
Selama ini orang hanya mengetahui bahwa stres berkepanjangan bisa merusak pikiran dan tubuh. Ternyata, hal tersebut juga memiliki impact negatif terhadap kesehatan gigi dan mulut.
Hal tersebut dikatakan Founder of Pusat Kedokteran Gigi Dr. Sabadra’s, Dr. Prafull Sabadra. Dia mengatakan, ketika seseorang berada dalam tekanan maka memiliki efek samping yang komprehensif untuk gigi.
Selain kebiasaan impulsif, banyak penyakit juga muncul. Dia menjelaskan kebiasaan dan konsekuensi lain dari stres, di antaranya:
Menggertakkan gigi (Bruxism)
Stres sering bermanifestasi sebagai bruxism, yaitu kebiasaan menggertakkan atau mengatupkan gigi secara tidak sadar, terutama saat tidur. Hal ini dipicu karena kecemasan dan ketegangan meningkatkan aktivitas otot di rahang, yang menyebabkan tekanan berlebihan pada gigi.
Konsekuensi yang terjadi akibat kebiasaan bruxism bisa menyebabkan seperti gigi retak atau patah, keausan enamel atau kerusakan lapisan pelindung gigi sehingga meningkatnya sensitivitas dan kerentanan terhadap pembusukan, serta nyeri rahang dan gangguan sendi temporomandibular (TMJ).
Mulut kering akibat stres (Xerostomia)
Stres kronis memengaruhi sistem saraf dan menghambat produksi air liur sehingga menjadi berkurang. Obat-obatan antikecemasan dan antidepresan sering kali juga memperparah mulut kering.
Hal ini bisa menimbulkan konsekuensi seperti meningkatnya risiko kerusakan gigi karena berkurangnya pembersihan alami, penyakit gusi dan infeksi mulut, serta kesulitan mengunyah, menelan, dan berbicara.
Mengabaikan kebersihan gigi dan mulut
Stres dan masalah kesehatan mental seperti depresi sering kali mengurangi motivasi untuk menjaga kebersihan mulut yang tepat. Tak hanya itu, stres juga dapat memicu kebiasaan makan yang tidak sehat (misalnya, makanan manis atau asam) yang selanjutnya merusak gigi. Selain itu, penggunaan tembakau atau alkohol kerap kali sebagai penghilang stres yang justru memperburuk masalah mulut.
Respons imun melemah
Stres menekan sistem kekebalan tubuh, membuat gusi lebih rentan terhadap peradangan dan infeksi (misalnya, gingivitis dan periodontitis). Selain itu, juga bisa memperlambat pemulihan dari operasi atau cedera mulut.
Gangguan tidur
Stres mengganggu tidur, secara tidak langsung memperburuk bruxism. Kurang tidur mengganggu kemampuan tubuh untuk memperbaiki jaringan mulut.
Hormon stres dan kesehatan mulut
Meningkatnya kadar kortisol mengurangi daya tahan tubuh terhadap infeksi dan peradangan mulut. Stres jangka panjang dapat melemahkan kepadatan tulang rahang, meningkatkan risiko kehilangan gigi. Selain itu, saat stres kerap kali menimbulkan kebiasaan buruk seperti menggigit kuku, mengunyah pulpen, atau menggunakan gigi untuk membuka kemasan dapat merusak enamel dan gigi.
Cara mencegahnya
Dr Prafull Sabadra membagikan kiat menerapkan taktik proaktif guna mengurangi dampaknya, seperti mengurangi stres, dianjurkan untuk berlatih mindfulness, meditasi atau yoga. Carilah terapi profesional untuk masalah kesehatan mental kronis.
Kemudian, dalam menjaga kebersihan mulut bisa dengan melakukan rutinitas seperti menyikat gigi dua kali sehari, membersihkan sela-sela gigi dengan benang gigi, dan menggunakan pasta gigi berfluorida. Tetap terhidrasi untuk mengatasi mulut kering.
Lebih lanjut, dia menyarankan batasi gula dan makanan asam bisa dengan pilih alternatif yang kaya nutrisi, serta bisa berkonsultasi ke dokter gigi untuk perawatan fluoride dan gusi.
Jaga kesehatan gigi
Menjaga kesehatan gigi merupakan bagian yang tak kalah penting dalam menjaga kesehatan tubuh secara keseluruhan. Tidak hanya membuat senyum lebih indah, gigi yang sehat juga dapat membantu mencegah berbagai masalah kesehatan mulut. Berikut adalah beberapa tips menjaga kesehatan gigi yang baik dan benar:
-
Sikat gigi dengan teratur
Salah satu cara utama dalam menjaga kesehatan gigi adalah menyikat gigi secara rutin.
- Sikat gigi minimal dua kali sehari, terutama setelah sarapan dan sebelum tidur.
- Gunakan pasta gigi yang mengandung fluorida untuk membantu melindungi gigi dari kerusakan.
- Sikat gigi dengan lembut menggunakan gerakan memutar dan memijat gigi selama sekitar dua menit.
-
Konsumsi makanan bergizi
Asupan makanan yang sehat juga berperan penting dalam menjaga kesehatan gigi.
- Makanan yang kaya akan kalsium dan vitamin D, seperti kacang-kacangan, daging, ikan, dan telur.
- Buah-buahan dan sayur-sayuran, seperti wortel, bayam, dan sawi, yang membantu membersihkan gigi secara alami dan memperkuat gusi.
-
Menghindari kebiasaan buruk
Beberapa kebiasaan buruk dapat merusak kesehatan gigi dan gusi. Oleh karena itu, penting untuk menghindari kebiasaan berikut:
- Hindari merokok, karena tembakau dapat menyebabkan gigi menguning, bibir menghitam, serta meningkatkan risiko penyakit gusi dan kanker mulut.
- Batasi konsumsi makanan dan minuman manis yang dapat menyebabkan kerusakan gigi akibat pertumbuhan bakteri yang berlebihan.
- Kurangi asupan alkohol, karena dapat menyebabkan penumpukan plak yang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan gigi dan mulut.
-
Menjaga kesehatan gigi secara berkala
Selain perawatan sehari-hari, pemeriksaan rutin ke dokter gigi juga sangat penting.
- Gunakan benang gigi setiap hari untuk membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau oleh sikat gigi.
- Rutin periksa gigi ke dokter setidaknya dua kali dalam setahun untuk mendeteksi masalah gigi lebih dini.
- Gunakan obat kumur antibakteri untuk mengurangi plak, mencegah radang gusi, serta menyegarkan napas.
Menjaga kesehatan gigi sangat penting agar tidak terkena penyakit gigi yang dapat menyebabkan rasa sakit dan gangguan kesehatan lainnya. Beberapa contoh penyakit gigi akibat kurang menjaga kebersihan adalah gigi berlubang (karies), radang gusi (gingivitis), penyakit periodontal, dan abses gigi. Gigi berlubang terjadi akibat penumpukan plak yang mengandung bakteri, sedangkan gingivitis dapat menyebabkan gusi berdarah dan bengkak.
Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit periodontal yang merusak jaringan penyangga gigi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan gigi dan mulut sangatlah penting untuk kesehatan Anda secara keseluruhan.
Benang gigi
Sebuah temuan studi yang akan dipresentasikan pada Konferensi Stroke Internasional Asosiasi Stroke Amerika 2025, di Los Angeles menunjukkan bahwa penggunaan benang gigi secara teratur dapat menurunkan risiko stroke. “Tujuan kami untuk menentukan perilaku kebersihan mulut, membersihkan gigi dengan benang gigi, menyikat gigi, atau kunjungan dokter gigi secara teratur—yang memiliki dampak terbesar pada pencegahan stroke,” kata penulis utama penelitian Dr. Souvik Sen.
Mengutip laporan kesehatan global, Sen mengatakan penyakit mulut seperti kerusakan gigi dan penyakit gusi yang tidak dapat diobati, telah memengaruhi 3,5 miliar orang pada tahun 2022.
Hal ini mendorong peneliti mengevaluasi dampak spesifik dari membersihkan gigi dengan benang gigi, setelah sebelumnya dilakukan penelitian yang telah mengaitkan kesehatan mulut dengan penurunan risiko stroke.
Dari penelitian terbaru, hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan benang gigi secara teratur dapat menurunkan risiko stroke iskemik hingga 22 persen (stroke akibat bekuan darah), stroke kardioembolik (disebabkan oleh bekuan darah yang mengalir dari jantung) hingga 44 persen, dan fibrilasi atrium hingga 12 persen. Efek perlindungan ini tidak bergantung pada kebiasaan menyikat gigi dan perilaku kebersihan mulut lainnya.
Temuan itu bakal dipresentasikan pada Konferensi Stroke Internasional Asosiasi Stroke Amerika 2025, di Los Angeles. Temuan tersebut didasarkan pada studi Risiko Aterosklerosis pada Komunitas (ARIC), investigasi skala besar pertama di AS yang meneliti hubungan antara penggunaan benang gigi dan risiko stroke. Untuk studi tersebut, para peneliti mensurvei lebih dari 6.000 orang tentang kebiasaan penggunaan benang gigi mereka dan melacak kesehatan mereka selama 25 tahun.
Di antara mereka yang menggunakan benang gigi, 4.092 orang tidak pernah mengalami stroke, dan 4.050 orang tidak memiliki riwayat fibrilasi atrium (AFib), gangguan irama jantung yang umum. Seiring berjalannya waktu, 434 orang menderita stroke, dengan penyebab yang berbeda-beda mulai dari penyumbatan arteri hingga gumpalan darah yang berhubungan dengan jantung. Selain itu, 1.291 peserta mengalami AFib.
Analisis tersebut mengungkapkan bahwa semakin sering orang membersihkan gigi dengan benang gigi, semakin besar pula penurunan risiko stroke mereka. Membersihkan gigi dengan benang gigi juga dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih rendah untuk mengalami gigi berlubang dan penyakit periodontal.
“Perilaku kesehatan mulut dikaitkan dengan peradangan dan pengerasan arteri. Membersihkan gigi dengan benang gigi dapat mengurangi risiko stroke dengan menurunkan infeksi dan peradangan mulut serta mendorong kebiasaan sehat lainnya. Banyak orang menyatakan bahwa perawatan gigi itu mahal. Membersihkan gigi dengan benang gigi adalah kebiasaan sehat yang mudah diadopsi, terjangkau, dan dapat diakses di mana saja,” ucap Sen. (RN)