Diabetes Insipidus Bukan Varian Baru Diabetes Mellitus

Artikel ini telah direview oleh

Diabetes Insipidus Bukan Varian Baru Diabetes Mellitus

Diabetes Insipidus Bukan Varian Baru Diabetes Mellitus
Foto: navicehealth.org

Ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dapat mengakibatkan munculnya penyakit langka yang disebut diabetes insipidus. Cairan yang tidak seimbang dapat membuat seseorang memproduksi urine dalam jumlah besar. Tak heran, penderita penyakit ini akan selalu merasa kehausan.

Istilah diabetes insipidus tidaklah sama dengan diabetes mellitus. Sekadar informasi, diabetes mellitus melibatkan kadar gula darah tinggi dan dapat terjadi sebagai tipe 1 atau 2. Ini adalah penyakit umum yang lebih dikenal sebagai diabetes.

Sejauh ini, belum ada obat untuk mengobati diabetes insipidus. Tetapi perawatan yang benar dapat menghilangkan rasa haus dan mengurangi produksi urine untuk mencegah dehidrasi. Berikut beberapa gejala diabetes insipidus yang patut diwaspadai.

  1. Menjadi sangat haus
  2. Memproduksi urin berwarna pucat dalam jumlah besar
  3. Sering perlu bangun untuk buang air kecil di malam hari
  4. Lebih suka minuman dingin

Jika kondisi penyakit yang diderita cukup serius dan mengonsumsi banyak cairan, maka seseorang dapat menghasilkan sebanyak 20 liter urine dalam sehari. Padahal, dalam kondisi normal, orang dewasa yang sehat biasanya buang air kecil rata-rata 1-2 liter sehari.

Baca juga:  Mata dan Mulut Terasa Kering Tanda Penyakit Sjogren’s Syndrome

Tidak hanya orang dewasa, bayi atau anak kecil pun bisa terkena penyakit ini. Beberapa tanda dan gejalanya antara lain:

  1. Popok basah dengan parah
  2. Mengompol
  3. Sulit tidur
  4. Demam muntah
  5. Sembelit
  6. Pertumbuhan tertunda
  7. Penurunan berat badan

Diabetes insipidus terjadi ketika tubuh tidak dapat menyeimbangkan kadar cairan dengan baik. Ginjal menyaring bagian cairan darah untuk membuang produk limbah. Sebagian besar cairan dikembalikan ke aliran darah, sementara limbah dan sejumlah kecil cairan membentuk urine.

Urine ini dikeluarkan dari tubuh setelah disimpan sementara di kandung kemih. Hormon yang disebut hormon anti-diuretik (ADH), atau vasopresin, diperlukan agar cairan yang disaring oleh ginjal kembali ke aliran darah. ADH dibuat di bagian otak yang disebut hipotalamus dan disimpan di kelenjar pituitari. Ini merupakan kelenjar kecil yang ditemukan di dasar otak. Kondisi yang menyebabkan defisiensi ADH atau menghalangi efek ADH mengakibatkan produksi urine berlebih.

Apabila menderita diabetes insipidus, tubuh tidak dapat menyeimbangkan kadar cairan dengan benar. Penyebabnya penyakit ini berbeda-beda, tergantung pada jenis diabetes insipidus yang diderita, di antaranya:

  1. Diabetes Insipidus Sentral
    Kerusakan pada kelenjar pituitari atau hipotalamus akibat pembedahan, tumor, cedera kepala atau penyakit dapat menyebabkan diabetes insipidus sentral dengan memengaruhi produksi, penyimpanan, dan pelepasan ADH yang biasa. Penyakit genetik yang diturunkan juga dapat menyebabkan kondisi ini.
  1. Diabetes Insipidus Nefrogenik
    Diabetes insipidus nefrogenik terjadi ketika ada cacat pada struktur di ginjal yang membuat ginjal tidak dapat merespons ADH dengan baik. Cacat mungkin karena kelainan bawaan (genetik) atau kelainan ginjal kronis. Obat-obatan tertentu, seperti lithium atau obat antivirus seperti foscarnet (Foscavir), juga dapat menyebabkan diabetes insipidus nefrogenik.
  1. Diabetes Insipidus Gestasional
    Diabetes insipidus gestasional jarang terjadi. Ini terjadi hanya selama kehamilan ketika enzim yang dibuat oleh plasenta menghancurkan ADH pada ibu.
  1. Polidipsia Primer
    Juga dikenal sebagai diabetes insipidus dipsogenik. Kondisi ini dapat menyebabkan produksi urine encer dalam jumlah besar karena minum cairan dalam jumlah berlebihan. Polidipsia primer dapat disebabkan oleh kerusakan mekanisme pengatur rasa haus di hipotalamus. Kondisi ini juga telah dikaitkan dengan penyakit mental, seperti skizofrenia. (RN)
Baca juga:  Penderita Diabetes Rentan Alami Kerusakan Mata