Pembekuan Darah di Pembuluh Darah Vena Dalam, Kenali Gejalanya

Artikel ini telah direview oleh
Pembekuan Darah di Pembuluh Darah Vena Dalam
Foto: www.mediaindonesia.com (Pembekuan Darah di Pembuluh Darah Vena Dalam)

Pembekuan darah di pembuluh darah vena bagian dalam atau Deep Vein Thrombosis (DVT) dapat terjadi pada orang yang mengalami trauma pada salah satu anggota badan yang terlalu banyak digunakan menurut dokter ahli.

“DVT ini bisa mengenai siapa saja, karena itu kenali gejala agar kondisinya tidak semakin parah. Karena, jika tidak ditangani dengan benar dapat mengancam nyawa pasien,” kata dokter sub-spesalis bedah vaskular dan endovaskular dari Mayapada Hospital Kuningan Yuliardy Limengka.

Dia menyampaikan bahwa tubuh manusia memiliki dua pembuluh darah vena, satu di dekat kulit dan satu lagi di dalam dekat tulang. “Ada tiga penyebab aliran di pembuluh darah vena bisa terhambat, yaitu aliran darah memang kurang lancar sehingga darah cenderung gampang membeku,” katanya.

Penyebab lainnya, ia melanjutkan, adalah kerusakan yang merangsang terjadinya pembekuan darah dan komponen darah yang mudah membeku atau mengental.

Dokter Yuliardy menyampaikan bahwa dalam banyak kasus penggumpalan darah di pembuluh darah vena bagian dalam terjadi pada kaki. Gejala DVT dapat berupa rasa sakit terus menerus di tangan atau kaki, bengkak di satu sisi, serta kadang merasa kesemutan, yang menandakan saraf mulai tergencet akibat pembekuan darah. Selain itu, bagian tubuh yang terdampak akan berwarna kemerahan, lalu berubah menjadi kebiruan hingga akhirnya kulit terlihat sangat pucat.

“Jika mendapat semua gejala itu, segera pergi ke dokter subspesialis bedah vaskular dan endovaskular untuk mendapat penanganan yang tepat,” kata dokter Yuliardy.

Kalau bekuan darahnya kecil dan tidak mengganggu, ia menjelaskan, maka pasien cukup diberi obat-obatan koagulan untuk memberikan kesempatan pada tubuh agar menghancurkan bekuan darah secara perlahan serta mencegah munculnya bekuan darah baru.

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Vaskular dan Endovaskular Indonesia (FESBEVI) itu menyampaikan bahwa tubuh memiliki mekanisme untuk memperbaiki diri. Jika ada cedera, maka komponen darah akan memperbaiki dengan cara menambal.

Namun, aktivitas fisik yang tinggi kadang membuat tubuh kewalahan sehingga terjadi pembekuan darah yang berlebihan. “Dampaknya, pembuluh darah akan rusak,” katanya.

Baca juga:  Lansia Seperti Anak Kecil? Ini Fakta Medisnya

Ia mengatakan bahwa DVT pada fase akut sebaiknya ditangani dengan tindakan operasi yang disebut trombektomi, prosedur medis untuk mengangkat gumpalan darah yang menyumbat pembuluh darah. Menurut dia, trombektomi dapat dilakukan tanpa sayatan dengan dukungan alat medis yang canggih.

Akibat duduk terlalu lama

Pembekuan darah di vena dalam juga bisa diakibatkan karena gemar duduk terlalu lama. “Duduk lebih dari dua jam dapat meningkatkan risiko trombosis vena dalam, apakah itu dalam perjalanan dengan pesawat atau hanya sekedar duduk,” ujar spesialis Hematologi, Dr. Cosphiadi Irawan.

Lebih lanjut, dia mengatakan, trombosis pada vena dalam umumnya terjadi di bagian tungkai kaki. Bila begini, penderita biasanya akan mengalami kaki yang bengkak, perubahan warna (biasanya kemerahan) di kaki, nyeri, dan kulit kaki yang terasa hangat bila diraba.

Pada suatu kasus, trombosis vena dalam bahkan bisa menyebabkan kematian bagi penderitanya. Karmel mengatakan, kasus ini pernah terjadi pada seorang dokter gigi yang menaiki pesawat dari Jakarta menuju Amerika Serikat.

Saat tiba di bandara, orang ini tiba-tiba mengalami sesak nafas dan jatuh kolaps, hingga akhirnya meninggal. Setelah ditelusuri, kata Karmel, sang dokter mengalami trombosis di vena dalam, yang menyebabkan aliran darah ke organ tubuh lain tersumbat. “Kondisi ini terjadi akibat duduk di pesawat pada satu posisi tertentu dalam waktu lama, yakni lebih dari 8 jam,” kata dia.

Selain duduk terlalu lama, terjadinya trombosis vena dalam juga bisa dipicu oleh usia lanjut (di atas 45 tahun), obesitas, kebiasaan merokok, sejumlah penyakit seperti kanker, diabetes melitus dan hipertensi, kemudian faktor genetika.

Pembengkakan kaki

Pada bagian lain, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito A. Damay mengatakan pembengkakan kaki dapat terjadi pada orang yang dalam perjalanan jauh, karena sirkulasi darah yang terganggu akibat duduk terlalu lama. Menurutnya, pembengkakan tersebut bukan hal yang wajar, dan dapat disebabkan oleh beberapa hal, contohnya pembuluh vena yang sudah menua, sehingga kurang elastis lagi dan tidak dapat menahan tensi yang terlalu tinggi.

Baca juga:  Stres Bisa Akibatkan Kekacauan Tubuh dan Gangguan Kulit

“Tekanan karena duduk lama, jadi kan naik ke jantungnya susah. Nah, itu jadi bengkak juga bisa,” ujarnya.

Dia menjelaskan saat pembuluh darah tersebut bengkak, rasa tidak nyaman dikirim ke otak. Menurutnya, berbeda dengan kulit, dimana rasa sakit atau tidak nyaman muncul saat tersayat atau tertusuk, pembuluh darah merasa tidak nyaman saat meregang atau membengkak.

“Otak kita mengasumsikannya berbeda-beda, kadang ada yang bilang ini keram, ada yang bilang ini kesemutan, ada yang bilang ini tegang, ada yang bilang ini rasanya pegel,” ujarnya menambahkan.

Apabila pembengkakan tersebut terjadi berulang-ulang, ujarnya, dapat terjadi komplikasi berupa peradangan atau inflamasi di bagian pembuluh darah kaki sampai ke kulit. Hal tersebut, katanya, menyebabkan kulit berwarna kemerahan atau kebiruan, karena darah kotor yang seharusnya naik ke jantung tidak berhasil naik, sehingga tidak dapat ditukar dengan oksigen, sehingga bersih kembali.

Vito mengatakan pembengkakan tersebut sering muncul pada orang-orang dengan profesi yang melibatkan duduk yang berlama-lama, seperti penyiar radio atau pekerja kantoran. Menurutnya, apabila terjadi seperti itu, pertolongan pertamanya adalah dengan memperbaiki aliran darah melalui vena dengan cara pumping ankle atau menggerak-gerakkan pergelangan kaki maju mundur seperti menginjak pedal gas mobil.

“Nah yang kedua kalau misalkan sulit membayangkan hal tadi, bisa dilakukan dengan cara berdiri dan berjinjit. Nah berdiri dan berjinjit, tapi jangan lama-lama jinjitnya, artinya diulang-ulang,” katanya.

Dia menjelaskan cara itu dapat dilakukan selama 15 menit untuk membantu sirkulasi darah lancar kembali. Menurutnya, kedua hal tersebut dapat dilakukan karena pembuluh darah vena kembali ke jantung melalui aliran di bawah otot kaki. Adapun cara lainnya, ujarnya, adalah dengan merebahkan diri, kemudian mengangkat kaki sekitar 30-45 derajat dengan ditempelkan ke dinding. (RN)