Memuaskan Kinerja Perawat Lansia Asal Indonesia di Jepang

Artikel
Perawat lanjut usia (lansia) atau care worker asal Indonesia sangat dibutuhkan di Jepang. Tingkat kelulusan para care worker asal Indonesia di Jepang pun selama ini cukup memuaskan. Kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) Nusron Wahid mengungkapkan, tingkat kelulusan para care worker Indonesia di Jepang mencapai 65,7 persen. Jumlah ini melebihi tingkat kelulusan care worker dari negara lain, seperti Filipina dan Vietnam, bahkan Jepang sendiri yang hanya 61 persen. “Itu membuktikan bahwa kualitas dan skill teman-teman kita di Indonesia sesungguhnya bertaraf internasional,” ujar Nusron dalam acara pelepasan calon perawat di rumah Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Namun, sayangnya tingkat kelulusan untuk perawat masih di bawah 10 persen. Meski demikian, Nusron meminta para calon perawat dan care worker di Jepang untuk tetap percaya diri…
Read More

Rekayasa Sel Hambat Penuaan

Artikel
Seiring bertambahnya waktu, seseorang akan menjadi tua. Sejatinya, penuaan adalah proses yang tidak dapat dihentikan. Benarkah? Sebuah studi yang dilakukan Dr Darren Baker, asisten profesor, biokimia dan biologi molekuler di Mayo Clinic ditemukan dengan menghapus sel senescent atau sel usang yang tidak dapat membagi lagi dapat memperbesar peluang hidup lebih panjang dan memperlambat penuaan. Baker menuturkan, sel-sel senescent menumpuk seiring bertambahnya usia. “Jadi kami mengembangkan trik untuk menghapus sel-sel tertentu dan melihat akibatnya. Untuk studi ini, kami merekayasa tikus sehingga sel senescent bisa dihilangkan dengan injeksi obat. Hasilnya, tikus memiliki fungsi jantung dan ginjal yang lebih baik dibanding kelompok kontrol. Mereka tampak sehat, tidak cemas, dan hidup lebih lama. Dan tidak ada efek samping,” ungkap Baker. Dikutip dari Sydney Morning Herald, Baker menyatakan temuan ini memungkinkan dilakukannya pengobatan yang lebih…
Read More

Ketika Otak Perlu Keheningan Sesaat

Artikel
Otak kita hampir selalu berada dalam kondisi “on”, bahkan saat kita sedang malas berpikir. Otak terus-menerus bekerja memikirkan berbagai hal dalam hidup, sampai akhirnya mogok minta jeda. Walau kita kerap menganggap istirahat, rileks, dan berkhayal, sebagai kegiatan tak produktif, nyatanya mengambil jeda dan juga aktif melakukan kegiatan sosial, bisa meningkatkan kesehatan otak. Menurut Dr. David Agus, penulis buku The Lucky Years: How to Thrive in the Brave New World of Health, otak bertanggung jawab agar kita bisa merasa sadar dan juga supaya kita bisa beradaptasi dengan lingkungan. Mengingat berbagai fungsi otak yang sangat vital, tentu kita ingin agar organ tubuh yang satu ini selalu dalam kondisi prima agar berfungsi optimal. Sosialisasi Manusia adalah makhluk sosial dan butuh interaksi dengan orang lain. Dalam penelitian, tikus yang dipisahkan dari kelompoknya dan diisolasi…
Read More

Kiat Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Anak

Artikel
Apa yang bisa dilakukan orangtua untuk melindungi anak-anaknya dari ancaman kuman dan virus setiap harinya? Salah satunya adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut Charles Shubin, profesor pediatrik dari Universitas Maryland, sakit di usia anak-anak sebenarnya adalah bagian dari melatih daya tahan tubuh. ”Kita lahir ke dunia dengan sistem kekebalan yang belum berpengalaman. Perlahan, kemampuan imunitas tubuh melawan kuman, virus, dan organisme lain, akan bertambah,” katanya. Itu sebabnya, para dokter anak menyebutkan anak yang sakit sampai 8 kali dalam setahun, misalnya karena flu, pilek, atau infeksi telinga, adalah hal yang normal. Meski begitu, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak. Konsumsi sayur dan buah Buah dan sayuran mengandung nutrisi seperti vitamin C yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh. Nutrisi tersebut meningkatkan produksi sel darah putih dan interferon…
Read More

Pulas Tidur Dengan Teknik 4 – 7 – 8

Artikel
Terjaga di malam hari di tengah kondisi tubuh yang lelah menjadi sesuatu yang sangat tidak mengenakan. Padahal, sudah mencoba berbagai cara, tapi otak tetap “menyala” dan mata tak mau terpejam. Sudah coba berbagai cara, mulai dari minum susu hangat, menghirup aromaterapi lavender, hingga "menghitung sapi", tetapi tetap tak berhasil? Mungkin ini saatnya Anda mencoba teknik pernapasan. Dr Andrew Weil dari Arizona memelopori teknik pernapasan 4-7-8, yang terinspirasi dari metode yoga. Teknik ini sangat simpel, tak membutuhkan banyak waktu, tak memerlukan alat apa pun, dan bisa dilakukan di mana pun. Dr Weil mengklaim bahwa teknik pernapasan 4-7-8 bisa membantu orang untuk tertidur dalam waktu 60 detik. Pernapasan ini berperan sebagai penenang alami untuk sistem saraf, mengurangi stres, dan menurunkan tekanan darah dalam tubuh. Berikut cara melakukannya: Sebelum memulai, tempatkan lidah Anda…
Read More

Ini Gangguan Tidur yang Kerap Dialami Senior

Artikel
Hasil penelitian menemukan bahwa orang berusia 65 tahun tidur satu jam lebih sedikit daripada mereka yang berusia di bawahnya. Walaupun perbedaannya hanya satu jam, Natalie D. Dautovish, PhD, pakar lingkungan The National Sleep Foundation (NSF) mengatakan hal ini membuktikan waktu tidur berubah sesuai umur. “Pada usia 50 tahun, seseorang akan lebih mudah terbangun saat malam dan ini memperpendek waktu tidur,” jelas Dautovich. The NSF juga menemukan 71 persen dari orang berusia 55-64 tahun melaporkan beberapa masalah tidur, termasuk kesulitan tidur, mendengkur, dan bangun tidur dalam keadaan tubuh masih lelah. Dautovich menyarankan bagi siapapun yang memiliki gangguan tidur seperti ini untuk memeriksakan diri ke petugas medis. “Gangguan lain yang dirasakan misalnya perubahan waktu tidur. Hal ini terjadi karena setelah manusia melalui fase pertumbuhan, siklus 24 jam mengalami perkembangan dan otak kita…
Read More

Terbukti, Rajin Ibadah Bikin Panjang Umur

Artikel
Ibadah tidak hanya bermanfaat dari sisi spiritual. Studi terbaru dari Amerika Serikat menyebut rajin beribadah juga bisa membuat umur lebih panjang. Tyler J. VanderWeele, profesor bidang epidemiologi dari Harvard, melakukan penelitian kepada 75.534 orang selama 16 tahun. Para partisipan di survei kesehatan, gaya hidup serta frekuensinya pergi ke tempat ibadah sesuai agama masing-masing dalam satu minggu. Hasil penelitian menyebut bahwa partisipan yang pergi ke rumah ibadah lebih dari satu kali dalam seminggu berkurang risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular dan kanker sebesar 33 persen. Mereka yang datang seminggu sekali berkurang risikonya 26 persen dan yang datang tidak sampai seminggu sekali berkurang 13 persen. Dalam publikasinya di JAMA Internal Medicine, peneliti menduga ada beberapa kepribadian di mana orang-orang yang pergi ke tempat ibadah biasanya memang sudah mengadopsi gaya hidup sehat, tidak minum…
Read More

Usia Harapan Hidup Meningkat, Lansia Membludak

Artikel
Meningkatnya usia harapan hidup di Indonesia membuat jumlah orang lanjut usia (lansia) semakin banyak. Hal ini bisa berefek positif, bisa juga negatif. Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, drg Untung Suseno Sutarjo, MKes., Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah lansia terbesar di dunia. Hal ini merupakan dampak dari meningkatnya kualitas dan standar pelayanan kesehatan di masyarakat. "Usia harapan hidup di Indonesia meningkat dari 68,6 tahun di 2004 menjadi 70,8 tahun di 2015. Pada tahun 2035 diperkirakan meningkat lagi menjadi 72,2 tahun," tutur drg Untung, dalam temu media Hari Lanjut Usia Nasional di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu. Dijelaskannya Untung, bertambahnya jumlah lansia ini bisa berefek positif jika lansia dalam keadaan sehat. Namun jika dalam keadaan sakit, maka potensi kerugian negara dari pembiayaan Jaminan…
Read More

Bukan Usia yang Tentukan Sehat Tidaknya Kita

Artikel
Usia kronologis alias usia yang dihitung sejak kita lahir dapat menentukan banyak hal. Salah satunya adalah faktor risiko kesehatan. Melalui proses biologis yang terjadi dalam tubuh yang berjalan sesuai usia, dokter bisa mengetahui apakah kita berisiko menderita penyakit tertentu. Misalnya, penyakit kanker dan jantung biasanya diderita oleh orang berusia lanjut. Berusia di atas 70 tahun? Anda rentan mengalami patah tulang dan gangguan persendian. Lalu, dari gaya hidup kita, misalnya punya kebiasaan merokok atau berolahraga, bisa diprediksi penyakit lain yang mungkin akan diderita. Meski begitu, menurut hasil studi-studi terbaru, penyakit yang spesifik atau organ yang spesifik berdasarkan usia kronologis bukan cara terakurat untuk menentukan seberapa sehat seseorang. Anda mungkin tahu ada orang berusia di atas 80 tahun yang tetap aktif secara fisik dan kemampuan otaknya masih prima, atau sebaliknya, orang yang…
Read More

Kurangi Makanan yang Digoreng, Ini 7 Alasannya

Artikel
Harus diakui, makanan yang digoreng biasanya terasa lebih nikmat. Tapi yang nikmat belum tentu sehat. Ada bahaya mengintai di balik kenikmatan makanan yang digoreng. Berikut beberapa alasan mengapa kita harus mengurangi menggoreng makanan : Bisa memicu diabetes. Percaya atau tidak, makanan yang digoreng berpotensi memicu diabetes dibanding gula. Alasannya, makanan yang digoreng mengandung lemak tinggi. Lemak lebih berpotensi memicu diabetes ketimbang gula. Dapat memicu penyakit jantung. Makanan yang digoreng memiliki tingkat kolesterol yang tinggi. Mengkonsumsi makanan digoreng secara berlebihan terus-menerus sama saja seperti menimbun kolesterol. Cepat atau lambat hal itu akan menimbulkan masalah bagi jantung. Bikin gemuk. Ingin langsing? Kurangi menyantap makanan yang digoreng. Sebuah penelitian di Spanyol menemukan kaitan antara makanan yang digoreng dan kegemukan. Penelitian itu menyebutkan kalau makanan digoreng memiliki kalori lebih besar. Sebagai perbandingan, dada ayam…
Read More