
Irritable Bowel Syndrome (IBS) merupakan gangguan pencernaan yang sering kali dianggap sepele karena tidak menyebabkan kerusakan permanen pada usus namun dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. “IBS merupakan gangguan fungsional pada sistem pencernaan yang memengaruhi usus besar,” kata Dr dr I Ketut Mariadi, Sp.PD-KGEH, FACG, FINASM, dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterohepatologi di RS Siloam Denpasar Bali.
Menurutnya, kondisi itu menyebabkan perubahan pola buang air besar yang tidak teratur, disertai kram perut, kembung, diare, atau konstipasi.
IBS bersifat kronis, sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Meskipun demikian, IBS tidak menyebabkan kerusakan struktural pada usus seperti penyakit radang usus (IBD) atau penyakit celiac. “IBS bukanlah penyakit yang mengancam nyawa, tetapi dapat sangat mengganggu kehidupan sehari-hari jika tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu, diagnosis yang benar dan edukasi pasien sangat penting,” kata dia.
“IBS termasuk dalam kategori penyakit fungsional, di mana tidak ditemukan kelainan fisik pada usus, tetapi fungsinya terganggu. Oleh karena itu, pendekatan pengobatannya lebih berfokus pada manajemen gejala dan perubahan gaya hidup,” jelas Dr I Ketut Mariadi.
Gejala IBS bervariasi pada setiap individu, tetapi umumnya meliputi sakit atau kram perut yang mereda setelah buang air besar, perubahan frekuensi dan konsistensi tinja, perut kembung, serta produksi gas berlebih.
Gejala IBS bisa disingkat dengan ABCD, Abdominal pain (sakit perut), Bloated (kembung), Constipation ( konstipasi), Diarrhea (diare).
Faktor pemicu
Ada beberapa faktor yang dapat memicu atau memperburuk gejala IBS, misalnya, faktor makanan. Makanan tertentu dapat menjadi pemicu utama IBS, terutama yang mengandung tinggi lemak, makanan pedas, produk susu bagi yang intoleran laktosa, serta makanan tinggi FODMAP (Fermentable Oligosaccharides, Disaccharides, Monosaccharides, and Polyols).
Zat-zat itu sulit dicerna oleh usus kecil dan dapat menyebabkan fermentasi berlebih di usus besar, yang memicu kembung, nyeri, serta perubahan pola buang air besar. Selain itu, konsumsi alkohol, kafein, dan pemanis buatan seperti sorbitol juga dapat memperburuk gejala IBS.
Penderita IBS perlu memperhatikan makanan yang mereka konsumsi agar gejalanya tidak semakin memburuk. Menurut Dr I Ketut Mariadi, “Beberapa makanan tertentu dapat memicu gejala IBS, seperti makanan berlemak tinggi, pedas, berminyak, produk susu bagi yang intoleran laktosa, serta makanan tinggi FODMAP yang dapat menyebabkan fermentasi berlebihan di usus”.
Menjaga pola makan sehat dan menghindari makanan yang dapat memicu gejala akan membantu penderita IBS mengontrol kondisinya dengan lebih baik. Ia menjelaskan, untuk mendiagnosa IBS bisa dilakukan dengan kriteria Rome IV, yaitu apabila pasien mengalami nyeri perut setidaknya sekali dalam seminggu dalam tiga bulan terakhir, dengan keluhan yang telah berlangsung selama minimal enam bulan.
IBS juga disertai dua dari tiga gejala berikut, pertama nyeri perut berhubungan defekasi, kedua nyeri perut berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB (diare atau konstipasi), ketiga nyeri perut berhubungan dengan perubahan bentuk kotoran (cair, keras atau lembek). Dr I Ketut Mariadi menekankan, “Langkah pertama dalam menangani IBS adalah memastikan diagnosis yang benar. Pasien juga harus diberikan edukasi mengenai kondisi mereka agar dapat mengelola gejala dengan lebih baik”.
Terapi CBT
Karena faktor psikologis berperan dalam IBS, terapi psikologis seperti cognitive behavioral therapy (CBT) juga dapat membantu penderita mengelola stres dan mengurangi keparahan gejala. Penggunaan obat-obatan mungkin diperlukan dalam beberapa kasus, tetapi tidak cukup efektif jika tidak diimbangi dengan terapi non-farmakologis seperti perubahan gaya hidup dan manajemen stres.
“Penting bagi pasien untuk memahami bahwa IBS dapat dikontrol dengan pengelolaan yang tepat. Kombinasi antara perubahan gaya hidup, diet, serta pengobatan yang sesuai bisa membantu pasien hidup lebih nyaman,” kata Dr I Ketut Mariadi.
Gangguan saluran cerna
Dari hasil penelitian yang dilakukan dr Muzal Kadim, Sp.A (K) dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ditemukan bahwa hingga 45,5 persen anak sehat di Jakarta mengalami gangguan integrasi saluran cerna.
Menurutnya, angka kasus gangguan integrasi saluran cerna di Jakarta tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah kasus di negara lain di Asia. “Temuan ini cukup mengejutkan karena gangguan integritas mencapai 45,5 persen, lebih tinggi dari negara-negara di Asia, sekitar 30 persen,” terangnya.
Gangguan integritas saluran usus merupakan suatu kondisi di mana usus mengalami kebocoran sehingga tidak mampu menyerap dengan baik sumber gizi dari makanan yang dikonsumsi. Muzal menjelaskan gangguan usus tersebut memiliki keterkaitan dengan kekurangan asupan gizi anak yang yang menyebabkan malnutrisi dan stunting, anak bertubuh pendek karena kekurangan gizi kronis sejak dalam kandungan.
“Kalau penyerapannya terganggu asupan gizinya jadi tidak baik, pertumbuhannya juga terganggu,” kata dia.
Menurut hasil penelitian Muzal, anak-anak yang mengalami gangguan penyerapan saluran cerna merupakan anak-anak sehat berusia satu sampai tiga tahun. Dia mengatakan gangguan integritas saluran cerna tidak memiliki gejala sehingga tidak dirasakan oleh anak.
Kondisi anak sehat yang memiliki gangguan penyerapan pada usus bisa makin buruk kalau mereka hanya mendapatkan asupan gizi terbatas. “Anak-anak kan biasanya sulit makan, sudah asupan gizi yang masuk sedikit karena sulit makan, penyerapan gizinya juga terganggu sehingga yang diserap hanya sedikit,” urainya.
Muzal mengatakan gangguan saluran cerna anak dapat diatasi dengan menambah suplemen seng, glutamin, serat, dan prebiotik yang biasanya ada dalam susu formula. Perbaikan saluran cerna anak lewat pemberian susu formula yang diperkaya suplemen zat gizi tersebut bisa dilakukan hanya dalam waktu enam bulan menurut Muzal.
EUS akurat
Pada bagian lain, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani, SpPD-KGEH mengatakan, endoscopic ultrasonography atau endoskopi ultrasound (EUS) dapat mendeteksi gangguan pencernaan dengan lebih akurat. Karena EUS dapat memberikan pandangan yang lebih detail pada saluran cerna dan organ-organ di sekitarnya.
“EUS merupakan perpaduan antara alat endoskopi dan ultrasonography. Prinsipnya, gawai USG dipasang di ujung alat endoskopi dan dimasukkan ke dalam tubuh sehingga memberikan pandangan yang lebih detail dan rinci pada struktur saluran pencernaan dan organ-organ di sekitarnya,” jelas Rino.
“Kalau dengan USG yang biasa digunakan lewat kulit perut, seringkali harus melewati udara atau gas yang menyebabkan pancaran ultrasound tidak bisa mencapai organ dengan baik sehingga kita tidak bisa melihat jelas. Dengan EUS, karena ada di dalam badan, maka udara atau gas dihisap terlebih dahulu sehingga organ dapat terlihat jelas,” lanjutnya.
Diuraikan, EUS dapat melihat lubang esofagus atau kerongkongan, dinding esofagus, struktur di luar dinding esofagus seperti pembuluh darah dan jantung, isi lambung, dinding lambung, hingga struktur di luar lambung seperti pankreas, pembuluh darah, kantong empedu, hati, limpa, ginjal, serta kelenjar adrenal. Selain itu, EUS juga dapat melihat usus 12 jari.
Dengan demikian, kata Rino, EUS dapat digunakan untuk evaluasi dan tata laksana saluran cerna seperti kanker saluran cerna dan benjolan dalam dinding. Selain itu, juga dapat digunakan untuk mengevaluasi dan tata laksana penyakit kanker pankreas, kista pankreas, batu empedu, dan kanker saluran empedu.
“EUS juga penting untuk menilai sejauh mana kanker sudah menerobos dinding saluran pencernaan,” jelasnya.
Menurut Rino, kasus yang melibatkan pankreas menjadi kasus yang paling banyak terbantu oleh EUS. Pasalnya, pankreas berada jauh di dalam perut sehingga sulit dilakukan evaluasi dengan alat ultrasonography biasa maupun CT Scan. Sehingga, EUS sangat membantu dalam melakukan evaluasi secara lengkap pada pankreas.
Rino mengatakan, durasi tindakan EUS tergantung dengan tujuannya. Jika hanya untuk diagnostik, memerlukan waktu 15-20 menit, sedangkan jika melakukan tindakan yang lebih jauh seperti biopsi atau pemasangan ring, waktu yang dibutuhkan bisa 1-2 jam. Adapun persiapan khusus sebelum melakukan tindakan EUS, kata Rino, hal tersebut tergantung dengan kondisi pasien.
“Kalau masih muda, tidak ada gangguan apa-apa, maka tidak ada persiapan khusus, Tapi untuk di atas 40 tahun, tentu harus dipastikan jantungnya cukup baik, pembekuan darahnya harus bagus, misalnya,” ujarnya.
Sementara itu, mengenai efek samping EUS, Rino mengatakan tak jauh berbeda dengan endoskopi biasa, seperti pendarahan atau penyumbatan saluran nafas. Meski demikian, risiko tersebut sangat jarang terjadi. “Risikonya relatif kecil karena sampai saat ini, alat yang digunakan sudah didesain dengan baik. Jika untuk diagnostik, risikonya 1 di antara 10 ribu. Sedangkan jika dilakukan penusukan misalnya, tentu lebih besar. Namun, tindakan yang dilakukan dengan EUS lebih kecil risikonya jika dibandingkan operasi,” pungkasnya. (RN)
