Waspadai Psikosomatik Bukan Kelelahan Biasa

Artikel ini telah direview oleh

Waspadai Psikosomatik Bukan Kelelahan Biasa

(Foto: Waspadai Psikosomatik Bukan Kelelahan Biasa)

Cermati kondisi lemas, mual, sulit tidur, atau jantung berdebar tanpa hasil medis yang jelas bisa jadi bukan sekadar kelelahan, melainkan gejala penyakit psikosomatik yaitu gangguan fisik yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan emosional.

“Psikosomatik bukan berarti pasien berpura-pura sakit. Emosi negatif seperti kecemasan, ketakutan, atau trauma bisa muncul sebagai keluhan fisik nyata,” ujar Dr. E. Mudjaddid, Sp.PD-KPsi, FINASIM, Konsultan Psikosomatik di Bethsaida Hospital Gading Serpong.

Menurutnya, penyakit psikosomatik seringkali membingungkan karena tidak ditemukan kelainan organik meski gejala terus berlangsung. Bahkan, keluhan bisa berpindah-pindah, seperti nyeri lambung berganti menjadi pusing, jantung berdebar, hingga tubuh lemas. Stres berkepanjangan, konflik pribadi, atau beban sosial menjadi pencetus umum.

Jika tidak ditangani, gangguan ini dapat berkembang menjadi kerusakan organik. Penanganannya perlu dilakukan dalam 4 dimensi yakni, medis, psikologis, sosial, dan spiritual.

Kenali gejala kecemasan

Dijelaskan, gangguan kecemasan adalah kondisi di mana seseorang mengalami rasa cemas atau khawatir yang berlebihan dan tak terkendali. Kecemasan ini dapat berupa kekhawatiran tentang hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan atau ketakutan akan sesuatu yang tidak pasti seperti kehilangan pekerjaan. Gejalanya seperti detak jantung cepat, keringat berlebih, gemetar, sakit kepala, dan sulit tidur. Penderita juga akan merasakan sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan merasa tegang atau gelisah. Di Indonesia, pada tahun 2024, prevalensi gangguan kecemasan pada remaja hingga orang dewasa mencapai 68,7%.

Adapun beberapa faktor penyebab utama gangguan kecemasan berlebihan diantaranya seperti riwayat keluarga atau genetika. Heritabilitasnya bahkan mencapai 30 persen. Faktor selanjutnya adalah faktor lingkungan dan adanya perubahan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan stres.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa terdapat sekitar 301 juta orang di dunia yang mengalami gangguan kecemasan, termasuk 58 juta anak-anak dan remaja. Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa anxiety disorder berada di posisi kedua dari 10 penyakit dengan jumlah penderita terbanyak sejak tahun 1990 hingga 2017.

Baca juga:  Jangan Anggap Enteng, Berikut 8 Kebiasaan Butuh Pemicu Wasir

Gejala anxiety disorder bervariasi pada tiap individu, namun secara umum penderita akan merasakan kombinasi gejala fisik dan emosional. Salah satu gejala awal yang umum dialami adalah perasaan gugup berlebihan disertai jantung berdebar kencang.

Dalam kasus yang lebih berat, gejala tersebut bisa berkembang menjadi serangan panik (panic attack). Adapun gejala umum dari anxiety disorder meliputi:

  • Rasa cemas yang tidak terkendali
  • Perasaan gelisah dan panik
  • Tubuh mudah lelah, namun mengalami kesulitan tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Mudah marah dan emosional
  • Nyeri tubuh tanpa sebab yang jelas
  • Otot tegang, mual, mulut kering
  • Tangan dan kaki sering kesemutan atau berkeringat
  • Pikiran yang dipenuhi kekhawatiran dan perenungan terus-menerus

Gejala-gejala ini bisa berlangsung selama lebih dari enam bulan dan secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya.

Penyebab kecemasan

Penyebab gangguan kecemasan bersifat multifaktorial, artinya melibatkan berbagai faktor biologis, psikologis, dan lingkungan. Beberapa penyebab umum di antaranya:

  • Faktor genetik, yaitu riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga
  • Ketidakseimbangan hormon otak yang mengatur suasana hati dan respons stres
  • Lingkungan penuh tekanan, seperti pengalaman kekerasan, pelecehan, atau kehilangan orang terdekat
  • Penyalahgunaan zat, termasuk alkohol, narkoba, dan obat-obatan tertentu
  • Konsumsi kafein berlebihan, yang dapat mempercepat detak jantung dan memperburuk gejala kecemasan
  • Kondisi medis tertentu, seperti gangguan tiroid, masalah jantung, atau gangguan paru-paru

Penelitian menunjukkan bahwa otak penderita gangguan kecemasan memiliki cara tertentu dalam mengolah rasa takut dan memori, yang membuatnya lebih sensitif terhadap stimulus yang dianggap mengancam.

Diagnosis anxiety disorder hanya dapat ditegakkan oleh tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater. Pemeriksaan biasanya meliputi wawancara medis, tes psikologis berupa kuesioner, serta pemeriksaan fisik seperti tes darah atau urin untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab medis lainnya.

Baca juga:  Diatas Usia 40 Tahun, Wanita Penting Konsumsi Vitamin Ini

Jika Anda merasa mengalami gejala yang serupa dalam waktu lama dan mengganggu fungsi harian, penting untuk segera mencari bantuan profesional. Semakin dini ditangani, semakin besar peluang untuk pulih dan kembali menjalani hidup dengan normal.

Di sisi lain, PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia) telah melakukan penelitian lanjut mengenai gejala serta penyebab gangguan kecemasan secara berlebihan atau anxiety disorder. Berikut adalah beberapa jenis obat yang umum digunakan untuk mengurangi perasaan cemas dan membantu mengelola kondisi tersebut meliputi:

1. Obat antidepresan

Antidepresan adalah obat-obatan yang digunakan untuk mengobati depresi dan beberapa kondisi mental lainnya, termasuk gangguan kecemasan. Obat ini termasuk obat penenang yang dapat meredakan stres berlebih. Contoh obat ini adalah fluoxetine, sertraline, citalopram, escitalopram, dan paroxetine. Cara kerja obat antidepresan dengan meningkatkan kadar serotonin di otak untuk mengurangi gejala depresi dan kecemasan.

  1. Obat benzodiazepine

Benzodiazepine adalah golongan obat penenang atau sedatif yang digunakan untuk mengatasi berbagai kondisi kesehatan, terutama gangguan kecemasan dan gangguan tidur. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan aktivitas gamma-aminobutyric acid (GABA), yang mengurangi aktivitas sel saraf di otak, sehingga membuat pasien merasa lebih tenang.

  1. Obat pregabalin

Pregabalin memang dapat digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan, terutama Generalized Anxiety Disorder (GAD) pada pasien dewasa. Namun, penggunaannya sebagai obat kecemasan tidak sepopuler benzodiazepine, tetapi memiliki kelebihan karena tidak memiliki potensi ketergantungan yang sama seperti benzodiazepine. Dosis awal yang diberikan apoteker, biasanya adalah 150 mg per hari, dibagi menjadi 2-3 dosis. Dosis dapat ditingkatkan secara bertahap hingga maksimal 600 mg per hari, tergantung pada respons dan toleransi pasien.

Penting untuk diingat bahwa semua obat penenang untuk mengatasi gangguan kecemasan harus diresepkan langsung oleh apoteker. Selain mengonsumsi obat, olahraga secara rutin juga dapat mengurangi stres serta meningkatkan kesehatan mental. (RN)