Atasi Nyeri Dengan Ngeblok Saraf

Artikel ini telah direview oleh
Atasi Nyeri Dengan Ngeblok Saraf
Foto: cloudhospital.com

Ngeblok Saraf

Nyeri leher, bahu, pinggang, lengan, atau kaki memang mengganggu. Apalagi jika rasanya tak kunjung hilang, bolak-balik kambuh, bahkan menetap. Jika Anda mengalami masalah ini, mungkin tindakan medis yang disebut Interventional Pain Management (IPM) bisa membantu mengatasi nyeri tersebut.

Selama ini, penanganan nyeri merupakan hal yang kompleks, personal, dan berbeda bagi setiap pasien tergantung kondisi kesehatan yang dimiliki. Nyeri yang ditangani secara baik, terutama nyeri kronik, mampu meningkatkan kualitas hidup pasien. Maka dari itu, pengelolaan nyeri perlu diperhatikan sejak awal.

“IPM merupakan suatu tindakan minimal invasif (bedah sayatan kecil) yang dilakukan dengan panduan alat radiologi untuk mengobati nyeri akut dan kronik secara jangka panjang atau permanen,” kata dokter pakar intervensi nyeri dari Pain Clinic Siloam Hospitals Bekasi Timur, dr. Reno Yonora, Sp.AN, FIP.

Menurutnya, terapi ini dilakukan dengan cara mengeblok saraf yang menjadi jalur perjalanan sinyal nyeri ke otak.

IPM adalah suatu tindakan minimal invasif yang dilakukan dengan panduan alat untuk mengobati nyeri akut dan kronik secara jangka panjang atau permanen. Prosedur tindakan dilakukan dengan cara memasukkan obat, zat, atau alat tertentu ke dalam struktur tubuh atau bagian tubuh tertentu yang menjadi sumber nyeri. Selanjutnya, memblok saraf yang merupakan bagian dari mekanisme perjalanan nyeri secara tepat sasaran menggunakan alat pemandu seperti ultrasonografi (USG), fluoroskopi, C-Arm, dan alat penunjang lainnya.

Langkah ini efektif dalam menangani sejumlah kasus nyeri karena memiliki sejumlah keunggulan antara lain, tindakan bersifat minimal invasif, menggunakan bius lokal sehingga risiko lebih kecil, obat ditargetkan langsung dengan panduan ultrasonografi (USG) dan fluoroskopi, membantu pasien dalam mengurangi dan menghentikan konsumsi obat nyeri, serta rehabilitasi atau pemulihan lebih cepat dan dini.

Teknik IPM

Terdapat tiga teknik yang akan dilakukan dalam penerapan IPM. Pemilihan teknik yang tepat tergantung pada jenis nyeri, kondisi kesehatan, serta tingkat keparahan nyeri yang dimiliki pasien. Tiga teknik yang dimaksud antara lain:

  1. Penyuntikan Obat pada Lokasi Penyebab Nyeri
    Penyuntikan dapat berupa pemberian steroid yang berguna untuk mengurangi peradangan di sumber nyeri secara tepat. Selain steroid, dapat diberikan juga obat regeneratif (Platelet Rich Plasma atau PRP dan Proloterapi), yaitu obat yang memperbaiki struktur jaringan seperti otot dan tendon yang mengalami kerusakan dan menjadi sumber nyeri. Pemberian obat tersebut harus dilakukan dengan panduan alat seperti USG dan C-Arm agar tepat langsung di sumber nyeri.
  1. Blok Saraf
    Blok saraf akan menganggu sinyal saraf ke otak yang membantu menghilangkan rasa sakit. Blok saraf dilakukan dengan panduan USG dan C-Arm menuju saraf sumber nyeri, sehingga dapat mengurangi nyeri yang berlangsung beberapa minggu maupun bulan. Dalam beberapa kasus, bahkan dapat menjadi blok permanen, tergantung pada teknik dan obat yang digunakan.
  1. Radiofrekuensi Ablasi atau Neuromodulasi
    Gelombang radiofrekuensi digunakan untuk menonaktifkan atau menenangkan jaringan saraf yang menghantarkan sinyal nyeri, sehingga mengurangi sinyal nyeri yang dipancarkan dari sumber nyeri. Gelombang radiofrekuensi ini dihasilkan oleh alat khusus dan dihantarkan melalui jarum yang diarahkan menuju saraf yang menjadi sumber nyeri dengan panduan USG dan C-Arm.
Baca juga:  Tak Hanya Leukimia, Kanker Lain Bisa Menyerang Anak

Perlu dipahami, rasa nyeri muncul ketika terjadi masalah dan sel saraf reseptor rasa nyeri memberi sinyal ke otak. Perjalanan sinyal nyeri itu dimulai dari sumber nyeri, berlanjut ke saraf tepi, kemudian ke sumsum tulang belakang, hingga sampai di otak.

Otak kemudian memproses, menerjemahkannya sebagai rasa nyeri dan memberi tahu tubuh untuk bereaksi terhadap gangguan yang menimbulkan rasa nyeri. Ketika jalur perjalanan sinyal nyeri menuju otak diblok, sinyal nyeri tak akan sampai ke otak. Nyeri pun tak dirasakan.

“Tindakan ini menggunakan gelombang radiofrekuensi untuk menonaktifkan atau menenangkan jaringan saraf yang menghantarkan sinyal nyeri. Gelombang radiofrekuensi ini dihasilkan oleh alat khusus dan dihantarkan melalui jarum yang diarahkan menuju saraf tersebut. Agar tepat sasaran, prosesnya dibantu alat radiologi sebagai pemandu seperti ultrasonografi (USG), fluoroskopi, atau C-Arm,” terang Reno.

Reno menambahkan, IPM menjadi pilihan tepat untuk pasien nyeri dengan kondisi berikut: 

  • Nyeri kepala dan leher: cervicogenic headache (sakit kepala akibat nyeri leher), trigeminal neuralgia (nyeri wajah sebelah), dan cervical facet pain (nyeri sendi leher).
  • Nyeri bahu, siku, dan tangan: frozen shoulder (kaku dan nyeri bahu), tennis elbow (nyeri siku), carpal tunnel syndrome/CTS (saraf terjepit di tangan), dan osteoarthritis wrist joint (nyeri sendi pergelangan dan jari tangan).
  • Nyeri punggung/low back pain: Hernia Nucleus Pulposus/HNP (saraf terjepit di pinggang) dan lumbar facet joint pain (nyeri sendi facet di punggung).
  • Nyeri akibat kanker: kanker payudara, kanker rahim, kanker pankreas, dan sejenisnya.
  • Nyeri akibat herpes.
  • Nyeri kaki dan pengelangan kaki: plantar fascitis (nyeri telapak kaki), tarsal tunnel syndrome (saraf terjepit di pergelangan kaki), dan osteoarthritis ankle joint (nyeri pada sendi pergelangan kaki).
  • Nyeri akibat cedera olahraga/sport injury.
  • Nyeri lutut/knee osteoarthritis.
  • Nyeri kronik pasca operasi.
Baca juga:  Mengenal TGA, Hilang Ingatan Jangka Pendek

Tak hanya itu, IPM menjadi pilihan penatalaksanaan nyeri lebih lanjut khususnya untuk kondisi pasien sebagai berikut:

  • Mengalami nyeri akut, kronik, dan kanker, terutama jika pengobatan secara konvensional dengan menggunakan metode medikamentosa (obat-obatan penghilang rasa nyeri) tidak berhasil mengurangi nyeri yang timbul.
  • Pasien telah menggunakan obat penghilang nyeri dalam waktu yang lama, sehingga timbul gangguan efek samping akibat penggunaan obat, seperti gangguan lambung dan ginjal.
  • Tidak bisa minum obat nyeri karena alergi, memiliki penyakit gangguan ginjal, gangguan pencernaan, dan lainnya.
  • Pernah menjalani operasi, tetapi masih mengalami rasa sakit.
  • Ingin menghindari operasi jika memungkinkan.

“Prosedur IPM tergolong minimally invasive sehingga waktu pemulihan pascatindakan relatif singkat. Hasilnya pun akan meningkatkan kualitas hidup karena dapat mengatasi nyeri secara jangka panjang, bahkan permanen,” pungkas dr. Reno. (RN)