Berikan Terapi Kenangan Bagi Penderita Alzheimer
Penggunaan terapi kenangan atau ‘reminiscence’ ditinjau oleh peneliti sebagai terapi untuk mengatasi perubahan suasana hati yang sering dialami penderita alzheimer.
Ditulis laman Everyday Health, sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam BMC Geriatrics pada tahun 2023 menganalisis data dari enam penelitian tentang terapi kenangan pada orang dewasa yang lebih tua dan menemukan bahwa itu adalah cara yang efektif untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepuasan hidup.
Tinjauan ilmiah lain terhadap 26 studi tentang terapi kenangan menemukan bahwa perawatan tersebut memiliki dampak positif pada kesehatan mental dan kesejahteraan, termasuk menurunkan gejala depresi, kecemasan, dan stres pada orang dewasa yang lebih tua.
“Terapi reminiscence menunjukkan kepada pasien benda-benda yang dapat membangkitkan kenangan masa lalu, seperti suvenir lama atau foto keluarga. Ini sesuatu yang familiar dan positif,” jelas Arshia Khan, PhD, seorang peneliti biomedis dan profesor di Swenson College of Science and Engineering di University of Minnesota di Duluth.
Khan menyarankan untuk berpikiran terbuka tentang apa yang termasuk dalam terapi mengenang, mengingat bahwa berkumpul dengan teman pun dapat memaksimalkan kekuatan terapi ini.
“Saya melihat banyak lansia berkumpul dengan teman dan mengobrol. Itu adalah salah satu bentuk terapi mengenang dan bisa sangat membantu,” tambah Khan. Meskipun studi yang lebih besar masih diperlukan, bukti menunjukkan bahwa terapi reminiscence dapat meningkatkan fungsi kognitif. Sebuah meta-analisis penelitian (yang menggabungkan hasil beberapa studi) yang diterbitkan pada tahun 2025 menemukan bahwa terapi reminiscence menghasilkan peningkatan kognisi yang signifikan secara statistik pada orang dewasa dengan gangguan kognitif, terutama jika gejalanya masih ringan.
Pendapat ahli lain dari seorang profesor madya psikiatri klinis di Fakultas Kedokteran Universitas Vanderbilt di Nashville, Tennessee Paul Ragan, MD, mengatakan terapi ini dirancang untuk membantu orang dengan penyakit Alzheimer dan masalah ingatan lainnya mengingat kejadian, emosi, dan pikiran masa lalu.
“Terapi reminiscence memanfaatkan memori jangka panjang pada demensia tahap awal dan menengah, membantu pasien mengakses memori yang sudah ada,” kata Ragan.
Anggota keluarga dapat melakukan terapi kenangan sendiri dengan orang terkasih yang menderita demensia, atau mereka dapat bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan, kata Ragan.
Terapi ini juga dapat disampaikan melalui teknologi dan diterapkan di berbagai lingkungan, seperti fasilitas hunian berbantuan dengan staf terlatih atau lingkungan yang familiar dengan pengasuh yang didukung oleh terapis terlatih, kata Jameca Woody Cooper, PhD, seorang psikolog klinis di St. Louis.
“Terapi reminiscence merupakan pendekatan yang berharga dalam perawatan demensia yang berpusat pada individu, membantu mempertahankan identitas individu,” kata Cooper.
Penelitian tentang terapi reminiscence masih berlangsung, tetapi para penyedia layanan kesehatan mengatakan bahwa terapi ini biasanya memberikan pengalaman positif bagi pasien.
Kebiasaan
Ahli bedah saraf Dr. Almadidy mengungkapkan ada lima kebiasaan yang bisa meningkatkan risiko penyakit alzheimer, serta menyarankan untuk menghindarinya demi kesehatan otak. Dikutip dari Hindustan Times, alzheimer merupakan penyebab paling umum demensia yang ditandai munculnya penumpukan protein di otak yang menyebabkan sel-sel otak mati sering waktu.
Ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko terkena penyakit Alzheimer, yakni dengan menghindari lima kebiasaan berikut.
- Penggunaan tembakau dan alkohol
Sejumlah data menunjukkan bahwa tidak ada jumlah alkohol yang dianggap aman, tetapi jumlah alkohol yang berlebihan sangat berbahaya bagi kesehatan. - Gangguan pendengaran
Kondisi ini memiliki kaitan dengan perkembangan demensia. Konsultasi dengan dokter disarankan bagi penderita. - Tekanan darah tinggi
Kondisi tekanan darah yang tidak terkontrol dalam jangka waktu lama menyebabkan masalah patologis dan vaskular di dalam otak sehingga meningkatkan risiko demensia. - Diabetes yang tidak terkontrol
Pasien diabetes dengan gula darah tidak terkontrol memiliki dampak yang besar pada seluruh tubuh termasuk otak. - Kurang aktivitas fisik
Memiliki gaya hidup yang kurang aktif bergerak terbukti meningkatkan risiko demensia.
Almadidy mengingatkan bahwa jika masyarakat memiliki salah satu faktor risiko di atas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Hal ini untuk mengendalikan faktor risiko secara signifikan dan meningkatkan potensi masyarakat menjaga kesehatan seiring pertambahan usia.
Sleep Hygiene
Di sisi lain, dokter spesialis kejiwaan dr. Tiur Sihombing, Sp.KJ.,Subsp.Ger(K) menyebutkan bahwa “sleep hygiene” atau kebiasaan untuk mendukung tidur yang berkualitas dapat menjadi salah satu cara yang diterapkan pada orang lanjut usia (lansia) agar tidak mengidap demensia alzheimer.
Menciptakan pola tidur melalui sleep hygiene bagi lansia dinilai dapat memberikan istirahat yang cukup dan menjaga fungsi otak sehingga dapat mengurangi satu faktor penyebab terjadinya demensia alzheimer terutama untuk mereka yang berusia di atas 60 tahun. “Dalam hal tidur itu bisa diubah untuk mencegah (alzheimer), karena lansia pola tidurnya suka terbalik-balik. Karena memang lansia itu tidurnya sebentar-sebentar tapi akhirnya membuat kesulitan tidur di malam hari. Maka dari itu perlu dipastikan sleep hygiene-nya agar tercipta pola tidur yang tepat,” kata dokter Tiur.
Secara khusus membahas demensia alzheimer, dokter Tiur mengatakan penyakit ini merupakan bagian dari demensia (penurunan fungsi otak) yang kerap dialami oleh lansia terjadi karena penumpukan plak dan kekusutan serabut saraf di otak akibat radikal bebas.
Beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya demensia alzheimer adalah riwayat pada keluarga, faktor genetik, dan gaya hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan bergadang, merokok, dan kebiasaan mengonsumsi alkohol. Maka dari itu, menciptakan pola tidur yang tepat bagi lansia dapat mengurangi faktor risiko terjadinya demensia alzheimer. Adapun dalam penjelasannya, dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) itu menyebutkan bahwa sleep hygiene dapat diciptakan oleh orang yang merawat lansia atau caregiver dengan memastikan kebersihan kamar tempat lansia tidur.
Selain itu, caregiver juga perlu memastikan suhu ruangan tempat tidur berada dalam kondisi yang tepat yakni tidak terlalu panas maupun tidak terlalu dingin. Apabila memungkinkan saat lansia tidur pastikan ruangan kamar berada dalam kondisi gelap, namun apabila dirasakan sulit untuk mobilitas di malam hari maka kamar tidur bisa dilengkapi dengan lampu tidur berukuran kecil.
“Dengan kondisi kamar yang gelap atau lampu yang dimatikan maka nantinya hormon melatonin yang ada di dalam tubuh bisa keluar dan hal itu menginduksi tidur yang nyenyak. Tapi jika ternyata lansia takut gelap, takut jatuh saat di kamar, itu bisa pakai lampu tidur yang kecil,” kata dokter Tiur.
Ia juga menegaskan sebagai bagian dari sleep hygiene ada baiknya lansia hanya boleh masuk ke kamar tidur ketika benar-benar akan beristirahat untuk tidur dan tidak melakukan aktivitas lainnya seperti menonton TV atau memainkan HP, dengan demikian istirahat yang berkualitas melalui tidur bisa dicapai oleh lansia.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2021 ada sebanyak 57 juta orang yang mengalami demensia dan 60-70 persen di antaranya merupakan pengidap Demensia Alzheimer.
Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan pada 2023 menyebutkan angka prevalensi demensia alzheimer mencapai 27,9 persen secara nasional. Berkaca dari data-data tersebut maka penting bagi masyarakat untuk bisa mendukung lansia menghindari faktor-faktor penyebab demensia alzheimer sehingga nantinya lansia tetap bisa mandiri dan aktif di masa tuanya. (RN)
