Anak Rentan Batuk Pilek? Ini Penyebabnya

Anak Rentan Batuk Pilek? Ini Penyebabnya

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6684" align="alignleft" width="300"] Foto: theasianparent.id[/caption] Anak kecil rentan terkena batuk pilek. Kondisi sistem kekebalan tubuh anak kecil yang masih berkembang membuat mereka belum mampu menerima paparan kuman yang begitu banyak dan bertebaran di lingkungan sekitar. “Kenapa anak kecil mudah batuk pilek. Ya, karena kuman yang jenisnya jutaan itu belum 'dikenal' semua oleh tubuhnya. Beda dengan kita yang hidup 20 atau 30 tahun. Tubuh kita sudah terbiasa dengan paparan kuman. Itulah kenapa kita (orang dewasa) tidak mudah sakit atau serentan anak kecil dan bayi,” papar dokter spesialis anak Kanya Fidzuno. Pada prinsipnya, ketika ada kuman masuk ke dalam tubuh, sistem kekebalan kita akan berupaya mengenali kuman asing. Secara normal, tubuh mulai beradaptasi dengan kuman. “Kalau kita pertama kali terpapar suatu kuman, misalnya, bisa saja kita langsung sakit. Tapi begitu tubuh…
Read More
Penderita Silent Killer Terus Menanjak

Penderita Silent Killer Terus Menanjak

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6687" align="alignleft" width="300"] Foto: cnnindonesia.com[/caption] Penderita hipertensi di dunia begitu mencengangkan. Sekitar 26 persen populasi dunia atau sekitar 972 juta orang diantaranya menderita hipertensi dan prevalensinya diperkirakan meningkat menjadi 29 persen pada 2025. Bagaimana dengan Indonesia? Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebanyak 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55-64 tahun (55,2%). Banyak pasien hipertensi yang tidak mengetahui bahwa dirinya telah menderita tekanan darah tinggi karena seringkali tidak adanya gejala. Oleh karenanya hipertensi sering disebut sebagai pembunuh senyap atau silent killer. “Seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila secara meyakinkan memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg pada sedikitnya 3x pengukuran dengan cara dan alat yang benar…
Read More
Cegah Stunting, Perhatikan Protein yang Dikonsumsi Anak

Cegah Stunting, Perhatikan Protein yang Dikonsumsi Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6681" align="alignleft" width="300"] Foto: medcom.id[/caption] Sumber protein, baik hewani maupun nabati, memiliki pengaruh positif apabila diberikan saat anak berusia enam bulan atau mulai mengonsumsi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI). Hal ini dikatakan Pakar gizi dari Universitas Indonesia, Prof Dr dr Saptawati Bardosono MSc., di Jakarta, beberapa waktu lalu. Menurutnya, energi total yang masuk ke tubuh si kecil berkontribusi sebesar 40 persen agar anak tidak stunting. “Kalau protein (saja) 34 persen, tapi kalau protein yang berkualitas sudah 40 persen. Kalau kita gabung (dari sumber makanan lain) menjadi 43 persen,” kata Saptawati. Salah satu sumber protein adalah susu. Oleh sebab itu, Saptawati menganjurkan kepada para ibu agar memasukkan kegiatan minum susu di periode pemberian makanan pendamping ASI (MPASI). Pemberian susu dan sumber protein lainnya di periode tersebut akan merangsang pertumbuhan…
Read More
Ini Tanda-Tana Munculnya Penyakit Mental

Ini Tanda-Tana Munculnya Penyakit Mental

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6675" align="alignleft" width="300"] Foto: idntimes.com[/caption] Berbagai masalah kesehatan mental kerap muncul seperti, depresi, kecemasan, gangguan bipolar, namun banyak orang tidak menyadarinya. Sejatinya, kesehatan mental mencakup kesejahteraan psikologis, sosial, dan emosional seseorang. Kesehatan mental sering diabaikan dan perlu tindakan segera karena memengaruhi perasaan, tindakan, dan cara berpikir. Guna mengentaskan masalah kesehatan mental, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah kesehatan mental dan mencari bantuan yang tepat ketika gejala tersebut muncul. Sementara, tanda-tanda penyakit mental di antaranya adalah halusinasi, berpikir bingung atau delusi, penarikan dari koneksi sosial, penggunaan zat dan pikiran untuk bunuh diri. Dilansir dari Times Now News, penyakit mental juga memiliki gejala lain yang harus diperhatikan. Mulai dari kekhawatiran atau kecemasan yang berlebihan Perasaan marah yang kuat Perubahan kebiasaan tidur Kesedihan atau iritabilitas yang berkepanjangan Kehilangan minat dalam aktivitas…
Read More
Jangan Langsung Panik Bila Anak Demam!

Jangan Langsung Panik Bila Anak Demam!

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6669" align="alignleft" width="300"] Foto: mommyasia.com[/caption] Ketika seorang anak berada dalam kondisi demam, orangtua bakal panik dan mencari segala cara. Kadang orangtua bakal memberi obat terlebih dahulu, sedangkan beberapa orangtua langsung membawa anak ke dokter. Lantas, kapan sebenarnya orangtua harus membawa anak ke dokter ketika demam? Pada anak-anak, demam terjadi ketika suhu tubuh berada di atas 38 derajat Celsius. Sedangkan pada bayi, kategori demam ketika suhunya di atas 37,5 derajat Celsius. Cara paling tepat untuk mengukur suhu tubuh adalah dengan menggunakan termometer. “Demam harus dipastikan dengan memeriksa suhu tubuh menggunakan termometer. Karena seringkali kita menemukan perbedaan suhu pada kepala dan kaki. Jadi untuk memastikan, harus diperiksa melalui termometer,” kata dokter spesialis anak konsultan Nina Dwi Putri live Instagram Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Anak yang memiliki penyakit bawaan seperti kelainan…
Read More
Simak 7 Makanan Bantu Kendalikan Tekanan Darah

Simak 7 Makanan Bantu Kendalikan Tekanan Darah

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6672" align="alignleft" width="300"] Foto: honestdocs.com[/caption] Saat ini, hipertensi telah menjadi penyakit yang sangat umum dan harus dicatat bahwa tekanan darah tinggi sering tidak menunjukkan gejala yang khas. Tekanan darah tinggi adalah suatu kondisi dimana tekanan yang diberikan oleh darah pada pembuluh darah melebihi kisaran normal. “Hipertensi, jika tidak diobati atau tidak dikelola, dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke,” kata ahli gizi Nmami Agarwal, pendiri & CEO, Nmami Life seperti dilansir The Indian Express. Menurut Nmami, diet yang tepat bisa membantu mengelola tekanan darah tinggi dengan atau tanpa obat. Nmami memaparkan sejumlah makanan yang membantu menurunkan tekanan darah. Pisang Pisang adalah sumber kalium makanan yang sangat baik, mineral yang membantu mengatur tingkat tekanan darah. Sesuai dengan studi ilmiah, makan dua pisang sehari dapat membantu mengurangi tekanan darah sebesar 10 persen. Sayuran…
Read More
Anak Sembelit? Kenali Masalahnya

Anak Sembelit? Kenali Masalahnya

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6666" align="alignleft" width="300"] Foto: otcdigest.id[/caption] Kondisi sembelit atau sulit buang air besar merupakan hal yang biasa terjadi dan tak kenal usia. Pada anak-anak, masalah ini bisa sangat mengganggu dan membuat orangtua cemas. Buang Air Besar (BAB) merupakan fase akhir dari proses pencernaan. Ketika sisa-sisa makanan yang sudah termetabolisme oleh tubuh mengalami berbagai proses, ampasnya akan dikeluarkan dalam bentuk feses. “Kesulitan untuk mengeluarkan feses inilah yang kita sebut sebagai sembelit,” ucap Dr. Ade Djanwardi Pasaribu, ahli gastrohepatologi anak. Pada anak-anak, kondisi ini begitu menganggu. Perut bisa terasa sakit dan anak mengalami kesulitan untuk mengeluarkan fesesnya yang sudah menumpuk dan keras. “Ketika feses mengeras dan anak mengalami kesulitan BAB, perut akan terasa sakit. Itu bisa saja mengurangi keinginan anak untuk BAB,” tambah Dr. Ade. Umumnya, bayi yang baru lahir biasanya akan…
Read More
Lansia Disarankan lakukan Medical Check Up

Lansia Disarankan lakukan Medical Check Up

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6656" align="alignleft" width="300"] Foto: voiceofsoman.com[/caption] Proses penuaan membuat kelompok lansia cenderung lebih rentan terhadap beragam penyakit degeneratif. Itu sebabnya, Lansia penting untuk mendeteksi penyakit-penyakit degeneratif ini secara dini agar lansia bisa mendapatkan penanganan medis yang optimal. Kepala Instalasi Ocupational Health Center RS Yarsi dr Edi Alpino MKK., menjelaskan, kita ketahui fungsi organ akan menurun seiring dengan bertambahnya usia. Beberapa penyakit degeneratif yang cukup banyak ditemukan pada lansia adalah diabetes mellitus, hipertensi, hingga penyakit sereberovaskular. Kemampuan fungsi beberapa organ penting seperti ginjal, hati, maupun jantung juga dapat mengalami penurunan pada lansia. Permasalahan lain yang cukup banyak ditemukan pada lansia adalah demensia. “Terjadi suatu penurunan misalnya daya ingat, kemudian fokus terhadap satu pekerjaan atau kegiatan,” kata Edi. Penyakit-penyakit ini bisa saja tidak terdeteksi dan tertangani dalam waktu lama. Bila terabaikan, penyakit-penyakit…
Read More
Waspadai, Bullying Pada Anak Akibatkan Trauma Panjang

Waspadai, Bullying Pada Anak Akibatkan Trauma Panjang

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6650" align="alignleft" width="300"] Foto: dream.co.id[/caption] Bullying atau perundungan di media sosial merupakan salah satu masalah yang muncul seiring kemajuan teknologi. Hal ini bisa menimbulkan dampak yang panjang pada korbannya bahkan berujung trauma. “Kalau dulu bully dilakukan secara langsung, bisa dari verbal maupun fisik. Tetapi sekarang, kita tidak perlu berada di ruangan yang sama, orang bisa mem-bully dan melukai perasaan seseorang,” ucap pendiri Sudah Dong, komunitas gerakan anti-bullying Katyana Wardhana. Kemudahan yang ditawarkan oleh media sosial membuat seseorang terkadang lupa bahwa cyber bullying merupakan sesuatu yang sangat berbahaya dan memiliki efek jangka panjang. “Media sosial bisa digunakan tanpa nama asli, itu membuatnya menjadi lebih mudah melakukan cyber bullying. Ini juga bisa berdampak jangka panjang, karena cyber bullying memang tidak menyerang fisik seseorang, tetapi menyerang hati (perasaan),” tambah Katyana. Sementara itu,…
Read More
Kuasai Banyak Bahasa Minimalisir Risiko Pikun

Kuasai Banyak Bahasa Minimalisir Risiko Pikun

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6653" align="alignleft" width="300"] Foto: quora.id[/caption] Penelitian baru di Kanada menemukan bahwa memiliki kemampuan yang kuat untuk belajar bahasa memiliki efek baik ke kesehatan otak. Belajar bahasa dapat membantu mengurangi risiko individu terkena demensia atau pikun. Sebuah penelitian di University of Waterloo dengan mengamati 325 biarawati Katolik Roma di Amerika Serikat yang mengambil bagian dalam Studi Biarawati yang lebih besar dan diakui secara internasional. Ini merupakan studi longitudinal dari para biarawati yang berusia 75 tahun ke atas. Dilansir dari Malay Mail,  disebutkan para biarawati diminta untuk melaporkan berapa banyak bahasa yang mereka gunakan. Sebanyak 106 sampel karya tulis para biarawati juga disediakan untuk analisa. Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Alzheimer's Disease, menunjukkan bahwa hanya 6 persen dari para biarawati yang berbicara empat atau lebih bahasa yang secara bertahap mengalami demensia.…
Read More