
Kanker kelenjar getah bening atau limfoma yaitu salah satu jenis kanker yang berkembang dalam sistem limfatik. sistem limfatik memiliki peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh seseorang. Di dalam tubuh, setidaknya terdapat ratusan kelenjar getah bening yang tersebar dari ujung kepala hingga kaki. Kelenjar getah bening ini berfungsi sebagai penyaring cairan limfatik untuk menghentikan penyebaran kuman dan bakteri di seluruh tubuh. Cairan limfatik ini nantinya yang akan membantu kita dalam melawan sejumlah infeksi baik oleh bakteri, virus dan lain sebagainya.
Kanker kelenjar getah bening dibagi menjadi 2 jenis yaitu, limfoma Hodgkin dan limfoma non-Hodgkin. Jenis kanker limfoma Hodgkin merupakan jenis kanker kelenjar getah bening yang di mana terdapat adanya sel abnormal Reed-Sternberg. Sedangkan jenis kanker non-Hodgkin merupakan jenis kanker getah bening yang di mana di dalam pemeriksaannya tidak ditemukan adanya sel abnormal Reed-Sternberg.
Tidak itu saja! Ada penyebab lainnya yang juga perlu diwaspadai.
- Menurunnya sistem imun
Penyebab kanker kelenjar getah bening yang pertama adalah turunnya sistem imun atau kekebalan tubuh pada seseorang. Memiliki sistem imun atau kekebalan tubuh yang lemah akan memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena kanker kelenjar getah bening. Hal ini dikarenakan tubuh sudah tidak mampu lagi untuk melindungi diri dari adanya serangan infeksi bakteri maupun virus. Terdapat beberapa hal yang membuat tubuh seseorang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh seperti adanya infeksi virus HIV, adanya bawaan kelainan respon imun, serta mengonsumsi penggunaan obat yang digunakan untuk mencegah penolakan transplantasi organ. Tak hanya itu, seseorang yang terkena penyakit autoimun juga memiliki risiko terkena kanker kelenjar getah bening lebih besar. - Adanya infeksi
Penyebab kanker kelenjar getah bening selanjutnya yaitu adanya infeksi tertentu pada seseorang. Beberapa infeksi tertentu dari virus dan bakteri memang bisa menjadi pemicu timbulnya kanker getah bening. Terdapat beberapa virus yang mampu menginfeksi terjadinya limfoma secara langsung dan ada yang tidak. Bagi virus yang tidak menginfeksi langsung, mereka cenderung melakukannya dengan menstimulasi sistem kekebalan tubuh dalam waktu lama. Beberapa virus yang terkait secara langsung dengan limfoma meliputi Human Herpesvirus-8 (HHV-8), Virus Epstein-Barr (EBV) serta Human T-cell Lymphotropic Virustipe 1 (HTLV-I). Sedangkan, untuk virus yang tidak terkait secara langsung terhadap limfoma meliputi virus hepatitis C (HCV), Chlamydia psittaci, Borrelia burgdorferi, Helicobacter pylori, serta Campylobacter jejuni. Semua virus dan bakteri tersebut merupakan penyebab kanker kelenjar getah bening yang bisa menyerang seseorang. - Bahan kimia
Sejumlah ahli menyatakan, beberapa bahan kimia bisa menjadi penyebab kanker kelenjar getah bening pada seseorang. Mereka memandang bahan kimia industri, pestisida bahkan hingga pewarna rambut sebagai faktor sel kanker kelenjar getah bening menjadi aktif. Yang lebih mencengangkan, para pekerja yang kerap terpapar bahan-bahan kimia juga akan memiliki risiko terkena kanker kelenjar getah bening. Sederhananya, para petani yang sering bersentuhan langsung dengan pestisida akan meningkatkan risiko terkena kanker limfoma sel mantel (MCL). Tidak hanya itu saja, seseorang yang sering mengganti-ganti warna rambut juga akan memiliki resiko terkena kanker limfoma folikel atau leukemia limfositik kronis (CCL). Kendati demikian, risiko tersebut seiring berjalannya waktu semakin berkurang dibandingkan dengan kondisi di 1970an. Sebab, pewarna rambut saat ini lebih aman digunakan dibanding pada beberapa tahun silam. - Gaya hidup
Gaya hidup seseorang merupakan salah satu penyebab munculnya kanker, mulai dari kanker darah, kanker payudara hingga kanker kelenjar getah bening. Terlebih bila kalian merupakan perokok aktif dan pasif. Jangan salah, rokok tidak hanya mampu menimbulkan penyakit kanker mulut dan tenggorokan saja, kebiasaan ini juga bisa menyebabkan kalian menderita kanker kelenjar getah bening. Bahkan, merokok dapat meningkatkan risiko seseorang terkena limfoma folikel dan salah satu jenis limfoma Hodgkin yang berkaitan dengan virus Epstein-Barr (EBV). Terdapat beberapa cara untuk mencegah hal tersebut terjadi pada diri kalian, salah satunya yaitu dengan banyak mengonsumsi buah dan sayur. Tak hanya itu, berolahraga secara teratur diketahui mampu menurunkan kemungkinan kalian menderita limfoma. - Riwayat keluarga
Sebenarnya, kanker kelenjar getah bening atau limfoma tidak berkaitan dengan riwayat keluarga dan bukan juga sebagai penyakit yang menular. Kendati demikian, kalian tetap harus waspada terutama jika ditemukan salah satu anggota keluarga tengah menderita kanker. Meski tidak diwariskan, adanya peningkatan risiko masih bisa terjadi pada diri kalian. Peningkatan tersebut juga masih tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya. Untuk itu, kalian tidak perlu khawatir yang berlebihan bila didapati orangtua atau saudara kandung yang terkena kanker kelenjar getah bening ini. Kendati begitu, tak lantas kalian bisa seenaknya sendiri dalam mengatur pola hidup. Tetaplah menjaga kondisi kesehatan tubuh agar terhindar dari kemungkinan-kemungkinan terserang penyakit kanker lainnya. Kunci utamanya yaitu mengatur pola hidup yang lebih sehat dan rajin berolahraga. - Riwayat penyakit kanker dan usia
Perlu untuk diketahui, seseorang yang pernah menjalani proses kemoterapi dan radioterapi sebelumnya berisiko mengembangkan limfoma. Ya, jangan berbesar hati dulu bagi kalian yang dinyatakan sembuh dari penyakit kanker tertentu. Meski sel kanker tersebut sudah mati, belum tentu seluruh sel kanker benar-benar telah mati total. Pasalnya, rangkaian pengobatan tersebut mampu mempengaruhi sel tubuh yang sehat menjadi abnormal atau rusak. Jika sudah demikian, kalian harus ekstra waspada dengan munculnya jenis kanker lainnya seperti kanker kelenjar getah bening. Tak hanya itu saja, usia seseorang juga bisa mempengaruhi risiko terkena kanker ini. Diketahui, kanker kelenjar getah bening cenderung menyerang seseorang yang sudah berusia lanjut. Hal ini karena tubuh telah mengalami mutasi gen atau perubahan dari waktu ke waktu. Sementara itu, semakin bertambahnya usia seseorang maka tubuh akan semakin kesulitan untuk bisa mencegahnya. (RN)
