Demensia Bukan Monopoli Lansia, Orang Mudapun Bisa Kena

Artikel ini telah direview oleh

Demensia Bukan Monopoli Lansia, Orang Muda (Pun) Bisa Kena

Demensia Bukan Monopoli Lansia, Orang Mudapun Bisa Kena
Foto: suara.com

Penyakit demensia tidak hanya dimonopoli kelompok usia lanjut (lansia), orang muda pun bisa. Ya, orang muda pun bisa didera kepikunan. Perlu dipahami, demensia adalah sebutan yang digunakan untuk menggambarkan gangguan otak yang memengaruhi daya ingat, berpikir, perilaku dan emosi. Gejala awalnya ditandai dari kehilangan ingatan, sulit melakukan tugas sederhana, masalah dengan bahasa hingga hilang atau berubahnya kepribadian. Laman Alzheimer’s Disease International, menyebutkan bahwa demensia diperkirakan dialami oleh 46 juta orang di dunia. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat hingga angka 131 juta di tahun 2050 kelak.

Demensia kerap diasosiasikan dengan faktor usia yang semakin bertambah. Data statistik di laman Healthin Aging berkata bahwa sekitar 7 persen dari orang di atas usia 60 tahun mengidap demensia. Hal ini dikarenakan sel-sel otak lansia yang rusak dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Tak heran, bila demensia menyebabkan beberapa gangguan, misalnya bermasalah dengan ingatan, bahasa, pembuatan keputusan hingga berubahnya mood dan bertambahnya  gangguan kecemasan.

Demensia berkembang ketika ada protein yang menumpuk di otak untuk membentuk struktur yang kusut. Alzheimer sendiri merupakan jenis demensia yang paling umum dialami oleh orang yang lebih muda, meski mayoritas tetap dialami oleh para lansia. Gejala demensia pada anak muda bukan berkaitan dengan kehilangan ingatan (memory loss), tetapi memiliki masalah pada penglihatan, bicara, membuat rencana dan pengambilan keputusan.

Baca juga:  Pahami Gejalanya Jangan Sampai Anda Alami Kolesterol Tinggi

Makanan adalah nutrisi bagi otak kita. Namun, makanan tertentu bisa menyebabkan hilangnya ingatan lebih cepat. Di antaranya adalah makanan olahan yang terdiri dari daging olahan (sosis, daging kaleng dan daging asap), keju olahan, pasta dan sejenisnya. Makanan olahan ini merangsang produksi racun dalam tubuh yang menyebabkan peradangan, penumpukan lemak di otak dan merusak fungsi kognitif.

Sayangnya, justru makanan seperti ini yang paling disukai oleh orang-orang berusia muda. Who doesn’t like meats, right? Meski begitu, membatasi konsumsi makanan olahan adalah pilihan yang tepat untuk menghindari demensia.

Selain itu, kebiasaan buruk bermalas-malasan harus segera dihentikan. Selain membuatmu tak produktif, tubuhmu menjadi kurang bergerak. Implikasinya, kurang berolahraga dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit kronis yang memengaruhi fungsi otak. Orang yang kurang berolahraga juga memiliki risiko tinggi mengalami masalah dengan memori dan kemampuan berpikir.

Jurnal yang dipublikasikan dalam US National Library of Medicine National Institute of Health menunjukkan bahwa ada keterkaitan antara merokok dan risiko terkena demensia. Perokok aktif berisiko 30 persen lebih tinggi mengalami demensia daripada non-perokok. Selain itu, merokok dapat mengganggu sirkulasi darah, meningkatkan risiko penyakit jantung dan merusak pembuluh darah. Padahal, merokok adalah kebiasaan yang umum ditemukan dan dianggap wajar di kalangan anak muda.

Baca juga:  Aktivitas Fisik dan Otak Rutin Dapat Cegah Demensia

 Belum terlambat untuk mencegah! Selagi muda, kamu bisa menjauhkan risiko demensia dengan makan makanan yang sehat. Di antaranya adalah sayuran hijau seperti bayam, kale dan romaine yang memiliki kandungan antioksidan dan vitamin K. Buah beri-berian juga memiliki dampak positif untuk kesehatan otak karena mengandung flavonoid yang bisa mengaktifkan jalur otak terkait dengan pengurangan sel penuaan. Kacang-kacangan, gandum juga ikan salmon dapat pula memberi efek positif pada otak. (RN)