Problematika Gendang Telinga yang Hambat Pendengaran

Artikel ini telah direview oleh
Problematika Gendang Telinga yang Hambat Pendengaran
Foto: kompas.com (Problematika Gendang Telinga yang Hambat )Pendengaran

Lubang pada gendang telinga bisa disebabkan oleh luka hingga infeksi yang dapat mengganggu pendengaran. Hal tersebut dikatakan Dokter Spesialis THT Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dr. Rangga Rayendra Saleh, Dp. T.H.T.BKL, Subsp. Oto.(K).

“Tentunya penyebabnya ada banyak macamnya apabila lubang disebabkan trauma, luka atau tusukan maka disebut perforasi akibat trauma. Sedangkan lubang karena infeksi maka ini disebabkan otitis media supuratif kronis (OMSK),” kata dr. Rangga.

Ia menjelaskan bahwa OMSK adalah kondisi infeksi pada rongga telinga tengah ditandai adanya robekan lubang atau gendang telinga yang dapat menyebabkan keluar cairan dari liang telinga yang kerap disebut masyarakat awam sebagai congek.

“Jadi akibat adanya penumpukan cairan di balik gendang telinga di rongga telinga tengah, maka cairan yang menumpuk di rongga itu akan mencari jalan untuk ke luar sehingga infeksi itu menyebabkan robekan itu tidak bisa menutup secara spontan dan robekan ini menjadi menetap, menyebabkan keluhan antara lain riwayat keluar cairan dari telinga atau congek, nah itu adalah otore atau keluar cairan dari liang telinga,” jelasnya.

Infeksi OMSK ini menurutnya terjadi secara kronis dan bisa menyebabkan gangguan pendengaran termasuk adanya dengung. “Jika ada lubang di gendang tekan misal sudah kronik, kecil kemungkinan akan kecil (sembuh) sendiri sehingga butuh rekonstruksi gendang telinga,” ujarnya.

Dengan kondisi ini maka pasien disarankan melakukan konsultasi dengan ahli untuk mendapatkan perawatan yang tepat, salah satunya dengan melakukan operasi penambalan gendang telinga. Operasi ini dilakukan dengan menggunakan material penambal dari bagian tubuh pasien itu sendiri yakni dengan menggunakan selaput tulang rawan atau selaput otot. Penggunaan material ini dinilai memiliki risiko kontradiktif yang kecil.

Operasi ini dilakukan dengan dua pendekatan yakni operasi lewat liang telinga sehingga luka operasi tidak terlihat, serta operasi dengan kasus gangguan pendengaran berat atau infeksi berbahaya dapat dilakukan melalui operasi sayatan daun telinga. Usai melakukan operasi, pasien disarankan menghindari terkena air untuk menjaga telinga tetap steril. Mengangkat beban berat juga dilarang karena tekanan ke dalam area menjadi lebih tinggi dan bisa menyebabkan pergeseran tambalan, karena tambalan yang dilakukan tidak dilem dan hanya diletakkan sedekat lubang sehingga membutuhkan waktu untuk menutup secara alami.

Selain itu, pasien juga tidak disarankan untuk segera melakukan penerbangan hingga berenang dan membutuhkan seputar 3-4 minggu untuk dapat mengikuti penerbangan bila dokter yang menangani memperbolehkannya. Operasi ini diklaim minim risiko seperti perdarahan dan lainnya. Sementara soal indikator keberhasilan operasi yakni mampu menghadirkan liang telinga yang kering serta perbaikan fungsi pendengaran.

Baca juga:  Kenali Mesothelioma, Kanker Langka di Usia Senja

Dokter Rangga menyarankan bagi masyarakat yang mengalami gangguan pada telinga misalnya dengung dan lainnya dapat memeriksakan diri ke dokter. Hal ini untuk mencegah infeksi yang lebih parah dan gangguan pendengaran kian memburuk.

Implan koklea

Pada bagian lain, Dokter Spesialis THT, Bedah Kepala Leher RSCM, Ayu Astria Sriyana mengatakan, penggunaan implan koklea dapat dilakukan bagi pasien yang menderita gangguan pendengaran berat hingga sangat berat yang memungkinkan pasien mendengar dengan baik.

“Implan koklea ini merupakan solusi yang lebih baik untuk pasien-pasien dengan gangguan pendengaran derajat berat hingga sangat berat. Karena alat bantu ini langsung menstimulasi syaraf pendengaran,” ujar dokter Ayu.

Dirinya menjelaskan, alat bantu dengar ini ditanam atau dimasukkan ke dalam koklea atau rumah siput melalui prosedur operasi, sehingga dapat langsung merangsang syaraf pendengaran yang akan dihantarkan langsung menuju koklea tanpa media penghantar seperti udara maupun gendang telinga.

Alat ini pun mampu menghantarkan impuls suara hingga ke syaraf pendengaran hingga ke otak, sehingga dapat digunakan bagi pasien dengan gangguan pendengaran berat, sangat berat baik itu tuli, gangguan konduktif dan lainnya. Alat bantu dengar ini terdiri dari dua bagian, yakni bagian yang ditanam di dalam koklea serta perangkat eksternal yang dipasang di luar yang berfungsi menghantarkan suara masuk ke dalam alat yang ditanam.

Dengan demikian maka lewat implan koklea ini dapat menghadirkan harapan bagi pasien gangguan pendengaran berat untuk dapat beraktivitas seperti biasa. Meski pemasangan dilakukan dengan mengoperasi bagian telinga, dokter Ayu menambahkan bahwa operasi ini minim risiko, bahkan di RSCM menurutnya belum ada keluhan atau komplikasi terkait pemasangan implan koklea.

Terkait perawatan, ia menjelaskan untuk perangkat internal tidak membutuhkan perawatan tertentu, dan dapat digunakan seumur hidup. Adapun hal-hal yang dapat dihindari yakni benturan keras serta menghindari olahraga dengan risiko serupa. Untuk perangkat eksternal, hal yang perlu dihindari adalah sebaiknya tidak boleh terkena air, tidak boleh teratur dan terbanting sehingga perlu disimpan dengan baik. Namun bila akan melakukan olahraga seperti surfing atau berenang, perangkat eksternal dapat dilapisi casing anti air (waterproof).

Baca juga:  Hadapi Corona Dengan Kesehatan Mental Prima

Perangkat eksternal yang merupakan alat elektronik ini, kata dia, sebagaimana perangkat elektronik lainnya seperti gawai yang dapat diupgrade sehingga mampu menghadirkan fasilitas yang lebih baik pada waktu ke waktu.

Anak terlambat bicara

Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DKI Jakarta Prof. Dr. dr. Rismala Dewi, SpA(K) mengatakan, gangguan pendengara bisa terjadi pada anak yang terlambat atau susah berbicara pada masa seharusnya dia sudah bisa bicara, misal pada usia di atas satu tahun.

“Makin besar-makin besar ada gangguan keterlambatan bicara, nah itu kita sudah harus awas, bahwa itu mungkin,” katanya.

Dia menyampaikan, gangguan pendengaran pada anak sering kali tidak terdeteksi sejak dini karena gejalanya tidak disadari oleh orang tua. “Memang kalau anak kan agak sulit. Biasanya dia itu tergantung dari orangtuanya, kadang-kadang orangtua itu kalau telinga secara pendengaran tidak terdeteksi, luput, karena mungkin yang dipentingkan adalah pertumbuhan-perkembangan,” ia menjelaskan.

Dia menambahkan, kondisi kesehatan bayi setelah dilahirkan berpengaruh pada risiko gangguan pendengaran. Menurutnya, gangguan pendengaran berpeluang terjadi pada bayi-bayi dengan risiko kesehatan tinggi seperti bayi prematur atau bayi yang lama dirawat di rumah sakit.

“Ibu-ibu yang hamil dengan infeksi kemungkinan anak-anaknya salah satunya selain gangguan perkembangan mungkin pendengaran juga terganggu,” katanya.

Prof. Rismala menekankan pentingnya penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gangguan pendengaran pada anak dan upaya untuk mendeteksi dini masalah tersebut. “Sekarang ini memang kadang-kadang agak susah untuk mengajak, karena mungkin dianggap tidak terlalu penting. Padahal kalau kita lihat dari pemeriksaan yang ada, kelihatannya tidak ada masalah, tapi ternyata sudah ada,” katanya.

Dia menilai, peran dari penyuluhan, peran media, itu penting juga untuk membantu kita untuk melakukan pemeriksaan pendengaran pada anak-anak.

Periksakan pendengaran bayi

Di sisi lain, Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorok – Bedah Kepala dan Leher (PERHATI-KL) Cabang DKI Jakarta Tri Juda Airlangga mengatakan, orangtua bisa memeriksakan bayi ke dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan sebelum berusia satu bulan untuk mengetahui kemungkinan adanya gangguan pendengaran.

“Sebelum satu bulan sebaiknya sudah ter-skrining, tiga bulan sudah harus terdeteksi, enam bulan harus sudah tertata-laksana, kalau ada gangguan mau diapain nih anaknya,” kata Dr. dr. Tri Juda Airlangga, SpTHT-BKL, Subsp.K(K). (RN)