Kista Duktus Koledokus Bisa Mengancam Nyawa

Artikel ini telah direview oleh
Kista Duktus Koledokus
Foto: aicare.id

Kista duktus koledokus adalah kelainan bawaaan (kongenital) berupa pelebaran yang tidak normal pada saluran empedu. Cairan empedu yang diproduksi oleh hati akan dialirkan ke usus melalui saluran di dalam hati, yaitu duktus intrahepatik, menuju duktus ekstrahepatik yang terdiri atas duktus hepatikus, duktus koledokus (common bile duct) dan duktus sistikus. Dalam perjalanannya, cairan empedu akan bercampur dengan enzim yang dihasilkan oleh pankreas. Hal ini terjadi karena saluran pada pankreas bermuara ke duktus koledokus. Campuran empedu dan enzim pankreas akan keluarkan ke usus halus melalui ampula vater (kantung) untuk mencerna makanan.

Berdasarkan lokasi pelebaran saluran, terdapat 5 tipe dari kista duktus koledokus, antara lain:

  • Tipe I, merupakan tipe yang paling sering terjadi (80-90%). Terdapat pelebaran pada duktus koledokus (common bileduct). Pelebaran ini tidak membentuk kantung.
  • Tipe II, dimana terdapat kantung pada duktus koledokus yang menonjol keluar.
  • Tipe III, dimana terdapat kantung pada bagian saluran yang dekat dengan usus dua belas jari (duodenum) atau pada pertemuan duktus koledokus dengan saluran dari pankreas.
  • Tipe IVa, dimana terdapat beberapa pelebaran pada duktus intrahepatik dan ekstrahepatik.
  • Tipe IVb, dimana terdapat beberapa pelebaran yang hanya melibatkan duktus ekstrahepatik.
  • Tipe V atau Caroli’s diseasedimana terdapat pelebaran pada duktus intrahepatik.

Penyakit ini memang jarang terjadi. Hanya sekitar 1:100.000-150.000 anak di negara barat. Perempuan memiliki risiko empat kali lebih besar untuk mengalami kista duktus koledokus. Kondisi ini lebih sering terjadi pada negara di Asia Timur, terutama Jepang, namun alasan dari fenomena ini belum diketahui.

Meski kista duktus koledokus disebut sebagai kelainan bawaan namun dapat menimbulkan masalah serius jika tidak terdeteksi dan ditangani dengan tepat.

Kista ini merupakan pembengkakan atau kelainan pada saluran empedu yang dapat berkembang sejak lahir. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kista ini bisa membesar dan menimbulkan berbagai komplikasi serius.

Faktor Risiko

Faktor risiko dari kista duktus koledokus antara lain:

  • Jenis kelamin perempuan
  • Berasal dari Asia Timur dan Asia Tenggara
  • Memiliki riwayat keluarga dengan kista duktus koledokus
Baca juga:  Merawat Lansia Ternyata Tak Sulit Kok

Risiko Komplikasi Akibat Kista yang Membesar

Menurut dokter spesialis bedah pediatri di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta Kshetra Rinaldh, kista yang dibiarkan membesar dapat menempel pada organ lain seperti usus halus dan pembuluh darah.

Hal ini membuat pengangkatan kista menjadi lebih sulit dan menyebabkan risiko komplikasi, termasuk perkembangan menjadi kanker meskipun kemungkinannya kecil. “Operasi pengangkatan kista yang sudah membesar seringkali tidak dapat dilakukan sepenuhnya karena kista menempel pada jaringan sekitarnya. Sisa kista yang tertinggal dapat menimbulkan masalah lebih lanjut, termasuk potensi berkembang menjadi kanker,” kata Kshetra.

Tanda dan Gejala Kista Duktus Koledokus

Kista duktus koledokus sering kali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga sulit untuk terdeteksi pada tahap awal. Beberapa gejala yang mungkin muncul adalah pembengkakan di perut, kulit yang menguning, dan infeksi.

Gejala dari kista duktus koledokus, antara lain:

Kulit bayi berwarna kuning. Hal ini disebabkan adanya aliran empedu yang tersumbat. Bayi yang baru lahir dapat memiliki kulit yang berwarna kuning. Hal ini merupakan kondisi yang normal hingga bayi berusia 2 minggu. Jika kuning menetap hingga lebih dari 2 minggu, hal ini dapat menjadi tanda awal adanya masalah pada empedu bayi

  • Nyeri perut yang hilang timbul
  • Perut yang membesar dan teraba benjolan pada perut
  • Feses berwarna pucat
  • Demam, jika terjadi kolangitis

Pada usia yang lebih tua, gejala yang dirasakan antara lain nyeri, demam, mual, muntah, dan kuning.

Pada banyak kasus, kista ini baru terdeteksi saat pasien sudah dewasa, ketika gejalanya semakin parah.

“Karena tidak ada gejala yang jelas, banyak orang yang tidak menyadari bahwa mereka memiliki kista ini sampai gejalanya menjadi serius. Jika tidak ditangani, kista ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti sirosis hati dan ensefalopati, yang dapat mengancam nyawa,” tambah Kshetra.

Pentingnya Penanganan Dini

Penanganan kista duktus koledokus biasanya melibatkan operasi untuk mengangkat kista dan memotong saluran empedu yang tersumbat. Dalam kasus yang lebih parah, transplantasi hati mungkin diperlukan jika kista telah menyebabkan kerusakan hati yang signifikan. Setelah operasi, perawatan lanjutan dan pemeriksaan rutin sangat penting untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.

Baca juga:  Care Giver Infal Menjadi Solusi Cepat Ketika Pengasuh Mendadak Izin

“Bilirubin yang tinggi akibat kista dapat menyebabkan kerusakan otak dan menurunkan kesadaran pasien. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi serius,” jelas Kshetra.

Kista duktus koledokus adalah kondisi serius yang memerlukan perhatian medis segera. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar akan gejala dan risiko yang terkait dengan kondisi ini, serta segera mencari bantuan medis jika ada tanda-tanda yang mencurigakan.

Komplikasi

Terdapat beberapa komplikasi yang dapat terjadi jika kista duktus koledokus tidak ditangani, antara lain:

  • Kerusakan hepar (fibrosis dan sirosis)
  • Infeksi (kolangitis)
  • Kerusakan saluran empedu
  • Pecahnya kista
  • Masalah penyerapan makanan dan pertumbuhan
  • Batu empedu
  • Pankreatitis
  • Meningkatnya risiko kanker pada saluran empedu

Pengobatan dari kista duktus koledokus adalah operasi. Operasi dapat dilakukan secara open surgery atau laparoskopi. Operasi laparokskopi dilakukan dengan membuat insisi kecil pada perut, sedangkan open surgery dilakukan dengan membuat insisi yang lebih lebar. Kedua teknik ini dapat memberikan hasil yang baik.

Umumnya, operasi dilakukan dengan cara memotong bagian saluran yang mengalami pelebaran dan juga mengambil kantung empedu. Saluran tambahan untuk mengalirkan cairan empedu dari hati ke usus akan dibuat. Dokter juga dapat mengambil sampel biopsi dari hati untuk menilai kondisi hati tersebut.

Pada bayi yang mengalami kista duktus koledokus tanpa gejala, waktu yang tepat untuk melakukan operasi masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli merekomendasikan operasi tetap dilakukan segera, sekitar pada usia 6 bulan.

Walaupun memiliki risiko komplikasi seperti perdarahan dan infeksi, sebagian besar operasi memiliki hasil yang baik. Bayi dapat dipulangkan setelah 1 minggu pascaoperasi. Untuk beberapa waktu, dokter akan meminta Anda untuk melakukan tindak lanjut untuk memeriksa fungsi hati bayi serta pemeriksaan USG secara berkala. (RN)