
Deteksi Dini Kunci Hindari Kanker Paru
Deteksi dini menjadi bagian penting untuk mencegah kanker paru yang kerap terdiagnosis ketika sudah berada di stadium lanjut. Seperti dikatakan Konsultan Onkologi Senior dari OncoCare Singapura, Dr. Akhil Chopra.
“Kanker paru yang terdeteksi sejak dini, sebelum menyebar, memberikan peluang kesembuhan yang jauh lebih baik,” kata Dr. Chopra. Ia mengatakan, deteksi dini sangat penting dilakukan terutama bagi kelompok berisiko tinggi seperti perokok dan mereka yang terpapar polusi udara.
Dr. Chopra mengungkapkan, batuk yang tak kunjung sembuh kerap dianggap sepele, padahal gejala tersebut bisa menjadi tanda awal kanker paru.
Menurut data Global Burden of Cancer Study (Globocan) 2022 dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), kanker paru merupakan kanker ketiga terbanyak di Indonesia sekaligus penyebab utama kematian akibat kanker pada pria.
Berdasarkan Roche Asia Pacific Lung Cancer Case Study di tahun 2023, sekitar 70 persen kasus kanker paru di Tanah Air ditemukan pada stadium lanjut. “Tidak semua batuk itu ringan. Bila batuk berlangsung lama, terutama pada mereka yang memiliki riwayat merokok atau terpapar polusi, perlu dilakukan pemeriksaan,” ujarnya.
Dr. Chopra menjelaskan bahwa kemajuan teknologi kini memungkinkan pengobatan lebih presisi. Tes biomarker genetik dapat mengidentifikasi mutasi tertentu sehingga pasien bisa mendapatkan terapi tertarget atau imunoterapi yang lebih efektif dan minim efek samping dibandingkan kemoterapi konvensional.
Ia menyebut, salah satu pasien asal Indonesia yang ditangani OncoCare berhasil memulai terapi dalam waktu singkat setelah kanker paru stadium awal terdeteksi. Berkat obat tertarget, pasien tidak perlu menjalani kemoterapi dan dapat kembali beraktivitas normal tak lama setelah pengobatan.
Lebih lanjut ia menegaskan, deteksi dini menjadi kunci karena kanker paru stadium awal lebih mudah diobati dengan efek samping lebih ringan. Selain itu, pengobatan modern juga memungkinkan pasien tetap menjaga kualitas hidup.
OncoCare melalui tim multidisiplin serta akses ke terapi modern menegaskan komitmennya untuk mendukung pasien Indonesia, termasuk dengan layanan berbahasa Indonesia dan dukungan pasien internasional. “Jika batuk berkepanjangan tidak kunjung reda, jangan abaikan. Pemeriksaan tepat waktu bisa menyelamatkan nyawa,” tegasnya.
Merusak paru-paru
Pada bagian lain, konsultan pulmonologi di Rumah Sakit Amar Jain, WHC, Jaipur, Dr. Shivani Swami menyoroti enam kebiasaan umum yang tampaknya tidak berbahaya namun secara progresif dapat memengaruhi fungsi paru-paru.
Merokok berkontribusi besar terhadap buruknya kesehatan paru hingga berisiko kanker paru-paru, namun penyakit itu juga bisa menyerang orang yang tidak merokok. Meski tidak merokok bisa mencegah sebagian besar kasus, langkah ini saja belum cukup.
“Menjaga kesehatan paru-paru bukan hanya soal tidak merokok. Ini juga tentang memperhatikan terhadap lingkungan sekitar, postur tubuh hingga gaya hidup Anda,” kata Dr. Shivani.
Kebiasaan yang bisa memengaruhi kondisi kesehatan paru-paru buruk salah satunya paparan asap rokok orang lain (merokok pasif). Swami mengatakan bahwa paparan jangka panjang terhadap asap rokok pasif juga telah dikaitkan dengan gangguan penurunan fungsi paru-paru dan risiko infeksi pernapasan yang lebih tinggi.
“Bahkan jika Anda tidak merokok, berada di sekitar orang yang merokok atau bahkan asap dari hookah atau dupa sama berbahayanya,” imbuh dia.
Kurangnya aktivitas fisik dalam kebiasaan gaya hidup, kata Swami, dapat menurunkan efisiensi paru-paru. Gaya hidup yang tidak banyak bergerak juga lebih berbahaya daripada berat badan atau jantung. Postur tubuh yang buruk seperti saat bekerja, terutama membungkuk di sofa atau meja, menurut Swami, akan bisa membuat penekanan pada paru-paru yang membuatnya kurang mampu untuk berkembang secara sempurna.
Tak hanya itu, kesehatan paru-paru yang buruk juga bisa dipengaruhi dari kebiasaan menahan batuk. “Sesekali menahan batuk mungkin dianggap sopan atau nyaman, tetapi jika dilakukan secara rutin, hal itu bisa menghambat proses paru-paru membersihkan lendir atau iritasi asing,” jelas Swami.
Kesehatan paru-paru yang buruk juga bisa dipengaruhi kurangnya hidrasi dari kebiasaan mengonsumsi air yang cukup. Hal ini lantaran menjaga tubuh tetap terhidrasi membantu mempertahankan lapisan mukosa paru-paru tetap tipis dan lentur.
“Ketika tubuh kekurangan air, lendir menjadi lebih kental, kurang mampu menghilangkan zat iritan, dan lebih rentan terhadap masuknya patogen,” tutur Swami.
Kebisaan penggunaan produk berbahan kimia secara berlebihan seperti produk pembersih, disinfektan, pengharum udara, dan lilin aromaterapi yang beraroma harum, tetapi mengandung senyawa organik volatil (VOC) yang memicu kesehatan paru-paru buruk. “Paparan jangka panjang terhadap bahan kimia semacam itu akan mengiritasi saluran pernafasan dan secara bertahap mengurangi kapasitas paru-paru,” kata dia.
Lebih lanjut Swami merekomendasikan latihan pernapasan harian, jalan-jalan singkat, minum cairan, dan menghindari polutan sebagai langkah sederhana untuk memperkuat paru-paru. “Olahraga teratur merangsang pernapasan yang lebih komprehensif, memperkuat otot pernapasan, dan memungkinkan paru-paru bekerja lebih baik,” ungkap Swami.
Risiko besar
Di tempat terpisah, spesialis paru Eka Hospital Cibubur dr. Paulus Arka Triyoga mengatakan perokok pasif memiliki risiko sama besarnya dengan perokok aktif sebab terpapar asap rokok lingkungan bisa mengalami gangguan kesehatan seperti kanker.
“Misalnya saja penyakit kardiovaskular, kanker paru-paru, infeksi saluran pernapasan (terutama pada populasi anak), asma dan alergi, serta peningkatan risiko Sindrom Kematian Bayi Mendadak (SIDS),” kata dr. Paulus.
Menurutnya, paru-paru merupakan organ yang paling rentan terhadap dampak negatif merokok. “Inhalasi asap rokok secara kronis menyebabkan kerusakan ireversibel pada alveoli dan memicu perkembangan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), termasuk emfisema dan bronkitis kronis,” katanya.
Dokter Paulus menjelaskan, risiko kanker paru-paru meningkat secara signifikan pada orang yang memiliki riwayat merokok aktif. “Merokok juga dapat meningkatkan risiko terkena infeksi seperti tuberkulosis (TBC) dan pneumonia. Penumpukan tar pada paru menghambat fungsi pernapasan Anda secara perlahan-lahan,” katanya.
Lalu nikotin dan karbon monoksida dalam asap rokok mengakibatkan peningkatan tekanan darah dan frekuensi denyut jantung. Hal ini memaksa jantung bekerja lebih keras dan meningkatkan peluang munculnya penyakit jantung koroner, infark miokardium, serta stroke. “Proses aterosklerosis yakni penyempitan pembuluh darah akibat pembentukan plak pada dinding arteri, juga dipercepat oleh kebiasaan merokok,” ujarnya.
Nikotin memiliki sifat adiktif/candu yang kuat dan mempengaruhi kimia otak. Disamping itu, penurunan aliran darah serebral akibat penyempitan pembuluh darah dapat mengganggu fungsi kognitif dan meningkatkan kerentanan terhadap stroke.
Merokok dalam jangka panjang dapat mempengaruhi penglihatan dan saraf optik. Merokok dapat menyebabkan gangguan yang mempengaruhi mata seperti glaukoma, katarak, dan degenerasi makula.
“Dampak lain merokok adalah mempercepat proses penuaan kulit melalui kerusakan serat kolagen dan elastin. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas, menjadi lebih keriput, tampak kusam, dan mengalami penurunan kemampuan regenerasi. Proses penyembuhan luka pada perokok juga cenderung lebih lambat,” ujarnya. (RN)