarga terhadap anak. Tidak hanya ibu yang bertanggung jawab untuk memberikan pengasuhan kepada anak, tapi keluarga, termasuk ayah dan anggota keluarga yang lain dalam satu rumah tangga tinggal,” ujar Ciput. Dari sudut pandang ini, Ciput melihat pada pola asuh di era digital ini, baik…
Read More
Pandemi, Anak Bisa Alami Kecemasan Tinggi

Pandemi, Anak Bisa Alami Kecemasan Tinggi

Artikel Anak
[caption id="attachment_7815" align="alignleft" width="300"] Foto: mommiesdaily.com[/caption] Pandemi, Anak Bisa Alami Kecemasan Tinggi Perubahan yang dialami anak-anak di masa pandemi ini banyak melahirkan kecemasan. Mulai dari cerita-cerita seram hingga merasa terisolasi dari teman sepermainan. “Pada banyak anak (yang mengalami kecemasan), mereka akan mengalami mimpi yang jelas, tidur terganggu, masalah seputar makan, dan lainnya,” jelas psikoterapis Noel McDermott. Dia mengatakan anak-anak kecil cenderung berupaya menyembunyikan perasaannya ketika merasa cemas. Hal ini mereka lakukan untuk ‘melindungi’ orangtua mereka dari kecemasan yang dirasakan. Akan tetapi, sambungnya, kondisi itu akan terihat dengan cara lain. Salah satunya terihat ketika anak melakukan permainan pura-pura. Dalam permainan pura-pura tersebut, anak yang memiliki kecemasan biasanya menuangkan kecemasan mereka ke dalam cerita di permainan pura-pura tersebut. Misalnya, memasukkan cerita tentang ayah dan ibu mengalami sakit dan membutuhkan bantuan rumah sakit…
Read More
Perilaku Anak Positif Bila Hubungan Ibu-Anak Baik

Perilaku Anak Positif Bila Hubungan Ibu-Anak Baik

Artikel Anak
[caption id="attachment_7812" align="alignleft" width="300"] Foto: reqnews.com[/caption] Perilaku Anak Positif Bila Hubungan Ibu-Anak Baik Hubungan yang erat dan hangat antara ibu dan anak dapat menghindarkan anak dari perilaku negatif. Hal ini secara lugas dikatakan psikolog anak dan keluarga, Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S.Psi. “Hubungan ibu dan anak yang erat juga dapat mengurangi risiko anak untuk memiliki hubungan yang tidak sehat di masa depannya,” kata Vera. Menurutnya, ibu memiliki banyak peran dalam kehidupan anak, mulai dari memberikan perawatan mendetail dalam keseharian sampai memberikan ketenangan saat anak remaja sedang dirundung masalah. Majalah Time melansir sebuah penelitian bahwa kepekaan dan daya tanggap seorang ibu dalam beberapa tahun pertama kehidupan seorang anak memiliki konsekuensi seumur hidup bagi kompetensi akademis dan sosial anak. Selain mempromosikan pengembangan keterampilan akademis dan sosial anak-anak, ada penelitian yang menunjukkan bahwa interaksi…
Read More
Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya

Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya

Artikel Anak
[caption id="attachment_7809" align="alignleft" width="300"] Foto: jawapos.com[/caption] Dukung Pertumbuhan Anak di 2021, Buat Resolusinya Di masa pandemi Covid-19 ini, ada beberapa tantangan besar yang akan dihadapi anak seperti keterbatasan aktivitas di luar rumah maupun pembelajaran jarak jauh secara digital. Untuk itu, di 2021 ini peran orangtua kian penting dalam mendukung anak untuk tetap tumbuh optimal serta memiliki emosional baik di tengah pandemi Covid-19 yang belum mereda. Bila pertumbuhan anak yang optimal jadi salah satu resolusi tahun baru Anda, simak lima rekomendasi dari pakar-pakar di bawah ini: Perhatikan nutrisi untuk pencernaan anak Nutrisi yang seimbang dapat memperkuat kesehatan pencernaan, otak, hingga emosionalnya, sehingga dapat memberikan dampak positif yang menyeluruh bagi tumbuh kembang anak. Ahli Gizi dan Penulis Buku tentang Gizi, Dr. Rita Ramayulis mengatakan untuk mencapai pertumbuhan yang menyeluruh, orangtua dapat mulai…
Read More
Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah

Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah

Artikel Anak
[caption id="attachment_7797" align="alignleft" width="300"] Foto: merdeka.com[/caption] Bikin Anak Tetap Aktif di Dalam Rumah Anak harus memiliki ruang gerak yang cukup, tidak hanya orang dewasa. Untuk itu, orangtua harus memutar otak untuk mencari cara agar buah hati bisa tetap aktif meski mereka sementara ini tak bisa berlarian dengan teman-temannya di lapangan sekolah atau bermain di luar rumah. Dokter spesialis anak Noor Anggrainy memberi saran untuk orangtua agar bisa mengajak anak dari berbagai rentang usia bisa aktif meski di dalam rumah. Untuk anak usia di bawah satu tahun, anak bisa diajak bermain di lantai yang sudah diberi alas dan durasi yang direkomendasikan adalah 30 menit. Coba lakukan sesi rutin tummy time di mana anak berbaring di atas perutnya selama beberapa waktu. Pastikan anak dalam keadaan terbangun dan selalu dalam pengawasan Anda. “Bisa…
Read More
Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya

Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya

Artikel Anak
[caption id="attachment_7794" align="alignleft" width="300"] Foto: popmama.com[/caption] Kulit Anak Alergi? Kenali Ciri dan Cara Merawatnya  Berbeda dengan orang dewasa, anak memiliki kulit yang lebih tipis dengan imunitas yang belum berkembang sempurna sehingga lebih rentan terhadap gangguan yang bisa berujung kepada alergi. Menurut, dr. Armansjah Dara Sjahruddin, dokter spesialis kulit dan kelamin, lapisan kulit anak lebih tipis ketimbang orang dewasa. Fungsi kulit sebagai pelindung tubuh juga belum maksimal seperti orang dewasa karena lebih tipis, juga karena sistem imunitas anak yang masih berkembang. Dia menjelaskan kelainan kulit yang kerap terjadi kepada bayi dan anak, seperti dermatitis atopik yang membuat kulit ruam kemerahan, bersisik, lecet dan gatal. Anak juga bisa mengalami dermatitis seboroik, di mana kulit terlihat bersisik dan muncul ketombe karena kulit terkelupas. Pada bayi yang baru lahir, ini terjadi karena pengaruh hormon…
Read More
Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak

Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak

Artikel Anak
[caption id="attachment_7498" align="alignleft" width="300"] Foto: popmama.com[/caption] Tingkatkan Kepekaan Orangtua Atasi Gangguan Mental Anak  Gangguan mental pada anak sulit terlihat. Untuk itu, Orangtua harus lebih peka terhadap hal ini. Riskesdas 2018 menemukan bahwa prevalensi gangguan mental emosional remaja usia di atas 15 tahun meningkat menjadi 9,8% dari yang sebelumnya 6% pada 2013. Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat, 15% anak remaja di negara berkembang berpikiran untuk bunuh diri, di mana bunuh diri merupakan penyebab kematian terbesar ketiga di dunia bagi kelompok anak usia 15–19 tahun. Menurut Annelia Sari Sani Spsi., psikolog anak, gangguan mental pada usia anak hingga remaja dapat memengaruhi berbagai aspek kehidupan mereka, termasuk menyebabkan masalah pada perilaku, gangguan emosional dan sosial, gangguan perkembangan dan belajar, gangguan perilaku makan dan kesehatan, hingga gangguan relasi dengan orang…
Read More