Hidup Berdampingan Dengan Glaukoma

Artikel ini telah direview oleh
Hidup Berdampingan Dengan Glaukoma
Foto: rsmataudayan.com

Glaukoma, sering juga disebut sebagai “pencuri penglihatan diam-diam”, adalah sekelompok kondisi mata yang merusak saraf optik, yang menyebabkan hilangnya penglihatan secara progresif. Di tahun ini, peringatan Hari Glaukoma Sedunia mengusung tema “Uniting for a Glaucoma-Free World” (Bersatu untuk Dunia Bebas Glaukoma).

Menurut survei di negara berkembang, 90 persen kasus glaukoma tidak terdeteksi. Hal itu diperparah dengan fakta bahwa sekitar satu milyar orang di dunia belum memiliki akses terhadap kesehatan mata.

Ahli Bedah Mata dan Consults on Practo Dr Swati Agarwal mengatakan, setiap individu harus memahami tantangan yang dihadapi saat didiagnosis glaukoma dan harus menyadari untuk mempertahankan kualitas hidup dengan manajemen glaukoma yang tepat. Ia memberikan rekomendasi untuk mengatasi glaukoma yakni melakukan pemeriksaan mata secara teratur.

Pertama, deteksi dini adalah kunci untuk menangani glaukoma. Jadwalkan pemeriksaan mata secara rutin dengan dokter mata untuk memantau kesehatan mata dan mendeteksi adanya perubahan pada kondisi Anda. Kedua, patuhi dan ikuti rencana perawatan secara rutin. Perawatan glaukoma sering kali melibatkan obat tetes mata, obat oral, terapi laser, atau pembedahan.

Sangat penting untuk mengikuti rekomendasi dokter dan mematuhi rencana perawatan Anda untuk mengontrol tekanan intraokular dan mencegah kehilangan penglihatan lebih lanjut. Selain itu Agarwal mengatakan penting juga untuk pantau tekanan intraokular, yaitu perubahan struktural dan fungsional pada saraf optik.

Ini menunjukkan tanda memburuknya glaukoma dan mungkin memerlukan penyesuaian pada rencana perawatan Anda. Memilih untuk menjalani gaya hidup sehat juga bisa menjadi jalan terbaik yang bisa diambil jika anda didiagnosis menderita glaukoma. Konsumsi makanan bergizi seimbang, rutin berolahraga dan hindari stres serta jauhi rokok.

Disarankan untuk bergabung dengan kelompok dukungan atau terhubung dengan orang lain yang menderita glaukoma. Berbagi pengalaman dan tips dengan orang lain dapat memberikan dukungan emosional yang berharga dan nasihat praktis untuk mengatasi kondisi tersebut.

Hal lainnya, tetaplah terinformasi mengenai glaukoma dan terus dapatkan informasi tentang kemajuan dalam pilihan pengobatan. Pengetahuan dapat memberdayakan Anda untuk mengambil peran aktif dalam mengelola kesehatan mata dan membuat keputusan yang tepat mengenai perawatan Anda.

Glaukoma akut

Sementara itu, bagi pasien yang terkena glaukoma akut, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Widya Artini Wiyogo, Sp.M(K).,  mengimbau pasien memiliki waktu 2×24 jam untuk menurunkan tekanan bola mata guna mencegah kelainan penglihatan permanen.

“Jika terlambat, kelainannya akan menjadi permanen. Sehingga kami mengimbau agar sebelum akut, masyarakat melakukan skrining dini glaukoma secara berkala,” ujar Widya.

Lebih lanjut dikatakannya, glaukoma merupakan kondisi neuropati optik progresif yang disebabkan oleh adanya peningkatan tekanan di dalam bola mata yang dapat merusak saraf optik dan berdampak pada penurunan fungsi penglihatan, bahkan kebutaan. “Umumnya, tekanan darah di bola mata pasien saat diperiksa cukup tinggi, di atas 21 mmHg,” kata Widya.

Baca juga:  Harta Berharga di Usia Senja

Kondisi ini dapat dialami oleh usia berapa pun, namun seiring peningkatan faktor risiko, kondisi ini banyak dialami oleh kalangan usia 40 tahun ke atas. Hal ini menjadikan glaukoma sebagai penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak.

Nyaris tanpa gejala, glaukoma berpotensi memberikan dampak yang lebih fatal dibanding katarak karena glaukoma tidak dapat direhabilitasi, namun bisa dicegah dampak fatalnya yaitu berupa kebutaan permanen.

Umumnya, diagnosa glaukoma menggunakan alat tomografi koherensi optik (OCT) yaitu, teknologi pencitraan yang menggunakan interferometri koherensi rendah untuk mendapatkan gambar penampang lapangan pandang. Ketersediaan alat tersebut sudah dilengkapi JEC.

Penting edukasi

Pada bagian lain, dokter spesialis mata Elsa Gustianty mengatakan edukasi tentang glaukoma penting untuk publik agar kebutaan akibat glaukoma dapat ditekan.“Tujuannya adalah meningkatkan awareness atau kesadaran masyarakat terhadap penyakit glukoma sehingga mereka terdorong untuk memeriksakan diri,” ujarnya.

Elsa menyebut secara global 80 juta orang mengidap kondisi itu. Di Indonesia, kata Elsa, glaukoma adalah penyebab kebutaan terbanyak nomor dua. Adapun penyebab terbanyak adalah katarak. Selain untuk deteksi dini, lanjutnya, edukasi juga penting agar pasien mau datang ke dokter untuk kontrol.

Menurutnya, terdapat dampak psikologis yang ditimbulkan penyakit itu. Ketika seseorang divonis terkena glaukoma, kata dia, maka ada pasien yang tidak mau kontrol karena merasa usahanya sia-sia saja, karena tidak akan ada perubahan.

Ngapain ya diobatinNgapain ya dioperasi kalau tetap tidak bisa lihat?” Padahal kita itu usahanya adalah mempertahankan. Memang bukan mengobati menjadi kembali seperti dulu, tapi mencegah supaya tidak lebih buruk,” ucap Elsa.

Dia menuturkan glaukoma dapat menyerang siapa saja, namun tidak dapat diobati, karena kondisi tersebut adalah efek dari proses degeneratif, layaknya rambut yang memutih. Elsa mengatakan terdapat faktor risiko yang dapat mempercepat dan memperparah glaukoma yaitu umur, penyakit vaskuler antara lain hipertensi dan diabetes, penggunaan steroid, serta faktor keluarga.

Dalam kesempatan itu dia menjelaskan sejumlah steroid dapat menciptakan rasa nyaman misalnya dexamethasone, prednisolon, dan prednison. Ketika dipakai, katanya, mata merah menjadi putih dan radang langsung menghilang, sehingga kerap disalahgunakan orang yang punya alergi.

Dia menjelaskan sejumlah orang yang biasa memakai lensa kontak memakai obat-obatan itu hanya untuk menghilangkan gatal di matanya, hingga tanpa sadar setelah pemakaian bertahun-tahun, tekanan pada bola matanya tinggi. Pada glaukoma, kata dia, tekanan di mata disebabkan oleh air yang tidak dapat disirkulasi mata ke pembuluh darah. Karena produksi air berlebih, katanya, kemudian ditambah dengan hambatan di penyaluran itu, volume cairan meningkat hingga akhirnya menekan syaraf-syaraf serta pembuluh darah di belakang mata, hingga akhirnya syaraf-syaraf itu mati perlahan.

Dia menyebut syaraf memiliki keunikan sendiri, sehingga ketika ada satu syaraf yang mati, maka di sekitarnya juga ikut mati. Oleh karena itu, katanya, glukoma bersifat progresif.

Baca juga:  Menjaga Kondisi Tubuh Mutlak Bagi Lansia

Bisa dicegah

Di sisi berbeda, dokter spesialis mata di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan dr. Dinda Arken Devona, Sp. M mengatakan risiko kebutaan akibat glaukoma bisa dicegah apabila tekanan bola mata pasien bisa terkontrol dengan baik. “Glaukoma bisa menjadi kebutaan apabila tekanan bola mata tak terkontrol. Tetapi apabila sudah terkontrol dengan baik maka risiko untuk mengalami kebutaan, sangat rendah,” kata dia.

Menurut Dinda  tekanan bola mata akan berbeda-beda antara masing-masing pasien karena tergantung tingkat keparahan glaukoma, usia dan faktor lainnya. Glaukoma merupakan penyakit saraf mata yang bisa menimbulkan gangguan penglihatan terutama adanya gangguan lapang pandang yang sifatnya semakin lama bisa semakin memberat, dengan faktor risiko utama peningkatan tekanan bola mata.

Akibat peningkatan tekanan bola mata ini yakni kerusakan pada serat lembut saraf optik yang bertugas membawa sinyal penglihatan dari mata ke otak. Pada sebagian besar kasus, penyakit ini awalnya muncul tanpa gejala yang disadari pasien. Namun, saat kondisi sudah lebih lanjut, tanda yang biasanya dialami pasien salah satunya gangguan lapang pandang yang menyempit.

Kondisi ini bisa menyebabkan pasien mengeluhkan sering tersandung saat berjalan, kemudian apabila sudah memberat maka menyebabkan penglihatan pasien seperti mengintip dari lubang kunci. Selain itu, tanda lainnya, yakni mata terasa pegal mulai ringan sampai sangat nyeri di mata.

“Pada episode tertentu atau glaukoma akut, mata merah disertai nyeri sehingga bisa menyebabkan mual, muntah, sakit kepala, pasien seperti melihat cincin bercahaya atau gambaran pelangi, penglihatan sangat buram,” jelas Dinda.

Merujuk data yang pernah disampaikan perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI) pada tahun 2021, di Indonesia dengan populasi pada tahun 2017 terdapat 8 juta orang dengan gangguan penglihatan. Lalu, sebanyak 1,6 juta orang mengalami kebutaan ditambah dengan 6,4 juta orang dengan gangguan penglihatan sedang dan berat. Dari jumlah tersebut sebanyak 81,2 persen gangguan penglihatan disebabkan oleh katarak. Penyebab lainnya adalah refraksi atau glaukoma, atau kelainan mata hal-hal lainnya seperti kelainan refraksi, glaukoma atau kelainan mata yang berhubungan dengan diabetes.

Terkait faktor risiko, selain peningkatan bola mata, kondisi seperti riwayat keluarga dengan glaukoma, ketebalan kornea yang tipis, pasien mata minus dan plus, pasien diabetes dan pengobatan steroid jangka panjang diketahui bisa meningkatkan risiko seseorang terkena glaukoma.

Oleh karena itu, menurut Dinda, demi mencegah terkena glaukoma, seseorang khususnya dengan faktor risiko sebaiknya melakukan deteksi dini dengan melakukan pemeriksaan mata dan berkonsultasi rutin dengan dokter mata. “Glaukoma dikenal sebagai penyebab kebutaan nomor dua di dunia setelah katarak. Ini harus diwaspadai jangan sampai glaukoma dan berakhir kebutaan,” pesan Dinda. (RN)