Kejiwaan Remaja Masalah Serius yang Butuh Perhatian Besar

Kejiwaan Remaja Masalah Serius yang Butuh Perhatian Besar
Foto: www.cnnindonesia.com

Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan gangguan kejiwaan pada remaja umumnya muncul pada usia 14 tahun, tapi sebagian besar tidak terdeteksi dan mendapatkan pengobatan.

Menurut dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ., Ketua Dewan Pakar Badan Kesehatan Jiwa (Bakeswa) Indonesia, secara global, depresi menjadi gangguan kejiwaan dan penyebab disabilitas terbanyak pada remaja. Bunuh diri menjadi penyebab ketiga terbesar kematian pada usia 15 hingga 19 tahun.

“Oleh karena itu, dalam Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, tema yang diangkat pada tahun ini ialah Kesehatan jiwa remaja,” ujar Nova dalam diskusi media terkait dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.

Munculnya gangguan kesehatan jiwa pada usia remaja, terang Nova, terkadang tidak diperhatikan secara serius. Ia mencontohkan yang umum dialami remaja, seperti rasa khawatir berlebihan dan gangguan makan, tidak dilihat sebagai gejala dari gangguan kesehatan jiwa.

Nova menambahkan, dari penelitian yang ia lakukan pada awal 2016 dengan sasaran 914 siswa di Jakarta, problem emosional lebih banyak dialami perempuan. Jumlahnya empat kali lipat daripada laki-laki. Pada kasus gangguan kejiwaan yang parah, umumnya remaja memutuskan mengakhiri problem dengan bunuh diri.

“Tindakan bunuh diri sebagai jalan terbaik untuk mengakhiri hidup tidak membahagiakan kini mulai umum dilakukan remaja,” kata Nova.

Gangguan kesehatan jiwa, terang Nova, pada umumnya dapat dideteksi melalui screening. Hal itu sudah diterapkan di sekolah-sekolah, tetapi belum merata. (RN)