Kenali Penyebab, Gejala dan Perawatan Batu Ureter

Artikel ini telah direview oleh
Penyebab, Gejala dan Perawatan Batu Urter
Foto: primayahospital.com (Kenali Penyebab, Gejala dan Perawatan Batu Ureter)

Batu ureter adalah massa mineral keras yang terbentuk di ginjal dan kemudian berpindah ke ureter. Batu ini dikenal dapat menyebabkan nyeri hebat dan sering kali berujung pada kerusakan ginjal.

Dokter Raghavendra Kulkarni, Konsultan Urologi di Asian Institute of Nephrology and Urology, Secunderabad, menjelaskan, batu ureter sering kali menyebabkan kunjungan rumah sakit yang berulang, karena rasa sakitnya yang luar biasa.

“Sebagian besar, batu ureter tidak terbentuk langsung di ureter, melainkan terbentuk di ginjal dan kemudian berpindah ke ureter. Tidak semua batu ginjal masuk ke ureter,” ungkapnya.

Dr. Raghavendra juga menyebutkan, batu ureter disebabkan oleh faktor yang sama dengan pembentukan batu ginjal. Untuk pembentukan batu ginjal atau ureter, salah satu faktor berikut biasanya berkontribusi: volume urin yang rendah, peningkatan kadar zat pro-lithogenic yang mempromosikan pengendapan mineral, atau penurunan kadar zat pelindung yang mendukung pelarutan alami.

Batu ureter dapat dikenali dan didiagnosis melalui pola nyeri yang ditimbulkannya. “Nyeri biasanya terletak di bagian punggung, di salah satu sisi tulang belakang. Rasa sakit ini menjalar ke bagian depan perut, dan terkadang hingga ke lipatan pangkal paha. Nyeri ini sering kali disertai mual dan muntah. Jika penyumbatan ureter terjadi secara mendadak, ada kemungkinan infeksi saluran kemih akibat terganggunya aliran urin,” jelas Dr. Kulkarni.

Ketika batu ureter tidak bisa keluar secara alami dan disertai demam atau kerusakan ginjal, operasi segera sangat disarankan. “Perawatan bedah kini dilakukan secara endoskopi dengan bantuan teknologi laser. Dalam kasus yang jarang, batu besar di ureter memerlukan intervensi dengan ‘percutaneous nephrolithotomy’ atau laparoskopi,” tambahnya.

Dokter juga menjelaskan bahwa pencegahan batu ureter hampir sama dengan pencegahan batu ginjal. Batu ureter adalah kondisi darurat. Pencegahan batu ureter mirip dengan pencegahan batu ginjal.

Beberapa perubahan gaya hidup yang dapat membantu mencegah batu ginjal atau membantu mengeluarkan batu ureter meliputi: hidrasi. Dengan hidrasi yang baik, batu di ureter lebih mungkin keluar melalui efek diuresis mekanis. Namun, perlu berhati-hati, karena tidak semua batu di ureter dapat keluar secara spontan.

Baca juga:  Waspadai 5 Gejala Diabetes Tipe 2 Berikut

“Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan keluarnya batu secara alami adalah ukuran batu yang kecil, tidak adanya gejala seperti demam atau rasa tidak sehat, serta fungsi ginjal yang normal. Terbukti, semakin besar ukuran batu, semakin kecil kemungkinan keluarnya secara spontan,” ujar Dr. Kulkarni.

Pola hidup

Di sisi lain, Guru Besar Bidang Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Nur Rasyid Sp.U(K) mengatakan, pola hidup yang jarang bergerak atau sedentari dan obesitas menjadi pemicu timbulnya batu ginjal karena kurang bergerak.

“Makin orang obesitas makin mungkin kena batu ginjal, karena orang obesitas kurang gerak akibatnya makin numpuk batunya, frekuensinya lebih tinggi yang sedentari,” kata Prof. Rasyid.

Ia mengatakan batu ginjal bisa terjadi karena kepekatan urin di dalam ginjal karena jarang mengonsumsi cairan. Pada orang dengan pola hidup sedentari, akan jarang melakukan aktivitas yang bergerak sehingga tidak minum banyak dan berkemih kurang dari 2,5 liter sehari. Padahal dengan bergerak, batu pada ginjal yang berukuran kecil akan bisa turun dan jatuh sehingga tidak menumpuk. Jika seseorang memiliki batu ginjal yang berukuran masih di bawah dua milimeter dokter akan memberikan obat yang dapat melebarkan saluran urin agar batu bisa keluar.

“Batu dua milimeter kasih obat saja untuk melebarkan saluran biasanya obat prostat biasanya 2 minggu sudah normal, biasanya CT Scan sangat menolong apabila dilakukan akurat dan baik,” katanya.

Dokter urologi di RS Cipto Mangunkusumo ini mengatakan banyak masyarakat yang juga tidak menyadari memiliki batu ginjal karena tidak menimbulkan gejala khusus. Umumnya pasien biasanya langsung mendatangi rumah sakit jika mengalami pegal di pinggang tanpa sebab, keluhan nyeri di pinggang bawah karena batu menyumbat dan muntah-muntah.

Maka itu, ia menyarankan untuk masyarakat memeriksakan kesehatan ginjal dengan check up rutin beserta USG ginjal untuk deteksi dini batu ginjal yang lebih parah, serta menjalani pola hidup sehat. “Makanya olahraga, mengurangi berat badan, hidup sehat, jadi apapun yang kita makan nggak berlebih zat pembentuk batu, lebih penting minum sehingga kencing 2,5 liter,” jelasnya.

Baca juga:  Ini Waktu Terbaik Lakukan Pemeriksaan Dini Untuk Hindari Kanker

Jangan banyak minum

Sementara itu, Guru Besar Bidang Urologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Nur Rasyid Sp.U(K) mengatakan pria yang sudah di atas 55 tahun disarankan tidak banyak minum di malam hari karena berisiko memiliki masalah prostat.

“Laki-laki 55 tahun ke atas minum banyak dari pagi sampai maghrib saja, karena dia sudah punya masalah prostat, kalau minum malam bolak balik bangun tidur, belum tentu bangun bisa tidur lagi nanti kualitas tidurnya jadi jelek,” kata Prof. Rasyid.

Prof. Rasyid mengatakan pada usia di atas 55 tahun biasanya pria sudah mengalami masalah gangguan berkemih, seperti berkemih yang selalu tidak tuntas. Ia menyarankan pada malam hari minum secukupnya saja yaitu saat makan atau saat minum obat dan tidak minum banyak menjelang tidur. Masalah berkemih juga bisa dialami oleh anak karena masalah kurang gizi dan dehidrasi. Maka baik anak-anak maupun dewasa disarankan hidup sehat dan banyak bergerak agar tidak terjadi masalah berkemih seperti pengendapan batu di ureter atau batu ginjal karena pengerasan urin.

Ia juga mengatakan volume berkemih yang sehat adalah 2,5 liter sehari dengan intensitas minum lebih dari 2 liter. Hal itu untuk mencegah pembentukan batu di ginjal yang diakibatkan karena kurangnya cairan sehingga cairan urin mengeras dan menetap di ginjal.

Ketika memasuki usia 40 tahun ke atas Prof. Rasyid juga menyarankan untuk melakukan check up kesehatan minimal setahun sekali dan sebaiknya juga melakukan USG untuk mengetahui adanya batu ginjal atau tidak.

“Begitu orang masuk 40 tahun ke atas setahun sekali check up, dan baiknya di USG karena batu ukuran dua milimeter dengan USG ketemu loh, sayangnya check up kan seringnya dengan lab, itu ga ketemu,” katanya. Dokter spesialis urologi yang berpraktik di Siloam Hospitals Asri ini mengatakan USG bisa memperlihatkan masalah baik di ginjal maupun ureter untuk melihat sumbatan yang menyebabkan masalah. Disarankan juga menggunakan USG tanpa kontras karena penggunaan kontras bisa berisiko mengganggu fungsi ginjal. (RN)