Ini 9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Ginjal

Ini 9 Kebiasaan Buruk yang Bisa Merusak Ginjal

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6031" align="alignleft" width="300"] Foto: leminerale.com[/caption] Saat ini, kita bisa saja dengan mudah menjalani gaya hidup yang buruk. Kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari tersebut tanpa sadar bisa mempengaruhi kesehatan kita kedepannya. Banyak orang kerap mengalami masalah dengan ginjal karena pola hidup mereka yang buruk. Berikut ini 9 kebiasaan buruk yang bisa meningkatkan risiko penyakit ginjal: Konsumsi makanan olahan Saat ini kita biasa mengkonsumsi makanan olahan yang lebih mudah didapatkan. Tetapi, makanan olahan yang dikemas mengandung banyak fosfos dan natrium. Dua bahan ini adalah penyebab utama dari kerusakan ginjal. Sehingga disarankan kita mengurngi makanan olahan seperti burger, kue kering, sosis atau sayuran kaleng. Obat penghilang rasa sakit Sebagian dari kita mungkin kerap mengkonsumsi obat penghilang rasa sakit. Tetapi, hal ini juga akan merusak ginjal kita dan memperburuk seseorang yang telah mengalami penyakit ginjal.…
Read More
Alergi Pada Anak Usia Dini, Ini Penyebabnya

Alergi Pada Anak Usia Dini, Ini Penyebabnya

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6024" align="alignleft" width="300"] Foto: serbaweb.com[/caption] Alergi yang dimiliki oleh seseorang baik berupa makanan atau hal lain merupakan sesuatu yang tidak nyaman. Masalah alergi ini biasanya bisa diturunkan ke anak ketika orangtua memiliki alergi yang sama. “Apabila kedua orangtua punya alergi, anaknya punya risiko 40-60 persen terkena alergi. Meningkat 80 persen jika orangtuanya punya alergi sama,” ungkap Budi Setiabudiawan, Konsultan Alergi dan Imunologi Anak di Rumah Maroko, Jakarta Pusat. Sayangnya, alergi tidak bisa disembuhkan. “Hanya bisa dikontrol dengan mengenali gejala alergi sejak dini,” katanya. Dengan mengenali sejak dini, alergi tidak akan terlalu parah dan menghindari risiko penyakit lanjutan seperti jantung, hipertensi dan ginjal. “Kenali gejala alergi di tiga tempat, kulit, saluran cerna dan pernapasan. Seperti anak sering gumoh, mual, dermatitis eksim dan batuk pilek,” ujarnya. Setelah mendapat gejala alergi, orangtua bisa…
Read More
Obesitas Bisa Berisiko Kanker Pankreas

Obesitas Bisa Berisiko Kanker Pankreas

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6028" align="alignleft" width="300"] Foto: suara.com[/caption] Kanker pankreas relatif tidak umum, terhitung hanya lebih dari tiga persen dari semua kasus kanker baru. Namun, pankreas adalah jenis kanker yang sangat mematikan dengan tingkat kelangsungan hidup lima tahun hanya 8,5 persen. Berdasarkan studi, kelebihan berat badan sebelum usia 50 tahun secara signifikan dapat meningkatkan risiko kematian. “Tingkat kanker pankreas terus meningkat sejak awal 2000-an,” kata Eric J Jacobs, direktur ilmiah senior Epidemiology Research di American Cancer Society di Amerika Serikat. “Kami bingung dengan kenaikan itu karena merokok - faktor risiko utama kanker pankreas - menurun,” katanya dalam sebuah pernyataan. Sebagian besar penelitian sebelumnya menghubungkan antara berat dan kanker pankreas didasarkan pada berat bedan yang diukur pada usia dewasa yang lebih tua, yang mungkin kurang informatif karena bisa mencerminkan lemak tubuh yang diperoleh…
Read More
Jaman Sekarang Anak Gemuk Tidak Lucu Lagi

Jaman Sekarang Anak Gemuk Tidak Lucu Lagi

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_6021" align="alignleft" width="300"] Foto: ekafarm.com[/caption] Anak kecil atau bayi yang gemuk cenderung dianggap lucu dan menggemaskan bagi banyak orang. Namun di balik lucunya bayi yang memiliki tubuh gemuk, terdapat bahaya yang mengancam kesehatannya. Menurut Aman B. Pulungan, dokter spesialis anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, anak yang gemuk sebenarnya tidak lucu. Bisa jadi, ada risiko terkena kelebihan berat badan pada dirinya. Aman mengatakan bahwa anak saat ini lebih rentan terkena obesitas salah satu faktornya karena gaya hidup yang tidak aktif. Berbeda dengan beberapa dekade lalu, tren permainan saat ini bergeser sehingga tidak lagi membutuhkan banyak aktivitas fisik. “Tahun 80-an, anak masih main Lego dan lain-lain, sekarang mainnya gim. Jadi lebih banyak menghabiskan waktu duduk,” kata Aman di Jakarta, beberapa waktu lalu. Maka dari itu, orangtua diminta untuk mencegah masalah…
Read More
Olahraga Berlebihan, Simak 6 Tanda Serius Ini

Olahraga Berlebihan, Simak 6 Tanda Serius Ini

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6006" align="alignleft" width="300"] Foto: galena.co.id[/caption] Olahraga teratur sangat penting untuk menurunkan berat badan. Aturan sederhananya adalah, semakin banyak kalori yang dibakar, semakin cepat penurunan berat badan. Tetapi beberapa orang cenderung berlebihan dengan asumsi bahwa olahraga berlebih akan bermanfaat. Orang-orang menghabiskan berjam-jam di gym, melatih berbagai jenis peralatan untuk mendapatkan kondisi yang baik. Tapi tahukah Anda bahwa berolahraga berlebihan sebenarnya bisa menjadi kecanduan? Pada kenyataannya, segala sesuatu yang berlebihan buruk bagi kesehatan, bahkan berolahraga. Berikut 6 tanda serius berolahraga berlebihan yang harus Anda perhatikan, karena hidup ini terlalu singkat untuk menghabiskan semuanya di gym! Merasa lebih lelah Setelah menghabiskan berjam-jam di gym, jika Anda merasa sangat lelah daripada merasa bersemangat maka ada sesuatu yang salah. Jika Anda merasakan keinginan untuk tidur siang setelahnya, maka kemungkinan besar Anda terlalu memaksakan diri…
Read More
Jangan Sampai Lupa Memberikan Protein Bagi Anak

Jangan Sampai Lupa Memberikan Protein Bagi Anak

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5999" align="alignleft" width="300"] Foto: pinkkorset.com[/caption] Di usia masih dini, anak membutuhkan berbagai macam gizi yang lengkap mulai dari karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Salah satu hal lain yang tak boleh dilupakan adalah juga kebutuhan protein pada anak. Menurut Juwalita Surapsari spesialis gizi dan klinis dari Rumah Sakit Pondok Indah, bayi dan anak-anak yang berada dalam tahap tumbuh dan berkembang, membutuhkan protein lebih banyak per kilogram berat badannya dibandingkan dengan orang dewasa. Asupan protein sehari-hari sendiri bergantung sama berat dan tinggi badan, usia, dan jenis kelamin. Anak membutuhkan protein sekitar 10 persen dari total kebutuhan energi harian atau kurang lebih 10 sampai 20 gram setiap hari. Untuk fungsinya, protein dibutuhkan sebagai zat pembangun. “Protein bisa menyusun otot, membuat hormon, membuat enzim pencernaan,” kata Juwalita. Dia melanjutkan bahwa kekurangan protein dapat…
Read More
Kebanyakan Konsumsi Suplemen Kalsium Berisiko Kanker

Kebanyakan Konsumsi Suplemen Kalsium Berisiko Kanker

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_6002" align="alignleft" width="300"] Foto: klikdokter.com[/caption] Mengonsumsi tablet kalsium secara berlebihan dinilai dapat meningkatkan risiko kanker. Menurut para ilmuwan di Tufts University, Amerika Serikat, mendapatkan nutrisi yang cukup dari sumber makanan lebih bermanfaat daripada mengonsumsi suplemen. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of Internal Medicine menunjukkan bahwa asupan nutrisi tertentu yang memadai mengurangi risiko kematian dari penyebab apapun, ketika sumber nutrisi adalah makanan, tetapi bukan suplemen. Seperti dilansir The Indian Express, para peneliti menemukan bahwa dosis tambahan kalsium melebihi 1.000 miligram per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker. “Karena potensi manfaat dan bahaya penggunaan suplemen terus dipelajari, beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara asupan gizi berlebih dan hasil yang merugikan, termasuk peningkatan risiko kanker tertentu, ”kata Fang Fang Zhang, associate professor di Tufts University, AS. “Penting untuk memahami peran…
Read More
Bayi Kena Demam Berdarah? Kenali Gejalanya

Bayi Kena Demam Berdarah? Kenali Gejalanya

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5996" align="alignleft" width="300"] Foto: go-dok.com[/caption] Terdapat sebuah cara untuk mengetahui apakah bayi mengalami demam berdarah dengue (DBD) atau tidak. Mengenali hal ini sebenarnya bisa cukup pelik terutama karena bayi belum bisa berbicara dan mengeluh sakit. Gejala DBD selain demam yang tidak turun dan buah hati terlihat dehidrasi, orang tua juga perlu tahu gejala lain yang bisa dialami bayi. Gejala yang muncul pada tubuh bayi bisa jadi alarm buat orangtua kemungkinan bayi kena DBD. “Bayi itu (gejala khas DBD) paling muntah dan tidur terus. Kemudian ada bintik-bintik merah yang muncul pada tangan dan kakinya,” kata dokter spesialis anak konsultan Mulya Rahma Karyanti di Kementerian Kesehatan RI, Jakarta. Muncul bintik-bintik merah atau ruam merah pada kulit. Bintik merah ini diikuti dengan gejala lain, seperti kejadian syok (fase kritis) yang dipercepat oleh…
Read More
Penderita Radang Sendi Harus Banyak Jalan Cepat

Penderita Radang Sendi Harus Banyak Jalan Cepat

Artikel, Artikel Umum
[caption id="attachment_5979" align="alignleft" width="300"] Foto: parenting.orami.co.id[/caption] Osteoartritis merupakan bentuk radang sendi yang paling umum di kalangan manula di Amerika Serikat. Osteoartritis lutut, khususnya mempengaruhi 10-13 persen orang berusia 60 atau lebih dan persentase ini naik hingga 40 persen di antara orang yang lebih tua atau berusia 70 tahun. Sayang, saat ini belum ada obatnya dan perawatan yang dilakukan sering kali terdiri dari obat penghilang rasa sakit atau operasi lutut, tergantung pada seberapa besar penyakitnya. Menurut beberapa perkiraan, untuk sekitar 2 dari 5 orang dengan osteoartritis lutut simtomatik, kondisi ini secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian baru yang muncul dalam American Journal of Preventive Medicine meneliti efek aktivitas fisik pada kecacatan yang disebabkan osteoarthritis lutut. Dorothy Dunlop, Ph.D., profesor kedokteran pencegahan di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern di Chicago, IL dan…
Read More
Hal Penting Agar Anak Tidak Mudah Sakit

Hal Penting Agar Anak Tidak Mudah Sakit

Artikel, Artikel Anak
[caption id="attachment_5973" align="alignleft" width="300"] Foto: popmama.com[/caption] Kekurangan berat badan dialami oleh sekitar 2 dari 10 anak Indonesia. Kurangnya berat badan ini membuat mereka menjadi kekurangan sel darah merah dan lebih rentan sakit. Menurut ahli gizi Saptawati Bardosono, sel darah merah dibutuhkan untuk membawa oksigen mengalirkan zat yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Kekurangan sel darah merah juga akan menyebabkan anak menjadi pendek. “Terbukti bahwa 4 dari 10 anak itu sering mengalami infeksi saluran napas, batuk pilek panas secara berulang. Selain itu ada sekitar 1 dari 10 anak mengalami diare yang menghambat penyerapan makanan,” ujarnya. Ancaman terkena berbagai infeksi bisa terjadi ketika anak berada di luar rumah. Anak-anak yang bermain di luar rumah, katanya, 2-3 kali akan lebih tinggi terserang infeksi. Infeksi yang berulang akan mengakibatkan tubuh membutuhkan lebih banyak…
Read More