Lansia Kerap Alami Kaki Bengkak, Ini Cara Mengatasinya

Artikel ini telah direview oleh
Lansia Kerap Alami Kaki Bengkak, Ini Cara Mengatasinya
Foto: enervom.com

Tidak sedikit para lanjut usia (lansia) mengeluhkan masalah pada kaki bengkak. Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Zubairi Djoerban, kaki bengkak pada lansia memang sering terjadi dan penyebabnya bermacam-macam.

“Pertama, pada fungsi ginjal di usia lanjut sudah mulai mengalami penurunan secara perlahan. Nah pada saat itulah fungsi ginjal mulai terganggu,” kata Zubairi Djoerban.

Dikatakannya, terganggunya fungsi ginjal membuat sebagian cairan dalam tubuh akan tergenang dan memengaruhi bagian kaki. Sehingga menimbulkan adanya edema atau pembengkakan, hal ini dikarenakan pada usia lanjut fungsi ginjal sudah menurun. Cara mengatasi kaki bengkak, Zubairi Djoerban menyarankan agar tiap masyarakat lanjut usia mulai mengatur konsumsi garam. Bisa jadi penderita kaki bengkak memiliki kadar natrium yang rendah.

“Kalau kadarnya rendah, maka tidak boleh pantang garam. Biasanya pada usia lanjut, kadar garam pada tubuh bisa rendah. Berbeda jika kondisi kadar garamnya normal, maka untuk menghindari edema harus kurangi garam,” ucap Zubairi Djoerban.

Selain itu, faktor albumin yang kurang juga dapat mempengaruhi kondisi kaki bengkak. Untuk itu, sangat penting agar seseorang mencari tahu terlebih dahulu, apakah gangguan tersebut berasal pada hati atau ginjal.

Baca juga:  Penyakit Jantung Bisa Diidap Orang Muda

Selanjutnya apabila masalah itu sudah diketahui penyebabnya baru bisa diperbaiki. Di sisi lain, adanya pembekuan pembuluh darah di bagian betis dapat mempengaruhi seseorang mengalami bengkak pada kaki. Kondisi ini disebut deep vein tromboflebitis, di mana pengobatannya harus diserahkan kepada dokter.

“Ada obat antipembekuan seperti heparin. Kemudian dilanjutkan obat-obatan pil untuk sekitar enam bulan. Jadi, intinya harus dicari dulu sebab pembengkakan kaki pada usia lanjut. Apakah karena ginjal, kelainan pembuluh darah betis, liver atau masalah lain. Kemudian baru diobati,” tutur Zubairi Djoerban. “Kadang dokter sesekali memberikan obat diuretik misalnya furosemide atau untuk pasien yang memiliki gangguan jantung kadang-kadang diberikan obat spironolactone,” kata dia lagi. (RN)