
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nyeri saat buang air kecil, nyeri perut bagian bawah, menggigil, demam, dan kelelahan. Masalah yang terjadi akibat infeksi bakteri di kandung kemih ini seringnya dialami perempuan, tetapi bisa pula menimpa para pria.
Konsultan urologi dari Asian Institute of Nephrology and Urology Hyderabad di India Dr. Gopal Ramdas Tak menyampaikan bahwa infeksi saluran kemih bisa berpengaruh pada berbagai bagian sistem kemih, termasuk ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra.
Dia mengatakan bahwa pada pria, infeksi saluran kemih sering dikaitkan dengan komplikasi seperti masalah prostat, batu ginjal, atau aktivitas seksual. Dokter Gopal Ramdas Tak mencatat faktor-faktor yang berkontribusi pada peningkatan risiko infeksi saluran kemih pada pria sebagai berikut.
-
Hidrasi yang buruk
Dehidrasi dapat menyebabkan cairan urine menjadi pekat sehingga menimbulkan iritasi pada kandung kemih dan mendorong pertumbuhan bakteri.
-
Stres
Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh melemah, membuat orang lebih rentan mengalami infeksi.
-
Keseimbangan kehidupan kerja buruk
Pria dengan pekerjaan bertekanan tinggi sering mengabaikan kesehatan dan kesulitan menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Kelalaian ini dapat menyebabkan kebiasaan makan yang buruk, kurang tidur, dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Kondisi yang demikian meningkatkan kerentanan terhadap infeksi saluran kemih.
-
Kesadaran higiene rendah
Kegagalan membersihkan area genital secara benar atau kebiasaan menahan kencing dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan terserang infeksi saluran kemih. Dokter Gopal Ramdas Tak menyarankan para pria untuk lebih memperhatikan kesehatan mereka agar bisa segera mengenali tanda-tanda awal masalah kesehatan dan memperoleh bantuan medis yang diperlukan. Pada dasarnya, menurut dia, pencegahan infeksi saluran kemih pada pria mencakup penerapan gaya hidup sehat serta upaya menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mengelola stres.
Dialami wanita
Di sisi lain terungkap bahwa ISK sering dialami wanita, salah satunya akibat ukuran uretra, yaitu saluran yang mengeluarkan urine dari dalam tubuh. Hal tersebut dikatakan Dokter spesialis urologi dr. Ima Nastiti Setyaningsih, Sp.U, “Wanita memiliki uretra yang lebih pendek daripada pria, yang membuat jarak yang ditempuh bakteri untuk mencapai kandung kemih lebih pendek”.
Ima menerangkan, ISK biasanya disebabkan bakteri masuk ke dalam traktus urinarius, yaitu saluran kemih melalui uretra dan berkembang biak di dalam kampung kemih. Gejala yang dialami antara lain desakan untuk berkemih, nyeri saat berkemih, sering berkemih, urine keruh, kemerahan atau berbau dan nyeri panggul.
Dijelaskan, selain anatomi, yakni uretra yang lebih pendek dari pria, wanita juga berisiko terkena ISK akibat aktivitas seksual. Wanita yang aktif secara seksual cenderung untuk mengalami ISK lebih sering daripada wanita yang tidak aktif secara seksual. Faktor risiko lainnya adalah menopause. Ima berpendapat penurunan hormon estrogen menyebabkan perubahan di saluran kemih sehingga rentan terhadap terjadinya infeksi.
Ima menyarankan wanita yang mengalami gejala ISK untuk segera berkonsultasi dengan dokter, khususnya dokter spesialis bedah urologi. Nantinya dokter akan meminta pasien menjalani pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis.
Ima menyoroti tidak sedikitnya masyarakat yang datang ke apotek langsung saat mengalami suatu keluhan penyakit dan tak jarang pihak apotek memberikan obat-obatan bahkan jenis antibiotika untuk mengatasi keluhan tersebut. Perilaku seperti ini dapat membahayakan dan dapat menyebabkan terjadinya resistensi obat-obatan antibiotika. “Maka itu, begitu mengalami gejala, segeralah berobat ke dokter,” kata dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya itu.
Ima mengatakan, ISK yang tak diobati bisa menyebabkan komplikasi. Salah satunya ISK berulang, yang terjadi dua kali atau lebih dalam enam bulan. Komplikasi lainnya, yakni gangguan fungsi ginjal permanen, penyempitan uretra sehingga terjadi penurunan pancaran urine dan sepsis, yakni komplikasi yang mengancam nyawa jika infeksi naik ke ginjal. Selain itu, wanita hamil yang terkena ISK bisa berisiko melahirkan bayi berat lahir rendah atau prematur.
Sebabkan penyakit ginjal
Pada bagian lain, dokter spesialis anak konsultan nefrologi anak lulusan Universitas Indonesia dr. Ina Zarlina Sp.A(K) mengatakan, infeksi saluran kemih (ISK) karena kelainan anatomi bawaan pada bayi jika tidak teratasi bisa menyebabkan penyakit gagal ginjal kronis.
“Ada kasus-kasus tertentu dia ada kelainan bawaan, salah satu penyebab paling sering infeksi saluran kemih yang atipikal, yang menyebabkan nantinya penyakit ginjal kronis, bila tidak diatasi dengan benar bisa menyebabkan anak tersebut menjalani dialisis atau cuci darah,” kata Ina.
Dia menerangkan, secara tidak langsung, ISK yang kompleks karena kelainan bawaan merupakan penyebab paling sering dari pasien-pasien penyakit ginjal kronik stadium akhir atau yang disebut Chronic Kidney Disease (CKD). Di dalam ginjal terjadi proses pertukaran antara zat-zat dari racun yang di tubuh masuk ke bagian glomerulus kemudian dibuang di urin. Jika tidak berfungsi karena infeksi, fungsi penyaringannya juga akan hilang.
Pada bayi dengan kelainan anatomi bawaan bisa saja terjadi sejak dalam kandungan karena terpapar infeksi atau faktor genetik yang diturunkan orang tua. Kelainan ini bisa menyebabkan hidronefrosis dengan tingkatan ringan sampai berat.
Ina menjelaskan hidronefrosis merupakan penyempitan saluran urin ke kandung kemih karena batu atau bawaan lahir sehingga aliran urin tidak lancar. Ini menyebabkan pelebaran di pielum pada organ ginjal sehingga terjadi pembengkakan. Sumbatan tersebut yang menyebabkan terjadi risiko infeksi saluran kemih.
Selain hidronefrosis, penyebab penyakit ginjal dari infeksi saluran kemih adalah karena urin yang berbalik ke ginjal atau Vesicoureteral reflux. “Vesicoureteral reflux adalah aliran urin yang backflow, jadi berbalik ini urinnya naik lagi ke ginjal karena memang ada kelainan atau penyempitan dari ureter ke kandung kemih, Itu yang tidak boleh terjadi,” katanya.
Anak yang terinfeksi saluran kemih yang menyerang saluran kemih atas, akan meninggalkan jaringan parut pada ginjal. Pada saat dewasa, bagi yang perempuan bisa menyebabkan timbulnya preeklampsia pada saat dia hamil yang juga dalam beberapa tahun ke depan bisa menyebabkan gagal ginjal stadium akhir.
Untuk pemeriksaan infeksi saluran kemih karena kelainan bawaan, perlu dilakukan tindakan kultur urin atau kateterisasi untuk melihat jumlah kuman yang terdapat pada urin. Pengambilan sampel yang tidak tepat dapat menyebabkan kesalahan mendiagnosis infeksi saluran kemih.
ISK pada anak
Lebih jauh, Ina Zarlina mengatakan, ada beberapa tanda yang bisa dikenali berdasarkan usia jika anak menderita infeksi saluran kemih. “Biasanya bayi usia di bawah 3 bulan itu bisa saja dia demam, muntah-muntah, lemas, menyusunya kurang, saat kontrol ke dokter berat badannya sulit naik, bisa juga ditemukan kuning, ataupun urinnya yang berbau tidak seperti biasa,” kata Ina.
Ina menguraikan, pada bayi di bawah tiga bulan yang dicurigai terkena infeksi saluran kemih biasanya terlihat ditemukannya darah pada urin bayi yang disebut hematuria. Sementara pada anak dari 3 bulan sampai usia 3 tahun, paling sering ditemukan gejala demam di atas 38,5 tanpa sebab, atau nyeri saat buang air kecil dan pipis yang selalu tidak tuntas. Gejala lain yang dirasakan juga disertai nyeri perut, muntah-muntah, dan ada nyeri di atas kemaluan.
Dokter lulusan Universitas Indonesia ini mengatakan, pada anak kurang dari 24 bulan atau 2 tahun yang demam, kemungkinan menderita infeksi saluran kemih adalah sekitar 3 sampai 5 persen. Sedangkan pada anak perempuan, infeksi saluran kemih pada usia di bawah 1 tahun biasanya sekitar 7 persen, sementara pada anak laki-laki sekitar 3 persen.
Ina menyayangkan gejala awal ini seringkali tidak terdiagnosis sejak awal karena sulit mengambil sampel urin dan banyak yang berasumsi gejala-gejala ini adalah karena diare. Pada bayi yang lebih kecil juga harus dipikirkan faktor lain yang memengaruhi kemungkinan infeksi saluran kemih atipikal atau kompleks untuk menentukan metode pemeriksaan yang tepat.
“Bayi-bayi yang lahir dengan kelainan bawaan yang mempunyai risiko ada kelainan anatomi, itu memang kita indikasikan untuk pemeriksaan kultur urin. Kelainan anatomi ini biasanya bisa terjadi pada bayi dalam kandungan yang penyebabnya memang sampai saat ini kita tidak ketahui,” kata Ina.
Ia mengatakan pengobatan infeksi saluran kemih pada bayi biasanya diberikan antibiotik oral sekitar dua sampai empat hari yang bida diberikan secara infus atau injeksi, untuk mencegah infeksi ke ginjal.
Sementara pada bayi enam bulan sampai tiga tahun dengan infeksi saluran kemih atipikal yang mempunyai kelainan anatomi harus cepat dilakukan USG jika tidak sembuh setelah 48 jam pengobatan. “Antibiotik itu ada yang namanya terapeutik atau antibiotik pada pengobatan, ada juga antibiotik untuk pencegahan. Jadi memang efek sampingnya dia takutnya ada resistensi. Tetapi kita harus memberikan dalam jangka panjang dengan dosis rendah,” kata Ina. (RN)
