Kuliner Zaman Now Ternyata Bisa Picu Kanker Payudara

Kuliner Zaman Now Ternyata Bisa Picu Kanker Payudara
Foto: fimela.com

Kuliner zaman now ternyata tidak sekadar memanjakan lidah kita, tapi juga menyimpan ancaman bagi kesehatan. Sebut saja minuman berbahan dasar boba yang sedang tren, keju, hingga makanan bakar-bakaran. Makanan seperti ini tidak memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Malah makanan tersebut tinggi lemak, gula, garam dan bahkan ada yang memicu kanker karena mengandung zat karsinogen.

Rachel Olsen, Nutrition Expert YOUVIT multivitamin gummy, mengatakan bahwa nutrisi alami sebenarnya memiliki peranan penting untuk proses reproduksi sel pada tubuh. “Kalau tubuh kita tidak cukup mendapatkan nutrisi alami seperti vitamin dan mineral tiap harinya, secara perlahan ini dapat mengganggu proses pembentukan sel baru. Nah, kalau hal ini berlangsung dalam jangka waktu yang lama, sel akan berpotensi untuk tumbuh secara abnormal, sehingga mengakibatkan penyakit seperti tumor bahkan kanker,” ujarnya.

Berdasarkan data WHO tahun 2018, kasus kanker payudara pada wanita Indonesia menduduki peringkat pertama dibandingkan kasus kanker yang lain, yaitu 56.256 kasus per tahun, dengan angka kematian 22.692 kasus per tahunnya. Dr. Yendri Januari, SpB(K)Onk., menyarankan melakukan deteksi dini kanker payudara.

Meskipun memang kebanyakan kasus kanker payudara terjadi di usia 40 tahun ke atas. Dia mengingatkan, kanker payudara bisa juga terjadi pada pria. Oleh karena itu, penyakit ini perlu diwaspadai oleh semua kalangan. “Kalau memang sudah dinyatakan memiliki kanker payudara, sebaiknya segera melakukan terapi sesuai dengan stadiumnya, seperti kemoterapi, terapi hormon dan lain-lain. Semakin cepat bisa terdeteksi, dokter dapat melakukan langkah terbaik untuk mencegah penyebaran kanker yang lebih luas,” bebernya.

Ia menjelaskan, tumor ada dua yaitu ganas dan jinak. Nah kanker adalah tumor yang ganas. Kanker sendiri ada yang padat dan tidak padat (leukemia misalnya). Pengobatan utama pada kanker padat adalah operasi sedangkan kemoterapi, radioterapi dan lainnya bersifat pengobatan tambahan.

“Masalahnya banyak pasien yang terdiagnosa kanker sudah berpikiran nanti payudaranya akan diangkat, sudah pasti mati, dan akibatnya hubungan suami istri tidak harmonis lagi. Makanya butuh dukungan keluarga penuh. Pengobatan kanker sifatnya individualistik, stadium sama, obat sama belum tentu memberi respon yang sama,” terang dr. Yendri.

Ia menyoroti kebiasaan wanita suntik estrogen untuk menghambat penuaan padahal ini berisiko kanker. Untuk tanda-tanda kanker payudara diantaranya nyeri pada payudara, adanya perubahan warna, perubahan di puting, dan adanya benjolan.

Rachel menambahkan bahwa kanker payudara maupun penyakit lainnya bisa dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat; nutrisi yang seimbang, olahraga yang teratur dan tidur yang cukup. (RN)