Astaga Remaja Perfeksionis Rentan Depresi

Astaga Remaja Perfeksionis Rentan Depresi

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5582" align="alignleft" width="300"] Foto: sehat.link[/caption] Ternyata, penyebab lain remaja bisa mengalami stres dan depresi adalah perfeksionis dan ambisius, selain kerap mendapat perlakuan diskriminatif maupun bully dari luar. Hal ini dikatakan dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ., di Jakarta, beberapa waktu lalu. “Remaja stres disebabkan oleh perfeksionisme dalam diri, terlalu ambisius. Misal gak bawa pensil alis bisa stres sendiri,” kata Nova Riyanti. Rasa ambisius terkadang dibutuhkan bagi remaja untuk mendorong mereka dalam melakukan sesuatu. Namun, ambisi bisa bersifat negatif apabila tidak diimbangi dengan realitas secara nyata. “Pengin kurus seperti Kendall Jenner tapi pas jajan di kantin makannya mi instan dua bungkus, ya nggak nyambung,” tambahnya. Remaja juga kerap kali dituntut untuk melakukan sesuatu secara sempurna, baik oleh keluarga maupun lingkungan. “Masa remaja itu masa serba nanggung. Pinter salah, enggak pinter makin…
Read More
Banyak Konsumsi Gula Anak Cenderung Berperilaku Buruk

Banyak Konsumsi Gula Anak Cenderung Berperilaku Buruk

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5579" align="alignleft" width="300"] Foto: sahabatnestle.co.id[/caption] Sebuah penelitian mengungkapkan, bahwa makanan dan minuman yang mengandung banyak gula itu meningkatkan perilaku berisiko pada anak usia 11 hingga 15 tahun. Anak-anak cenderung menjadi brutal, minum alkohol, dan merokok. Anak-anak hampir tiga setengah kali lebih cenderung menjadi pengganggu bila mereka makan banyak permen dan minuman berenergi, sebuah penelitian menemukan fakta tersebut. Penelitian lain mengungkapkan bahwa kadar gula tinggi membuat anak lebih berpotensi dua kali lebih banyak terlibat perkelahian, dan 95 persen cenderung menjadi pemabuk, demikian laporan Dailymail. Para peneliti di belakang penelitian ini berkata bahwa minuman berenergi memperburuk perilaku anak lebih dari cokelat atau permen karena di dalamnya mengandung kafein juga. Penelitian yang dilakukan Bar Ilan University di Israel terhadap 137.284 anak usia 11, 13, atau 15 tahun dan hidup di 25 negara…
Read More
Kejiwaan Remaja Masalah Serius yang Butuh Perhatian Besar

Kejiwaan Remaja Masalah Serius yang Butuh Perhatian Besar

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5563" align="alignleft" width="300"] Foto: www.cnnindonesia.com[/caption] Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan gangguan kejiwaan pada remaja umumnya muncul pada usia 14 tahun, tapi sebagian besar tidak terdeteksi dan mendapatkan pengobatan. Menurut dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ., Ketua Dewan Pakar Badan Kesehatan Jiwa (Bakeswa) Indonesia, secara global, depresi menjadi gangguan kejiwaan dan penyebab disabilitas terbanyak pada remaja. Bunuh diri menjadi penyebab ketiga terbesar kematian pada usia 15 hingga 19 tahun. “Oleh karena itu, dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, tema yang diangkat pada tahun ini ialah Kesehatan jiwa remaja,” ujar Nova dalam diskusi media terkait dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Munculnya gangguan kesehatan jiwa pada usia remaja, terang Nova, terkadang tidak diperhatikan secara serius. Ia mencontohkan yang umum dialami remaja, seperti rasa khawatir berlebihan dan gangguan makan,…
Read More
Anak-anak Butuh Gizi Seimbang

Anak-anak Butuh Gizi Seimbang

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5560" align="alignleft" width="300"] Foto: www.futuready.com[/caption] Di masa pertumbuhan, setiap anak berhak untuk mendapatkan asupan gizi seimbang, terutama pada 1000 hari pertama sejak kelahirannya. Menurut Endang Achadi, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, “1.000 hari pertama kehidupan, merupakan momen sangat penting untuk mengatur gizi si kecil agar tetap seimbang. Begitu juga dengan sang ibu. Hal ini bisa menjamin kualitas hidup anak hingga dewasa”. Gizi yang seimbang bisa diperoleh dengan mengonsumsi menu makan bayi penuh gizi dan sesuai porsi. Endang pun memberikan rumus agar menu makanan untuk anak terjamin aspek gizinya. “Secara umum, setengah piring makan terdiri dari makanan pokok yang sedikit lebih banyak dari lauk pauk. Separuhnya lagi, sayur yang banyak dan buah. Dan protein hewani agar asupan asam amino esensialnya terpenuhi,” ungkap Endang. Anak-anak suka sekali dengan makanan…
Read More
Simak 5 Kebiasaan Anak Milenial yang Merusak Kesehatan

Simak 5 Kebiasaan Anak Milenial yang Merusak Kesehatan

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5540" align="alignleft" width="300"] Foto: keluargacinta.com[/caption] Generasi milenial cenderung cuek dalam hal menjaga kesehatannya. Mereka terjebak pada kebiasaan-kebiasaan yang dapat merusak kesehatannya. Hindari 5 kebihasaan berikut agar tidak menyesal di hari tua nanti, yang disarikan dari berbagai sumber: Enggan berolahraga Olahraga adalah kunci dari tubuh sehat. Hanya dengan berolahraga beberapa jam setiap minggu, kamu bisa mencegah datangnya berbagai penyakit di hari tua. Sayangnya kebanyakan milenial dengan segudang aktivitas hariannya merasa bahwa olahraga tidak sempat dilakukan. Kuncinya adalah rutinitas, bukan olahraga berat, tapi waktunya hanya sesekali. Tidak mau membatasi makanan Saat ini industri kuliner Indonesia mengalami perkembangan pesat. Di mana-mana, bahkan setiap waktu, ada saja makanan baru yang menjadi hits di tengah kita. Bukan hanya makanan nusantara, makanan internasional pun menyelimuti kehidupan hari ini. Makanan-makanan tersebut pun kian mudah ditemukan. Kondisi…
Read More
Anak Bisa Obesitas Gara-gara Sering Tidur Larut Malam

Anak Bisa Obesitas Gara-gara Sering Tidur Larut Malam

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5534" align="alignleft" width="300"] Foto: vemale.com[/caption] Kualitas tidur anak mestilah bagus dan tercukupi. Sayangnya, ada banyak anak yang tidur larut malam. Pun masih banyak orangtua yang belum menyadari pengaruh buruk bila anak tidur larut malam. Tak jarang ada juga orangtua yang masih meremehkan waktu tidur sehat anak . Berikut alasan anak tidak boleh tidur larut malam seperti mengutip Step to Health. Sulit konsentrasi Kualitas tidur yang buruk memiliki efek negatif pada kesehatan mental anak. Tidak cukup tidur dapat membuat anak kurang waspada secara mental dan tidak dapat berkonsentrasi pada kegiatan mereka. Selain itu, tidur terlalu larut dapat menyebabkan si kecil menjadi malas dan kurang aktif. Kantuk sepanjang hari Tidur terlalu larut bagi Si Kecil dapat menyebabkan mereka menjadi malas dan selalu merasa kantuk di siang hari. Wakti tidur yang kurang…
Read More
Ini Cara Mudah Atasi Batuk Pilek Anak

Ini Cara Mudah Atasi Batuk Pilek Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5497" align="alignleft" width="300"] Foto: www.klikdokter.com[/caption] Batuk dan pilek menjadi ‘penyakit langganan’ bagi anak-anak. Seringkali kondisi demikian membuat orangtua khawatir. Namun, anda tak perlu panik karena anda hanya memerlukan mudah berikut ini. Berikut cara mengatasi batu pilek anak: Oles minyak butbut atau telon di seluruh badan sekalian pijat termasuk wajah tengkuk dekat hidung, batang hidung, di leher belakang. Balur badan dengan bawang merah parut yang dicampur minyak VCO (Virgin COCOnut Oil). Parut kencur atau pala taruh di ubun-ubun Dipojok rumah taruh baskom berisi air panas + 7 tetes minyak kayu putih Dipojok kamar taruh irisan bawang merah untuk mematikan virus-virus di udara Gempur ASI Jemur saat matahari pagi Bisa pakai balsem bayi transpulmin untuk melegakan Untuk mengencerkan ingus bisa pakai breathy nasal drop (larutan NaCI) Jauhkan kontak dengan orang dewasa…
Read More
Biarkan Si Kecil Bertelanjang Kaki Diluar Rumah

Biarkan Si Kecil Bertelanjang Kaki Diluar Rumah

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5494" align="alignleft" width="300"] Foto: www.parenting.co.id[/caption] Kebanyakan orangtua tidak akan membolehkan anaknya yang masih kecil untuk berjalan keluar rumah tanpa alas kaki.  Alasannya takut kotor dan banyak kuman. Namun ternyata membiarkan si kecil bertelanjang kaki memberikan beberapa manfaat yang baik untuk tumbuh kembangnya. Berikut beberapa manfaat bertelanjang kaki untuk kesehatan bayi, seperti dilansir dari laman Boldsky: Meningkatkan keterampilan motorik dasar Dengan membiasakan si kecil untuk berjalan di lingkungan terbuka, seperti di taman dan di lapangan dapat meningkatkan kemampuan motoriknya lebih baik. Ini karena kaki yang dibiasakan bebas di alam terbuka dapat membantu anak merasakan perbedaan tekstur sehingga membantu merangsang kemampuan motorik agar berkembang secara optimal. Membantu perkembangan otot dan ligamen anak Membiarkan anak berjalan dengan bertelanjang kaki ternyata dapat membantu perkembangan otot kaki dan ligamen si kecil dengan tepat. Selain…
Read More
Terlalu Banyak Ikut Les Bisa Ganggu Jiwa Anak?

Terlalu Banyak Ikut Les Bisa Ganggu Jiwa Anak?

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5491" align="alignleft" width="300"] Foto: www.klikdokter.com[/caption] Banyak orangtua yang terlalu memforsir anaknya untuk selalu berprestasi. Sehingga mereka mendaftarkan anaknya untuk ikut berbagai les. Benarkah hal itu bisa sampai mengganggu kejiwaan anak? Menurut Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, itu tidak benar. Yang umum terjadi adalah anak akan merasa stress dan tertekan. Kebanyakan dikarenakan banyaknya materi yang mereka dapat dari les tersebut. “Anak yang kebanyakan les tidak sampai gangguan jiwa. Kalau pun (menderita) gangguan jiwa, anak itu mungkin mengalami kekerasan tertentu di tempat les dalam jangka waktu lama,” jelas Anna. Gangguan jiwa yang dialami seseorang tidak langsung terjadi dalam waktu cepat, melainkan butuh waktu yang lama. Anna menambahkan, seseorang yang mengalami gangguan jiwa biasanya dipicu oleh faktor-faktor yang kuat. Misal, orang yang bersangkutan mengalami kekerasan secara terus-menerus dalam jangka waktu…
Read More
Cegah Stunting Sebelum Lewat 2 Tahun Usia Bayi

Cegah Stunting Sebelum Lewat 2 Tahun Usia Bayi

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5488" align="alignleft" width="300"] Foto: www.mediatataruang.com[/caption] Stunting merupakan masalah kurangan gizi kronis yang umumnya terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia 2 tahun. Saat ini, sebanyak sekitar 37 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Menurut Dokter Spesialis Anak yang juga Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik FKUI/RSCM, Damayanti Rusli Sjarif, stunting bisa dicegah setelah bayi lahir dengan melakukan berbagai perbaikan dalam pemenuhan gizi sebelum bayi berusia 2 tahun. “Terlambat jika mau mengatasi bayi stunting di usia lebih dari 2 tahun. Sebab saat itu masa perkembangan otak maksimal sudah berakhir,” kata Damayanti. Menurut dia, tanda-tanda malnutrisi tahap awal harus dideteksi untuk mencegah bayi stunting. Sebab itu, orang tua harus cermat jika terjadi penurunan berat badan yang drastis. “Berat badan bayi saat lahir sudah meramalkan kemampuan kognitif mereka,” kata…
Read More