Cermati Cara Edukasi Seks Bagi Anak

Cermati Cara Edukasi Seks Bagi Anak
Foto: sayangianak.com

Salah satu tantangan bagi orangtua adalah memberi edukasi seks dan kesehatan reproduksi yang sangat penting bagi anak di masa kini. Hal ini biasa menjadi tantangan bagi orangtua dan kerap menimbulkan kebingungan.

Edukasi seks dan kesehatan reproduksi yang tepat dari orangtua bisa sangat menentukan pemerolehan pengetahuan sang anak. Dengan pengetahuan yang tepat dari anak, maka mereka bisa lebih memahami perbedaan antara pria dan wanita secara tepat.

Menurut Inez Kristanti, psikolog klinis dari Angsa Merah, ada beberapa tips mengenai tahapan edukasi seks yang sesuai dengan usia anak.

  1. Usia 1 hingga 2 Tahun
    Inez mengatakan, di usia satu sampai dua tahun, anak sudah mulai mengerti tentang bahasa dan kata-kata. Di tahap ini, edukasi seks bisa dimulai dengan mengajarkan tentang organ tubuh, termasuk organ seksual. “Kita juga perlu mengajarkan itu dengan nama sebenarnya. Biasanya kita pakai kata ‘burung’ atau bahasa daerah, terkadang disamarkan. Nah itu seharusnya sudah diberikan bahasa yang sebenarnya, ini penis, ini vagina,” kata Inez. Dari situ kita mulai menormalisasi pembicaraan seksualitas dengan anak.
  1. Usia 3 sampai 5 Tahun
    Kemudian, di usia sekitar tiga sampai lima tahun, orangtua juga harus mulai sadar dan waspada tentang banyaknya pelecehan seksual yang kerap terjadi. Maka dari itu, mereka harus diajarkan tentang bagian-bagian tubuh yang bersifat personal. “(Misalnya) ini lho bagian tubuh yang tidak boleh disentuh orang lain,” kata Inez menambahkan. Selain itu, jelaskan juga fungsi-fungsinya.
  1. Usia Lima hingga 8 Tahun
    Lalu, di usia lima hingga delapan tahun, anak sudah mulai bersosialisasi dengan teman sebayanya serta mengenal tentang jenis kelamin. Di situ, mereka sudah bisa diberikan edukasi seputar gender. “Kemudian juga terkait citra tubuh, terkait bagaimana mencintai diri kita sendiri, menghargai diri kita sendiri,” terang Inez.
  1. Usia 8 sampai 12 Tahun
    Hingga 12 tahun, anak sudah memasuki menjelang pubertas. Di sini, orangtua harus mengajarkan tentang kondisi itu serta perubahan yang akan terjadi. “Memang pembicaraan terkait ini akan lebih baik jika diberikan oleh orangtua yang jenis kelaminnya sama dengan anak. Ibu memberikan edukasi pada anak perempuan, ayah memberikan edukasi pada anak laki-laki,” Inez merekomendasikan. Tapi bukan berarti menutup kemungkinan yang lain juga terlibat. Tapi juga tetap yang memberikan pesan yang sesuai jenis kelaminnya, tapi sebaiknya yang ideal, ayah dan ibu terlibat. Di usia tersebut, mereka juga mulai aktif secara seksual. Orangtua harus bisa membicarakan tentang hal-hal tersebut. Beberapa di antaranya seperti gairah seks serta munculnya ketertarikan dengan lawan jenis.
  1. Masuk Usia Remaja
    Di usia lebih lanjut, anak sudah memasuki usia remaja. Sehingga, orangtua harus mulai menjadi teman untuk bicara soal seks pada mereka. “Jadi kalau sebelumnya lebih ke memberikan informasi tapi tetap berkomunikasi, informasi dua arah, di usia remaja peran paling krusial adalah menjadi teman,” kata Inez. Di sini, ketika anak bicara tentang seks, orangtua tidak boleh memberikan penghakiman padanya. Inilah yang harus dihindari. “Jadi kita menjadi teman yang bisa berdiskusi dua arah,” tandasnya. (RN)