
Fenomena Otak Popcorn
Saat ini, fenomena otak popcorn banyak terjadi di kalangan anak muda yang lekat dengan media sosial dalam kesehariannya. Ada kecenderungan perhatian untuk berpindah dan melompat dari satu hal ke hal lain dengan cepat, seperti biji jagung yang meletup-letup di dalam kantong popcorn.
Istilah otak popcorn berasal dari sebuah kondisi otak seseorang terus berpikir dari satu pikiran ke pikiran yang lain dalam sekejap seperti biji popcorn. Pikiran yang tersebar itu mengganggu fokus dan konsentrasi, sehingga menyebabkan berkurangnya produktivitas dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas.
Penyebab munculnya otak popcorn, terlalu sering mengakses media sosial, utamanya yang menampilkan video klip pendek. Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan lamanya durasi seseorang menatap layar. Studi menunjukkan bahwa rentang perhatian masyarakat telah menurun secara signifikan selama beberapa dekade terakhir karena penggunaan internet dan perangkat digital yang berlebihan.
Gejala yang nampak di antaranya, ketahanan perhatian berkurang, sulit berkonsentrasi pada tugas-tugas untuk jangka waktu yang lama, kebutuhan konstan akan stimulasi, gelisah saat tidak terlibat dengan media digital, susah mengelola waktu secara efektif karena gangguan yang sering.
Sejumlah ahli mengatakan bahwa mengurangi waktu menatap layar seharian dapat meningkatkan fokus diri untuk bekerja dan mencegah seseorang terkena fenomena otak popcorn (popcorn brain). Penggunaan perangkat digital secara berlebihan, multitasking, dan laju kehidupan modern yang cepat dapat membebani otak. Sayangnya, kurang waktu istirahat dan tidur justru memperburuk kondisi ini.
“Waktu di depan layar yang berlebihan dapat mempengaruhi perkembangan otak yang sehat pada anak-anak dan remaja dalam aspek perhatian, perkembangan bahasa, dan keterampilan fungsi eksekutif mereka,” kata Konselor Kesehatan Mental dan Pendiri Tampa Counseling Place Natalie Rosado. Selain berdampak pada kesehatan otak, Natalie menyoroti penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat mengganggu pola tidur sehingga berdampak pada kesehatan secara keseluruhan, termasuk kesejahteraan mental akibat cahaya biru yang dipancarkan layar menekan produksi melatonin, sebuah hormon yang bertanggung jawab untuk membuat seseorang tertidur.
Hal lain yang ia soroti adalah banyak orang menonton video atau banyak menggunakan gawai sebagai sarana untuk melarikan diri dari kenyataan dan menghindari masalah. Ia mengingatkan bahwa hal ini dapat menghalangi individu untuk mengatasi masalah mereka secara efektif dan dapat meningkatkan tekanan dalam jangka panjang.
“Paparan terus-menerus terhadap gambaran ideal dan kehidupan yang terkurasi dapat menyebabkan perasaan tidak mampu dan rendah diri, terutama di kalangan generasi muda, sehingga meningkatkan risiko depresi dan kecemasan. Menghabiskan waktu daring secara berlebihan dapat menggantikan interaksi tatap muka, sehingga menimbulkan perasaan tidak nyaman, kesepian dan keterpisahan dari hubungan kehidupan nyata,” ujar Natalie.
Guna terhindar dari fenomena “otak popcorn” Natalie memberi saran kepada masyarakat untuk mulai menggunakan aplikasi pelacakan durasi layar yang dapat membantu individu menjadi lebih peduli terhadap kebiasaannya menatap layar dan mengidentifikasi konten apa yang dapat dikurangi untuk dilihat. Ia pun menganjurkan untuk membatasi notifikasi pada gawai agar tiap individu dapat bekerja lebih fokus dan terhindar dari godaan untuk menatap layar jika tidak diperlukan.
Menurutnya, masyarakat juga bisa menemukan bentuk hiburan alternatif yang tidak melibatkan mata menatap layar seperti permainan papan, teka-teki, kerajinan tangan atau aktivitas fisik. Saran selanjutnya yang ia berikan adalah belajar manajemen waktu seperti teknik Pomodoro yang melibatkan interval kerja terfokus diikuti dengan istirahat singkat, membantu menjaga produktivitas dan mencegah kelelahan mental.
“Menetapkan rutinitas yang konsisten membantu melatih otak untuk tetap penuh perhatian selama waktu yang ditentukan. Membagi tugas menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, menetapkan tujuan yang spesifik dan dapat dicapai untuk setiap tugas atau sesi belajar, dan memberi penghargaan pada diri sendiri setelah selesai dapat membantu untuk tetap termotivasi,” katanya.
Batasi Kecanduan Gawai
Ketua UKK tumbuh kembang pediatri sosial Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Ahmad Suryawan Sp.A(K) mengatakan untuk membatasi kecanduan waktu layar anak bisa dimulai dengan meregulasi waktu layar dari orangtua. “Mengurangi screen time orangtua dapat berpengaruh pada screen time anak. Jika kita melarang anak screen time tapi kita tetap screen time itu sebuah gagal total, jadi kita harus mengendalikan screen time orangtua,” ucapnya.
Dokter yang akrab di sapa Wawan ini mengatakan waktu layar atau screen time orangtua tanpa sadar adalah faktor prediktor kuat terhadap perilaku waktu layar anak. Orangtua bisa mulai meregulasi waktu layarnya sendiri dengan mulai mengurangi penggunaan gawai di depan anak. Selain itu, dokter yang menamatkan spesialis anak di Faktultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menyarankan untuk mulai menghindari penggunaan gawai sebelum tidur dan saat waktu makan. Untuk solusinya, Wawan mengatakan untuk mencari alternatif permainan lain saat akan mengurangi waktu layar anak.
“Kenalkan media bermain yang lain di luar screen time, kalau sudah rutin main yang lain baru regulasi screen time-nya, karena kalau nggak ada kegiatan lain anak akan berontak, beri apresiasi saat anak berinteraksi dengan orang lain,” ujar Wawan.
Wawan menjelaskan, waktu layar yang berlebihan pada anak dapat mempengaruhi kemampuan kognitif, gangguan bicara bahasa, dan gangguan perilaku sosial serta emosi karena kurangnya interaksi. Selain itu, fungsi keluarga di dalam rumah juga akan menurun.
Screen time yang berlebihan juga akan mengganggu perkembangan anak di usia selanjutnya. Misalnya jika anak usia 2 tahun memiliki waktu layar berlebihan makan gangguan perkembangannya akan terjadi di usia 3 tahun.
Membatasi waktu layar, tambah Wawan, juga tidak serta merta memperbaiki gangguan perkembangannya dengan cepat, namun butuh waktu untuk bisa membaik 1-2 tahun ke depan. Dampak lain dari waktu layar yang berlebih adalah anak akan mengalami obesitas atau peningkatan indeks masa tubuh di usia selanjutnya. Faktor paparan gawai saat jam makan juga menyumbang penambahan indeks masa tubuh anak secara signifikan yang berakibat obesitas.
“Screen time anak usia pra sekolah berhubungan dengan peningkatan BMI (Body Mass Indeks) atau indeks masa tubuh, dan peningkatan berat badan di usia selanjutnya. Kalau durasi dikurangi tidak lebih 2 jam sehari masih ada peningkatan BMI/jam/minggu,” ucapnya.
Penting juga untuk mengurangi waktu layar pada anak menjelang jam tidurnya karena dapat menekan hormon melatonin endogen yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Kurangnya produksi hormon ini dipengaruhi akibat paparan sinar biru pada layar, baik melalui televisi maupun smartphone. Dari rekomendasi dari American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2016, Wawan mengatakan secara umum orangtua harus teredukasi agar lebih memahami penggunaan gawai sebagai media, dan memahami perkembangan otak anak sangat mementingkan interaksi langsung.
Untuk anak usia di bawah 18 bulan disarankan tidak terpapar gawai sama sekali selain video chat interaktif dan responsif, dan hindari membiarkan anak melakukan aktifitas screen time tanpa pendampingan. Di atas usia 24 bulan, menurut AAP baiknya waktu layar hanya dibatasi maksimal 1 jam sehari dan mempunyai aktivitas lain sehingga tidak bergantung pada gawai. (RN)
