Hati-hati, Perfeksionis Rentan Terkena Depresi

Artikel ini telah direview oleh
Perfeksionis Rentan Terkena Depresi
Foto: detik.com (Hati-hati, Perfeksionis Rentan Terkena Depresi)

Banyak orang ingin menjadi yang terbaik, melakukan segala sesuatunya dengan benar, dan melebihi ekspektasi atau dikenal dengan istilah perfeksionis. Dalam banyak hal, perfeksionisme sering dilihat sebagai kekuatan, sifat yang mendorong kesuksesan dan kemajuan.

Dipahami perfeksionis adalah tipe kepribadian seseorang yang ditandai dengan keinginan agar segala sesuatu yang dikerjakan berjalan dengan sempurna. Sebenarnya, tidak ada salahnya memiliki sifat perfeksionis, namun jika sifat ini dilakukan secara berlebihan, dapat memicu berbagai dampak buruk bagi kesehatan tubuh dan juga hubungan dengan orang lain.

Namun, bagaimana jika pengejaran kesempurnaan tanpa henti ini secara perlahan-lahan berdampak buruk bagi kesehatan kita? Bagi sebagian orang, keinginan untuk mencapai hasil yang sempurna dapat menyebabkan frustrasi, kecemasan, dan pada akhirnya depresi.

Meskipun mengejar kesempurnaan terkadang dapat membantu kita mendorong batas-batas kemampuan kita, hal ini juga dapat menjebak kita dalam siklus kekecewaan dan keraguan diri yang tidak ada habisnya.

Ini lima alasan bagaimana sebenarnya perfeksionisme berkontribusi pada perjuangan kesehatan mental:

Menetapkan standar yang mustahil

Orang yang perfeksionis sering kali berharap terlalu banyak dari diri mereka sendiri-kadang-kadang lebih dari yang bisa dicapai oleh siapa pun secara realistis. Tidak peduli seberapa besar usaha yang mereka lakukan, itu tidak pernah terasa cukup. Perasaan tidak cukup yang terus menerus ini menyebabkan frustrasi dan kelelahan, membuat mereka lebih mungkin mengalami depresi. Ketika kesuksesan selalu tampak jauh dari jangkauan, mudah sekali untuk merasa putus asa.

Menunda-nunda sesuatu karena takut

Ironisnya, perfeksionisme dapat menyebabkan penundaan. Ketakutan untuk tidak melakukan sesuatu dengan sempurna membuat kita sulit untuk memulainya. Ketika tenggat waktu semakin dekat, stres meningkat, dan tekanan menjadi luar biasa. Siklus menunda tugas, merasa bersalah, dan menghadapi kecemasan ini hanya menambah tekanan emosional, sehingga membuat depresi lebih mungkin terjadi.

Mengaitkan harga diri dengan kesuksesan

Bagi banyak orang yang perfeksionis, rasa harga diri mereka sepenuhnya terbungkus dalam pencapaian mereka. Jika mereka tidak memenuhi ekspektasi mereka yang tinggi, mereka merasa gagal-bukan hanya dalam sebuah tugas, tapi juga sebagai pribadi. Harga diri yang rapuh ini membuat mereka lebih rentan terhadap perasaan tidak mampu yang mendalam, sehingga meningkatkan risiko depresi. Ketika setiap kesalahan kecil terasa seperti kegagalan pribadi, sulit untuk merasa nyaman dengan diri sendiri.

Selalu mengejar tujuan berikutnya

Orang yang perfeksionis tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah mereka capai-selalu ada tujuan lain yang harus dicapai. Tidak peduli seberapa banyak yang telah mereka capai, sepertinya tidak pernah cukup. Tekanan yang terus menerus untuk melakukan lebih banyak hal ini menyebabkan kelelahan, stres, dan, pada akhirnya, depresi. Tanpa kemampuan untuk berhenti sejenak dan menghargai kemajuan mereka, mereka akan merasa lelah dan hampa.

Takut mengecewakan orang lain

Orang yang perfeksionis sering kali memikul beban yang berat: Takut mengecewakan orang lain. Mereka memberikan banyak tekanan pada diri mereka sendiri untuk memenuhi harapan-baik dari keluarga, teman, atau masyarakat. Ketika mereka merasa gagal, rasa malu dan terisolasi akan muncul. Beban emosional ini dapat berdampak serius pada kesehatan mental, sehingga membuat depresi lebih mungkin terjadi.

Baca juga:  Cermati Gejala Asam Lambung dan Langsung Tangani

Standar tinggi 

Orang dengan sifat perfeksionis cenderung menetapkan standar terlalu tinggi dan memberikan kritik secara berlebihan, baik pada dirinya sendiri maupun orang lain. Selain itu, seorang perfeksionis juga sangat mempedulikan pandangan dan evaluasi orang lain terhadap dirinya.

Sejatinya, setiap orang pasti akan mengerahkan seluruh kemampuannya secara optimal untuk bisa berhasil dan menghasilkan sesuatu yang terbaik. Sayangnya, sifat tersebut bisa berdampak negatif apabila didorong oleh ketakutan akan kegagalan.

Tidak hanya menuntut sesuatu yang sempurna, sifat perfeksionis juga membuat seseorang takut ditolak dan mendapatkan kritikan dari orang lain. Akibatnya, mereka selalu merasa cemas dan stres apabila hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan standar yang dibuat sendiri, atau tidak berhasil mencapai standar yang ditetapkan oleh orang lain.

Rasa cemas tersebut juga bisa memicu rasa tidak pernah puas atau bangga dengan hasil pekerjaannya, meski sebenarnya hasilnya sudah cukup baik. Karenanya, tak sedikit orang perfeksionis yang akhirnya merasa tidak bahagia, kelelahan (burn out), rentan terkena penyakit, dan tidak memiliki work-life balance.

Jenis-Jenis perfeksionis

Terdapat dua jenis perfeksionis, yaitu perfeksionis adaptif dan maladaptif. Berikut masing-masing penjelasannya.

Perfeksionis Adaptif

Jenis kepribadian perfeksionis ini masih tergolong sehat dan terarah. Meski memiliki standar yang tinggi, orang dengan sifat ini tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika mengalami kegagalan atau terjadi sesuatu hal yang tidak berjalan sesuai rencananya. Orang yang memiliki sifat perfeksionis adaptif mampu berpikir positif dan memberikan motivasi pada seseorang untuk selalu menjadi lebih baik. Sifat ini justru dapat membantu seseorang untuk mencapai prestasi di sekolah maupun tempat kerja.

Perfeksionis Maladaptif

Jenis kepribadian perfeksionis inilah yang tergolong tidak sehat. Standar tinggi yang dimiliki seseorang dengan sifat perfeksionis maladaptif membuat ia terlalu berfokus pada hal-hal negatif, seperti kesalahan atau kegagalan di masa lalu, membandingkan diri sendiri dengan orang lain, takut akan kegagalan, dan tidak yakin pada kemampuan dirinya sendiri.

Sifat perfeksionis maladaptif dapat menimbulkan reaksi berlebihan pada seseorang saat mengalami kegagalan, seperti stres hingga depresi. Karenanya, sifat ini sering dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, merasa rendah diri, kesepian, tidak bahagia, insomnia, gangguan makan, hingga munculnya keinginan untuk bunuh diri.

Penyebab perfeksionis

Perfeksionis yang tidak sehat sering kali dipicu oleh sikap orang-orang terdekat terhadap pencapaian seseorang. Di samping itu, beberapa faktor lain yang dapat menimbulkan sifat perfeksionis adalah:

  • Gangguan mental, seperti OCD (obsessive-compulsive disorder) dan gangguan kecemasan.
  • Takut saat tidak disukai orang lain.
  • Memiliki keluarga dengan sifat perfeksionis atau orang tua sering tidak menghargai pencapaian yang didapatkan anak sejak kecil.
  • Memiliki sifat ketergantungan yang telah terbentuk sejak kecil.
Baca juga:  Ini Penyebab Kerusakan Ginjal yang Jarang Disadari

Ciri-Ciri perfeksionis

Beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang memiliki sifat perfeksionis adalah sebagai berikut:

  • Memiliki standar yang terlampau tinggi, sehingga sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilakukan. Pada akhirnya, hal ini membuat pekerjaan tersebut tidak selesai atau memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan atau standar yang sudah ditetapkan. Jika sudah begitu, seorang perfeksionis akan tenggelam dalam pikiran negatifnya.
  • Menjadi sangat kritis terhadap berbagai hal karena selalu berfokus pada kekurangan atau ketidaksempurnaan secara berlebihan. Hal ini juga membuat mereka sulit untuk memberikan apresiasi kepada prestasi orang lain.
  • Bahagia ketika menjadi sempurna. Orang dengan sifat perfeksionis enggan mengalami kegagalan dalam hidupnya. Mereka mendorong diri sendiri untuk melakukan sesuatu dengan sempurna dan merasa harus lebih baik. Jika memungkinkan, harus bisa melebihi target atau ekspektasi yang telah ditentukan.
  • Sering menunda pekerjaan agar bisa memberikan hasil yang sempurna.
  • Merasa harus menjadi nomor satu di antara orang lain. Bagi mereka, menjadi nomor dua tidak cukup untuk membuktikan kualitas dirinya.
  • Membutuhkan pengakuan atau validasi dari orang lain bahwa ia adalah orang yang sempurna. Hal ini membuat seorang perfeksionis sangat memedulikan pendapat atau evaluasi orang lain atas kinerjanya.
  • Selalu merasa bersalah ketika terjadi kegagalan dalam suatu proyek, sehingga ia akhirnya tidak lagi bisa menikmati hidup karena selalu teringat akan kegagalannya tersebut.
  • Tidak bisa menerima kritik maupun saran dari orang lain. Bagi orang perfeksionis, kritik dari orang lain merupakan sebuah kegagalan. Mereka bisa merasa cemas dan kritis pada dirinya sendiri sehingga akhirnya menjadi tertekan.
  • Tidak percaya terhadap kualitas kerja orang lain, sehingga memiliki kontrol secara berlebihan terhadap pekerjaan orang lain.

Dampak negatif

Sikap perfeksionis dapat memberikan dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa dampak negatif yang bisa disebabkan oleh sifat perfeksionis adalah sebagai berikut:

  • Tidak dapat menikmati hidup, karena terlalu berfokus pada kekurangan diri sendiri.
  • Hubungan sosial dengan orang di sekitarnya menjadi terganggu.
  • Memicu munculnya gangguan kesehatan, seperti gangguan pola makan, stres berkepanjangan yang berujung pada depresi, dan insomnia.
  • Membuat produktivitas menurun karena terlalu berfokus untuk mendapatkan hasil yang sempurna, sehingga akhirnya malah tidak fokus pada tujuan utama dari pekerjaannya.

Cara mengatasi

Jika merasa bahwa sifat perfeksionis yang dimiliki cukup mengganggu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasinya, yakni:

  • Menerapkan pola pikir bahwa kesuksesan bukan berarti tanpa kegagalan.
  • Membuat standar untuk hasil pekerjaan yang masuk akal.
  • Fokus pada proses, bukan hanya pada hasil akhir saja.
  • Melawan perasaan takut gagal.
  • Meyakinkan diri sendiri bahwa kegagalan yang dialami bisa menjadi pengalaman berharga untuk menjadi lebih baik lagi di masa depan.
  • Berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater apabila kondisi ini dirasa sudah mengarah ke hal-hal negatif, apalagi jika sudah menimbulkan gangguan kesehatan. (RN)