Penderita Radang Sendi Harus Banyak Jalan Cepat

Penderita Radang Sendi Harus Banyak Jalan Cepat
Foto: parenting.orami.co.id

Osteoartritis merupakan bentuk radang sendi yang paling umum di kalangan manula di Amerika Serikat. Osteoartritis lutut, khususnya mempengaruhi 10-13 persen orang berusia 60 atau lebih dan persentase ini naik hingga 40 persen di antara orang yang lebih tua atau berusia 70 tahun.

Sayang, saat ini belum ada obatnya dan perawatan yang dilakukan sering kali terdiri dari obat penghilang rasa sakit atau operasi lutut, tergantung pada seberapa besar penyakitnya.

Menurut beberapa perkiraan, untuk sekitar 2 dari 5 orang dengan osteoartritis lutut simtomatik, kondisi ini secara signifikan mengganggu kehidupan sehari-hari mereka. Penelitian baru yang muncul dalam American Journal of Preventive Medicine meneliti efek aktivitas fisik pada kecacatan yang disebabkan osteoarthritis lutut.

Dorothy Dunlop, Ph.D., profesor kedokteran pencegahan di Fakultas Kedokteran Universitas Northwestern di Chicago, IL dan rekannya menganalisis data lebih dari 1.500 orang dewasa yang informasi medisnya telah dikumpulkan sebagai bagian dari Prakarsa Osteoartritis nasional.

Semua partisipan hidup dengan osteoartritis dan mengalami rasa sakit, nyeri, dan kekakuan pada ekstremitas bawah mereka. Namun, mereka tidak memiliki cacat ketika memulai penelitian ini.

Para peneliti menggunakan accelerometer untuk memantau aktivitas fisik para peserta dan mengikutinya secara klinis selama 4 tahun.

“Tujuan kami adalah untuk melihat kegiatan apa yang akan membantu orang tetap bebas dari disabilitas,” jelas Prof. Dunlop seperti dilansir dari Medical News Today.

Analisis mengungkapkan bahwa 1 jam dalam seminggu, aktivitas fisik sedang hingga kuat membantu para peserta mempertahankan tingkat standar kemampuan fisik. Peserta yang melakukan aktivitas fisik sebanyak ini, diketahui tidak kesulitan melakukan tugas sehari-hari, seperti berpakaian, mandi, berjalan melintasi ruangan, atau menyeberang jalan dengan cepat dan aman.

Selain itu ditemukan juga bahwa satu jam latihan mingguan menurunkan risiko kecacatan terkait mobilitas sebesar 85 persen dan kecacatan hidup sehari-hari hampir 45%. Bagi para peserta, kegiatan seperti jalan cepat dihitung sebagai olahraga sedang hingga berat.

Pada akhir masa studi, 24 persen manula yang tidak melakukan latihan mingguan berjalan sangat lambat sehingga mereka tidak dapat menyeberang jalan sebelum lampu lalu lintas berubah, dan 23 persen mengatakan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan rutin mereka dan tugas pagi.

“Kami berharap temuan kesehatan masyarakat yang baru ini akan memotivasi tujuan kegiatan fisik menengah. Satu jam seminggu adalah batu loncatan bagi orang-orang yang saat ini tidak aktif. Orang-orang dapat mulai bekerja untuk itu. Ambang minimum ini dapat memotivasi orang dewasa yang tidak aktif untuk memulai jalan mereka menuju gaya hidup aktif secara fisik dengan berbagai manfaat kesehatan yang didapat dari aktivitas fisik,” terang Dunlop. (RN)