
Dahulu stroke identik dengan penyakit orang tua. Namun saat ini terdapat pola pergeseran epidemiologi stroke ke arah usia produktif, bahkan dapat menyerang anak dan remaja. Selama satu dekade terakhir, terdapat peningkatan jumlah kasus stroke usia muda sebesar 67%. Stroke di usia muda memiliki dampak yang luas baik secara ekonomi maupun sosial, yang akan membutuhkan perawatan medis lebih lama dan berbiaya besar. Data dari BPJS Kesehatan pada tahun 2018 menunjukkan stroke menghabiskan dana sebesar 2,56 triliun rupiah.
Stroke yang sering kali dianggap sebagai masalah kesehatan yang hanya terjadi pada orang tua, juga dapat menghantui anak muda. Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke pada usia muda. Memahami penyebab-penyebab ini sangat penting untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat.
Berikut adalah sepuluh penyebab utama stroke pada usia muda, didukung oleh sumber ilmiah yang terpercaya.
- Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi adalah faktor risiko utama untuk stroke, bahkan pada usia muda. Tekanan darah tinggi dapat merusak arteri dan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, yang merupakan pemicu utama dari stroke iskemik dan hemoragik.
- Penyakit Jantung
Berbagai jenis penyakit jantung, termasuk penyakit jantung bawaan, aritmia, dan kondisi yang mempengaruhi aliran darah ke otak, dapat meningkatkan risiko stroke pada individu muda. Gangguan pada jantung dapat menyebabkan penggumpalan darah yang kemudian dapat menyumbat pembuluh darah di otak.
- Diabetes
Diabetes mellitus, terutama diabetes tipe 2, berhubungan erat dengan risiko stroke. Diabetes merusak pembuluh darah dan saraf, meningkatkan risiko aterosklerosis (penumpukan plak di pembuluh darah), yang pada akhirnya dapat menyebabkan stroke.
- Obesitas
Obesitas merupakan faktor risiko yang signifikan untuk berbagai masalah kesehatan, termasuk stroke. Obesitas meningkatkan tekanan darah, menyebabkan peradangan kronis, dan memperburuk kondisi kardiovaskular, yang semuanya dapat meningkatkan risiko stroke pada usia muda.
- Kebiasaan Merokok
Merokok tidak hanya meningkatkan risiko penyakit jantung, tetapi juga meningkatkan risiko stroke. Nikotin dalam rokok menyebabkan peningkatan tekanan darah, merusak pembuluh darah, dan menyebabkan penggumpalan darah, semua faktor yang dapat menyebabkan stroke.
- Penggunaan Obat-obatan Terlarang
Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain atau amfetamin dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, irama jantung yang tidak teratur, dan penggumpalan darah, yang semuanya meningkatkan risiko stroke pada individu muda.
- Aterosklerosis (Penumpukan Plak)
Aterosklerosis adalah kondisi di mana plak lemak, kolesterol, dan zat-zat lainnya menumpuk di dalam dinding pembuluh darah. Ini dapat menyebabkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah yang mengarah pada stroke iskemik, bahkan pada usia muda.
- Penyakit Autoimun
Beberapa kondisi autoimun seperti lupus atau vasculitis dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko pembekuan darah yang dapat menyebabkan stroke, terutama pada usia muda yang memiliki predisposisi genetik atau faktor risiko lainnya.
- Kelainan Darah
Kelainan darah seperti anemia sel sabit atau leukemia meningkatkan risiko pembekuan darah. Pada individu muda, kelainan darah ini dapat menjadi faktor risiko yang signifikan untuk stroke, terutama jika tidak dikelola dengan baik. - Faktor Genetik dan Herediter
Riwayat keluarga dengan riwayat stroke atau faktor genetik tertentu yang meningkatkan kemungkinan pembekuan darah atau kerusakan pembuluh darah dapat menjadi penyebab stroke pada usia muda. Memahami penyebab-penyebab ini tidak hanya penting untuk mengurangi risiko stroke pada usia muda, tetapi juga untuk mengambil langkah-langkah pencegahan yang tepat sesuai dengan kondisi dan faktor risiko individu.
Dengan edukasi yang tepat dan perawatan yang sesuai, dapat mengurangi dampak stroke yang seringkali menghantui masyarakat, terutama pada generasi muda.
Periode emas
Saat terjadi serangan stroke, maka pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Pasien tidak diperkenankan mendapatkan penanganan dari orang yang belum ahli karena bisa berakibat fatal.
Sayangnya, menurut data Kementerian Kesehatan, sekitar 80% masyarakat Indonesia tidak mengetahui gejala stroke sehingga seringkali penanganan stroke menjadi terlambat. Padahal, perawatan cepat dapat mengurangi kerusakan otak yang akan disebabkan oleh stroke.
Penyakit stroke merupakan salah satu gangguan pada fungsi otak yang terjadi lebih dari 24 jam dan menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Lantaran terjadi cukup singkat dan mendadak, periode stroke terjadi sekitar 4,5 jam semenjak serangan. Dengan membawa ke rumah sakit, mampu mengurangi dampak yang ditimbulkan.
Meskipun periode emas penderita stroke sekitar 4,5 jam sebaiknya pasien segera datang maksimal 2 jam setelah serangan berlangsung. Hal ini lantaran serangan stroke yang terjadi selama 1 menit membuat 32 ribu sel mati.
Maka dalam waktu sekitar 1 jam, 120 juta sel mati. Semakin lama penanganan pada penderita stroke, maka dampak yang ditimbulkan kompleks. Waktu menjadi indikator paling penting bagi penderita stroke.
Upaya penanganan pasien berlangsung selama 6 jam dengan menggunakan alat bantu. Namun pada beberapa kondisi, penanganan bisa lebih dari 12 jam. Semakin lama waktu penanganan, maka kondisi pasien akan memburuk.
Jika pasien penderita stroke mengalami penyumbatan darah, maka penanganan akan dilakukan dengan memberikan obat trombolisis untuk pelepasan penyumbatan kurang dari 1 jam.
Jika penyumbatan pembuluh darah besar, maka penanganan dilakukan dengan memakai alat CathLab. Namun, jika pembuluh darah pecah penanganan dilakukan dengan memakai alat kateterisasi untuk mengeluarkan pecahan darah. Selanjutnya jika pendarahan pada pasien stroke terjadi cukup besar, maka harus dilakukan operasi. (RN)
