Semangat Beraktivitas Minimalisir Penyakit Tak Menular

Semangat Beraktivitas Minimalisir Penyakit Tak Menular

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6690" align="alignleft" width="300"] Foto: ciputrahostpital.com[/caption] Penyebab kematian terbanyak di Indonesia saat ini disebabkan penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit ginjal kronis, diabetes melitus, dan hipertensi. Kurangnya aktivitas fisik seseorang akan berpotensi mengalami penyakit tersebut. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan proporsi penduduk Indonesia usia lebih dari 10 tahun yang kurang melakukan aktivitas fisik jumlahnya meningkat dari 26,1 persen pada 2013 menjadi 33,5 persen pada 2018. Menurut drg. Kartini Rustandi, M.Kes., Direktur Kesehatan Kerja dan Olahraga, perlunya aktivitas fisik untuk meningkatkan kebugaran jantung, paru, kekuatan dan daya tahan otot, serta menurunkan risiko penyakit tidak menular. “Jalan kaki salah satu aktivitas fisik yang murah dan mudah dilakukan. Semua kegiatan aktivitas fisik mudah dilakukan tanpa biaya mahal, yang penting mau. Kalau ingin hasilnya baik berdampak harus teratur,” kata Kartini. Kartini menambahkan jika…
Read More
Penderita Silent Killer Terus Menanjak

Penderita Silent Killer Terus Menanjak

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6687" align="alignleft" width="300"] Foto: cnnindonesia.com[/caption] Penderita hipertensi di dunia begitu mencengangkan. Sekitar 26 persen populasi dunia atau sekitar 972 juta orang diantaranya menderita hipertensi dan prevalensinya diperkirakan meningkat menjadi 29 persen pada 2025. Bagaimana dengan Indonesia? Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebanyak 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%). Banyak pasien hipertensi yang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau silent killer. “Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila secara meyakinkan memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada sedikitnya 3x pengukuran dengan cara dan alat yang benar…
Read More
Ini Tanda-Tana Munculnya Penyakit Mental

Ini Tanda-Tana Munculnya Penyakit Mental

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6675" align="alignleft" width="300"] Foto: idntimes.com[/caption] Berbagai masalah kesehatan mental kerap muncul seperti, depresi, kecemasan, gangguan bipolar, namun banyak orang tidak menyadarinya. Sejatinya, kesehatan mental mencakup kesejahteraan psikologis, sosial, dan emosional seseorang. Kesehatan mental sering diabaikan dan perlu tindakan segera karena memengaruhi perasaan, tindakan, dan cara berpikir. Guna mengentaskan masalah kesehatan mental, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental dan mencari bantuan yang tepat ketika gejala tersebut muncul. Sementara, tanda-tanda penyakit mental di antaranya adalah halusinasi, berpikir bingung atau delusi, penarikan dari koneksi sosial, penggunaan zat dan pikiran untuk bunuh diri. Dilansir dari Times Now News, penyakit mental juga memiliki gejala lain yang harus diperhatikan. Mulai dari kekhawatiran atau kecemasan yang berlebihan Perasaan marah yang kuat Perubahan kebiasaan tidur Kesedihan atau iritabilitas yang berkepanjangan Kehilangan minat dalam aktivitas…
Read More
Simak 7 Makanan Bantu Kendalikan Tekanan Darah

Simak 7 Makanan Bantu Kendalikan Tekanan Darah

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6672" align="alignleft" width="300"] Foto: honestdocs.com[/caption] Saat ini, hipertensi telah menjadi penyakit yang sangat umum dan harus dicatat bahwa tekanan darah tinggi sering tidak menunjukkan gejala yang khas. Tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi dimana tekanan yang diberikan oleh darah pada pembuluh darah melebihi kisaran normal. “Hipertensi, jika tidak diobati atau tidak dikelola, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” kata ahli gizi Nmami Agarwal, pendiri & CEO, Nmami Life seperti dilansir The Indian Express. Menurut Nmami, diet yang tepat bisa membantu mengelola tekanan darah tinggi dengan atau tanpa obat. Nmami memaparkan sejumlah makanan yang membantu menurunkan tekanan darah. Pisang Pisang adalah sumber kalium makanan yang sangat baik, mineral yang membantu mengatur tingkat tekanan darah. Sesuai dengan studi ilmiah, makan dua pisang sehari dapat membantu mengurangi tekanan darah sebesar 10 persen. Sayuran…
Read More
Lansia Disarankan lakukan Medical Check Up

Lansia Disarankan lakukan Medical Check Up

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6656" align="alignleft" width="300"] Foto: voiceofsoman.com[/caption] Proses penuaan membuat kelompok lansia cenderung lebih rentan terhadap beragam penyakit degeneratif. Itu sebabnya, Lansia penting untuk mendeteksi penyakit-penyakit degeneratif ini secara dini agar lansia bisa mendapatkan penanganan medis yang optimal. Kepala Instalasi Ocupational Health Center RS Yarsi dr Edi Alpino MKK., menjelaskan, kita ketahui fungsi organ akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Beberapa penyakit degeneratif yang cukup banyak ditemukan pada lansia adalah diabetes mellitus, hipertensi, hingga penyakit sereberovaskular. Kemampuan fungsi beberapa organ penting seperti ginjal, hati, maupun jantung juga dapat mengalami penurunan pada lansia. Permasalahan lain yang cukup banyak ditemukan pada lansia adalah demensia. “Terjadi suatu penurunan misalnya daya ingat, kemudian fokus terhadap satu pekerjaan atau kegiatan,” kata Edi. Penyakit-penyakit ini bisa saja tidak terdeteksi dan tertangani dalam waktu lama. Bila terabaikan, penyakit-penyakit…
Read More
Kuasai Banyak Bahasa Minimalisir Risiko Pikun

Kuasai Banyak Bahasa Minimalisir Risiko Pikun

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6653" align="alignleft" width="300"] Foto: quora.id[/caption] Penelitian baru di Kanada menemukan bahwa memiliki kemampuan yang kuat untuk belajar bahasa memiliki efek baik ke kesehatan otak. Belajar bahasa dapat membantu mengurangi risiko individu terkena demensia atau pikun. Sebuah penelitian di University of Waterloo dengan mengamati 325 biarawati Katolik Roma di Amerika Serikat yang mengambil bagian dalam Studi Biarawati yang lebih besar dan diakui secara internasional. Ini merupakan studi longitudinal dari para biarawati yang berusia 75 tahun ke atas. Dilansir dari Malay Mail,  disebutkan para biarawati diminta untuk melaporkan berapa banyak bahasa yang mereka gunakan. Sebanyak 106 sampel karya tulis para biarawati juga disediakan untuk analisa. Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer's Disease, menunjukkan bahwa hanya 6 persen dari para biarawati yang berbicara empat atau lebih bahasa yang secara bertahap mengalami demensia.…
Read More
Meditasi, Kosongkan Pikiran atau Berhenti Berpikir?

Meditasi, Kosongkan Pikiran atau Berhenti Berpikir?

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6636" align="alignleft" width="300"] Foto: grid.id[/caption] Ketika kita hendak melakukan meditasi, salah satu hal yang penting untuk dilakukan adalah mengosongkan pikiran. Untuk dapat membuat pikiran menjadi kosong, hal yang pertama kali bisa kita coba adalah berhenti berpikir. Seringkali kita bakal berusaha untuk berhenti memikirkan hal-hal ini, namun kita tidak bisa. Bahkan ketika kita mencoba tidur dengan mulai mengosongkan pikiran, malah semakin banyak hal yang muncul di otak kita sehingga semakin kesulitan untuk tidur. Ketika melakukan meditasi, hal yang sama juga bakal kita alami. Kita bakal merasa sulit untuk mengosongkan pikiran, ketika kita mulai bisa mengosongkan pikiran, selanjutnya malah muncul rasa ngantuk dan muncul pikiran untuk tidur. Lalu, sebenarnya apakah kita benar-benar bisa mengosongkan pikiran? Menurut Michael Halassa, asisten profesor dari departemen pengetahuan otak dan kognitif di MIT menyebut bahwa kita…
Read More
Simak 7 Tingkat Keparahan Penyakit Demensia

Simak 7 Tingkat Keparahan Penyakit Demensia

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6633" align="alignleft" width="300"] Foto: beritasatu.com[/caption] Penyakit Demensia biasa ditandai dengan penurunan daya ingat, cara berpikir, dan berbicara. Penderita penyakit ini memiliki tingkat keparahan masing-masing yang berbeda. Tingkat keparahan demensia yang dialami lebih banyak lanjut usia (lansia) ini semakin parah bila orang yang bersangkutan tidak mendapat pertolongan medis. Dokter spesialis kejiwaan konsultan Tribowo Tuahta Ginting menjelaskan, tahapan keparahan demensia yang kian memburuk. Gejala awal demensia memang kehilangan memori atau gangguan fungsi kognitif. Tapi demensia ada derajatnya (tingkat keparahan). Kalau derajat 1 malah biasanya tidak ditemukan adanya kehilangan fungsi memori. Derajat 2 terjadi penurunan memori ringan. Derajat 3, gejala demensia bisa dilihat orang lain, seperti orang tersebut sulit konsentrasi dan bermasalah perencanaan. Derajat 4, orang yang demensia mulai lupa kejadian yang baru terjadi. Selanjutnya, derajat 5 orang demensia perlahan-lahan lupa alamat…
Read More
Ini 5 Kebiasaan Berdampak Negatif Terhadap Otak

Ini 5 Kebiasaan Berdampak Negatif Terhadap Otak

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6615" align="alignleft" width="300"] Foto: cnnindonesia.com[/caption] Selama ini, seseorang menjaga kesehatan dengan lebih banyak memperhatikan sejumlah kondisi fisik mereka. Hal lain yang kadang menjadi perhatian mereka adalah kesehatan organ dalam seperti jantung dan paru-paru. Menjaga kesehatan seluruh hal tersebut memang merupakan hal yang baik dan disarankan. Namun selama ini terdapat hal terpenting yang luput dari perhatian banyak orang yaitu, pada otak. Otak merupakan organ tubuh yang paling kompleks dan memegang peran penting terhadap seluruh fungsi tubuh. Sayangnya bagian terpenting ini malah sering lepas dari pengawasan. Otak bisa sangat sensitif dan mempengaruhi gaya hidup seseorang. Apa yang kamu lakukan dan konsumsi bisa sangat mempengaruhi baik secara positif maupun negatif terhadap kesehatan otak. Penelitian terdahulu menyebut bahwa perubahan gaya hidup yang sederhana bisa membantu mencegah penurunan kognitif. Terdapat pola makan yang bisa…
Read More
Lansia Derita Dermatitis Atopik, Ini Masalahnya

Lansia Derita Dermatitis Atopik, Ini Masalahnya

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6609" align="alignleft" width="300"] Foto: sehatq.com[/caption] Dermatitis Atopik (DA) merupakan penyakit kulit kronis yang bisa muncul secara berulang. Tidak hanya anak-anak, lanjut usia pun bisa terkena penyakit ini. Dermatitis Atopik pada lansia sendiri memiliki kondisi khusus yang dikenal dengan Pruritus Senulis. Hal tersebut menyebabkan rasa gatal yang dominan namun dengan gejala kulit yang minim. “Pasien lansia lebih rentan terkena DA daripada dewasa. Karena kondisi kulit yang lebih tipis dan turunnya daya tahan kulit, serta sistem imun yang rendah,” ucap Ronny Handoko, dokter spesialis kulit dan kelamin. Kondisi kulit penderita GA juga cenderung lebih kering, khususnya bagi lansia. Kulit mereka begitu sensitif terhadap benda asing seperti cuaca, keringat, atau debu. Ruam yang ditimbulkan juga berada dilebih banyak titik daripada balita. Jika pada bayi, ruam mungkin hanya akan timbul pada bagian wajah,…
Read More